Tampilkan postingan dengan label #CeritaSerial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #CeritaSerial. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 November 2015

Reinkarnasi Masalalu #2

Cerita sebelumnya: Reinkarnasi Masalalu #1

Kata orang, cinta itu dari mata turun ke hati. Kalau Tuhan mengijinkan bakal bisa mengakar ke jiwa lalu jadi bagian dari hidup yang nyata. Jadi mungkin keindahan yang bisa didapatkan dari paduan hidung mancung, bibir merah, bulu mata lentik, dan alis tebal yang jadi wajah berbumbu Arab adalah cinta fase mata. Bisa saja. Dan semoga memang bisa.

Banyak manusia yang setuju soal wajahnya yang menarik dan anggapan kalau dia memang tampan. Apa yang kurang dari tatanan fisiknya? Dia nyaris sempurna. Tubuh tinggi tegap dan langkah mantap (sekalipun tak semantap angkatan bersenjata) serta mata indah yang sembunyi dibalik kacamata. Sosok sedikit polos dan lugu. Lucu saja.

Mengenalnya mungkin bisa membuat gila. Atau mungkin hanya aku yang merasa. Aku tidak tahu. Aku juga tak mau tahu. Aku sedang ingin mencukupkan diri dengan apa yang sanggup kumiliki saat ini. Punggungnya yang berjalan beberapa meter di depanku. Suaranya yang mengiringi langkahku. Bayangannya yang membekukan alam sadarku. Senyumnya seakan menyejukkan dan membuat mata betah menatap lama. Aku merasa gila. Kata teman-teman aku memang sudah gila soal dia. Dan aku tak protes untuk hal satu itu. Aku bisa merasakan kesadaranku luruh perlahan kala mata ini menangkap kelebatannya. Astaga. Sungguh dia sedemikian indah.

Tadinya aku berpikir aku bisa mengaguminya segila yang aku bisa. Tapi pada satu titik, hujan kemarau panjang dan petir siang bolong itu menyambarku, membuatku sadar bahwa dia tak sesederhana yang terlihat juga terbayangkan. Aku seketika patah hati, jelas. Merasa konyol dengan rasa ini yang mungkin saja terlanjur terpatri entah berapa banyak.

Banyak manusia sekolah mengenal dia, dia juga mengenal mereka. Buatku itu tiba-tiba menyakitkan. Aku sering membaca celetukkannya yang memenuhi sosial media. Fotonya tersebar di banyak situs. Senyumnya memenuhi ruang rasaku. Dia benar-benar ramah dan terlampau baik pada semua orang. Itu menusuk, sekali lagi, andai aku boleh mengungkapkan. Tapi aku tahu aku bukan siapanya, jelas. Aku juga cuma salah satu dari (entah berapa) banyak wanita yang mengagumi dia. Aku bersyukur orang lain cuma tahu kalau aku sekadar mengagumi dia. Kadang, anggapan itu mengamankanku. Tapi kadang juga menusuk.

Baiklah, aku sekarang hilang arah.

Apa cinta itu serba salah? Tidak ketika kamu jatuh cinta pada orang yang tepat, katanya. Tentu saja! Tapi orang yang tepat belum tentu dipertemukan dengan cepat. Lantas apa? Aku tak tahu. Dia tak tahu. Kalian mungkin juga tak tahu. Aku tak berharap cintaku terbalas karena dia memang tidak peka. Atau mungkin dia peka hanya masih berhati-hati. Dia kan tak sebodoh aku yang bisa jatuh cinta begitu saja. Mungkin mengaguminya dari jauh dan menyebutnya diam-diam dalam doa adalah cara mencintai paling tulus dan mungkin bagianku cukuplah sampai batas itu.

Selasa, 20 Oktober 2015

Reinkarnasi Masalalu #1

Halo.
Aku sudah cukup lama tahu kamu sebenarnya. Hanya baru malam ini aku memutuskan mulai menyebutmu dalam doa lalu menyempatkan waktu menuliskan ini. Awalnya aku tak pernah berpikir bakal bisa masuk dalam beberapa skenario bersama kamu. Kamu tahu, beberapa tatapan awal takkan menunjukkan sesuatu yang istimewa. Tapi, waktu selalu menyimpan banyak rencana dan rahasia. Dan semua mengalir begitu saja.
Sungguh, tadinya aku berusaha tak mau tahu. Berusaha biasa saja karena ada banyak manusia yang lewat lorong depan kelasku untuk menuju kantin atau lapangan basket atau laboratorium. Tapi aku ragu semuanya tetap bisa disebut biasa ketika aku asyik menulis, mataku cuma terpaku pada buku dan papan tulis, tiba-tiba refleks aku menoleh ke arah lorong. Dan mataku menangkap kamu disana. Hei, aku mulai merasa kamu berbeda.
Wajahmu mulai mengusik, entah mengapa bisa begitu. Kamu mulai manis dipandang, dan menyenangkan untuk diperhatikan. Postur tubuh tinggi dengan kacamata dan wajah arab. Familiar sekali. Astaga, bagaimana bisa aku baru sadar aku satu sekolah dengan manusia setampan kamu?
Jujur, aku merasa bodoh seketika.
Andai aku diijinkan bercerita sedikit mengenai wajahmu, ada bersitan rasa masalalu yang kamu bawa serta di tiap kelebatan bayangmu. Entahlah mungkin cuma aku yang menyadarinya. Aku punya seseorang yang kusimpan dalam lembaran masalaluku. Seseorang yang kusyukuri benar kehadiran nyatanya selama empat tahun silam. Wajahnya benar-benar mirip kamu. Jadi mungkin itu alasan  mengapa aku tak mampu menoleh ke arah lain kala mata ini menemukan kamu.
Seseorang itu satu-satunya manusia yang masih sering kuingat-ingat sekalipun aku tidak berpisah baik-baik dengan dia. Kamu mungkin tahu, melupakan manusia yang memberi banyak kenangan tak semudah yang direncanakan. Sering aku merasa dia telah mati (dalam kiasan), mengatasnamakan kecewa luar biasa yang membuat hati tak mampu lagi disatukan.
Bersama perasaan yang mengatakan bahwa dia telah mati, otakku berjalan menyusuri memori. Sebuah kata muncul, lalu aku tahu, sesuatu terjadi.
Reinkarnasi.
Dapat dijelaskan secara singkat, reinkarnasi adalah keadaan dimana seseorang yang telah mati dapat hidup kembali sebagai kesempatan untuk memperbaiki hidup yang sebelumnya, hanya saja, dalam wujud yang berbeda. Maafkan apabila aku tak mampu mengartikannya dengan tepat, karena mungkin otakku sedang berada dalam keadaan yang salah ketika aku mencari informasi tentang kata tersebut. Mungkin aku terlalu membawa perasaan, entahlah.
Kamu percaya reinkarnasi?
Aku ingin bilang aku percaya sekalipun kamu tidak bertanya.
Aku percaya, karena aku tahu aku suka kamu, dan kamu nyata.

Cerita selanjutnya: Reinkarnasi Masalalu #2

Kamis, 23 Juli 2015

Tentang 'dia' #3

Cerita sebelumnya: Tentang 'dia' #2
—One last time, I need to  be the one who takes you home.
“Jadi, apa salah ketika kamu suka dia, padahal kamu sudah ada yang punya?”
Aku cuma diam.
“Kurasa tidak,” jawabnya lirih setelah tujuh belas detik berlalu. “suka itu masalah hati—“
“Tidak selalu.” Potongku cepat. “Kalau kamu cuma bicara masalah suka atau tidak, itu campuran antara otak dan hati.”
“Apapun katamu saja,” ia menepiskan tangan. “yang jelas, itu masalah subjektif, kamu tidak bisa memaksa hati untuk suka dia, atau siapapun itu, dan soal hatimu sudah ada yang punya atau belum pun tak jadi masalah.”
“Lalu?” aku menaikkan alis. Masih belum paham soal apa yang dibicarakannya, siapa manusianya, dan apa tujuannya.
Dia menarik napas panjang, memandang langit-langit kamarku beberapa saat, dan mulai bercerita.
***
Aku bertemu dia pada suatu senja. Senja yang tidak istimewa, begitu pula sosoknya kala pertama. Aku cuma sempat mengerling sejenak, sekadar memastikan ada manusia di sampingku. Dan sudut mataku menemukan dia. Sosoknya kurus tinggi, wajah lonjong, hidung mancung, bibir tipis dengan warna kulit sawo matang, seperti kebanyakan pria. Sungguh, dia biasa saja. Tak pernah sekalipun aku berpikir bakal punya rasa bahkan mulai percaya untuk titip hati. Lagipula, aku sudah punya kekasih. Tapi sekali lagi, manusia takkan mampu mengendalikan apa yang disebut rasa, hati. Maka, aku membiarkan semua ini berlalu.
Entah bagaimana ceritanya, kurasa sudah jalannya kami dipertemukan lagi. Pikiranku mulai menyerempet hal-hal yang sedikit tidak masuk akal, dan aku mulai memperhatikan dia. Tingkahnya lucu, dia usil dan pembawaannya santai, juga menyenangkan. Aku mulai terpaku, senyum mulai tersungging tanpa kutahu. Aku merasa ada sesuatu yang bangkit, rasa yang lama mati, kini membuka mata dan siap terbangun, hidup lagi, mencari mangsa. Lantas kutepis bayangan itu cepat-cepat. Aku tak ingin satu detik membuatku terlambat.
Tapi Sang Waktu benar-benar hebat. Dibuatnya aku kalah, telak.
Kutatap langit-langit kamarku, sendu mataku menyapu, dan aku tahu, aku telah terjebak rindu. Tapi bagaimana bisa? Aku seketika merasa berdosa. Berdosa karena tak mampu mengendalikan hati ini, dan menghalangi rasa yang memang harusnya tak ada.
Airmataku meleleh pelan-pelan. Jantungku serasa tertohok, dan sesak menyerang. Aku memekik memanggil Tuhan. ‘Tuhan, Tuhan!’ Tolong aku. Rasaku tak lagi sama. Hatiku tertambat pada manusia yang bukan semestinya.
Aku mulai gila. Logikaku gagal bekerja. Tapi kutahu, hati sudah ambil kendali atas seluruh organ dan pancaindera. Mulai kucari segala sesuatu yang sekiranya bersangkutan dengan dia. Apapun itu. Aku mestinya sadar kalau bakal ada kemungkinan dia ada yang punya, karena akupun begitu. Namun, hasrat ini menggebu, tak mau tahu.
Dan halaman semu yang terpapar dari monitorku diutus, untuk membuatku sadar, aku dan dia tidak ditakdirkan bersama.
Hatinya sudah ada yang memiliki. Sungguh. Astaga, bagaimana mungkin aku bisa terima?!
Aku mematung beberapa saat sebelum akhirnya kemampuan menguasai diri bisa kuterapkan dengan benar. Airmata jatuh satu-satu. Tapi aku merasa bahagia. Aku merasa tenang dan lega, karena bisa menikmati apa yang menjadi bagianku. Apa yang harus kucukupkan buat diriku sendiri. Apa yang harus kusyukuri sudah kudapat dan kurasakan selama ini.
Aku membisikkan sesuatu padanya. Kukirim bersama hembusan angin dan karbondioksida yang keluar dari mulutku. ’Biarkan aku mengantarmu pulang untuk terakhir kalinya. Biarkan aku memastikan kamu aman dan baik-baik saja. Setelah itu, aku bakal kembali ke tempat harusnya aku berada. Aku berjanji. Bakal kutarik lembut hatiku, lalu pulang. Sekalipun aku telah kalah, senyumku mengembang, langkahku mantap dan lebar. Aku ikhlas, karena tak perlu aku tertatih dan berdarah-darah.’
‘Untuk kamu, jangan lupa bahagia, ya.’
***
And I know, and I know, and I know
She gives you everything
But, boy, I couldn’t give it to you
And I know, and I know, and I know
That you got everything
But, I got nothing here without you
So, one last time
I need to be the one who takes you home
One more time, I promises, after that I’ll let you go
***


Terimakasih untuk lagu yang mengispirasi, Ariana Grande!

Sabtu, 17 Mei 2014

Tentang 'dia' #2

Mata selalu memiliki tugas untuk melihat.
Namun diperlukan sentuhan yang luar biasa untuk membuatnya ‘melihat’.

Cerita sebelumnya: Tentang 'dia' #1

Kalau ada sekumpulan wanita yang lupa bagaimana rasanya terbang, lupa bagaimana rasanya diperhatikan dan dipertahankan, dimengerti dan dipahami, diperjuangkan dan diprioritaskan, dia adalah salah satunya. Entah mengapa tiba-tiba dia berani mengatakan hal ini. Bisa jadi dia sudah terlalu buta, sudah terlalu terbiasa dengan rasa pedih perih yang setiap hari mampir ke hati. Remuk redam, sakit luar biasa, adalah makanan sehari-hari, yang kalau tak dilahap, rasanya hidup kurang lengkap. Bak mengubah rutinitas bumi yang kerjanya mengelilingi matahari. Entahlah, sampai sebegitu terbiasanya dia.

Aku masih sering mendengar persepsi yang sama. Masih ada banyak manusia disana, terlebih wanita, yang mengatakan cinta itu indah. Tolong jangan berpikir, dia adalah salah satu dari mereka yang berpendapat begitu. Kadang dia tak terima. Buatnya, cinta hadir dalam satu paket. Sedih-senang, suka-duka, tawa-airmata. Sedikitnya ada tiga pasang rasa yang wajib ada. Bak uang koin yang sama-sama penting di kedua sisinya. Tak akan pernah menyatu, memang. Tapi juga tak akan pernah bisa dipisahkan. Kali ini, aku setuju.
Dalam hidup manusia tentu mengenal manusia lain. Selalu diberi kesempatan oleh Sang Tuhan untuk saling berbagi cerita. Takdir di dunia hanyalah datang dan pergi. Begitu pula kisah hidupnya. Ia jelas mengenal dua jenis manusia—laki-laki dan perempuan—dalam jumlah banyak. Ada banyak pula yang istimewa baginya selain keluarga, kekasih, dan sahabat-sahabatnya.

Lelaki itu tak pernah jadi bagian di hidup, awalnya. Bahkan bagaimana semua ini bermula, dia mengaku sudah lupa. Yang masih diingat benar adalah dia tahu lelaki itu sebatas rupa dan nama. Tak ada data yang lebih rinci tentang si pria yang tersimpan dalam otaknya. Katanya data itu lebih dari cukup karena kutahu, dia tak punya urusan dengannya.

Pengetahuannya yang sebatas rupa dan nama, hubungannya yang sebatas tahu saja seketika berubah. Hari dimana ia menginjakkan kaki pada angka enambelas dalam satuan tahun adalah sebuah sejarah. Tidak hanya bergeser satu petak, tidak hanya naik satu tingkat. Mereka, dia dan lelaki itu, berubah seratus delapan puluh derajat.
“Aku sudah pernah melihat kelebatannya. Sudah pernah tahu bagaimana caranya menapaki tanah, langkah demi langkah. Sudah pernah tahu caranya duduk, berbicara, tersenyum, dan tertawa. Sayang, teguran sapa belum pernah ada di daftar kejadian tentang dia, apalagi saling tatap muka dan bertukar cerita.”
Mau tak mau aku terbahak mendengar ada kalimat bak skenario opera meluncur dari bibirnya dan mampir ke telingaku.
                “Jangan tertawa!” mukanya seketika memerah seperti tomat.
                “Maka jangan terlalu puitis!”
                “Aku tidak puitis, aku bicara fakta.” Ia bersikeras.
                “Kamu tidak bicara fakta, kamu bicara rasa, bicara hati, bicara cinta. Jangan pura-pura tolol! Aku takkan menanggapinya sedramatis yang kamu sebutkan.”
                “Terserahlah. Mungkin itu akibat kesendirianmu selama beberapa tahun terakhir.” Katanya ketus.
                “Oh, begitukah?”
Ia hanya mengangkat bahu. Lalu berdiri, melangkah sejauh dua meter dari tempat aku bersila. Masih ada rona kemerahan di pipinya. Dan aku tahu, bahagianya mulai ada. Tersembul malu-malu diantara setiap kepingan rasa sakit yang akhir-akhir ini jadi makanannya. Matanya mulai terbuka. Ia mulai bangun dari tidur panjangnya.

Kadang aku tak mengerti. Sebegitu sulitnyakah cinta dijalani? Entah sudah berapa kilogram hati ia lahap. Entah sudah berapa botol peluh dan airmata rela dibuang, hanya demi satu orang lelaki tak berperasaan. Diam-diam aku merasakan sakitnya. Diam-diam belati menusuk jantungku juga. Tapi, aku bisa apa? Aku hanyalah cermin tempat dia berkaca. Aku hanya perekam suara tempat dia berkata. Aku hanya tanah tempatnya mengubur duka.

Kamu pantas bahagia! Sering aku menjerit dalam hati. Kamu pantas pergi dari manusia yang tak tahu diri. Apa motivasinya memelukmu dengan tangan kanan, dan dalam waktu yang sama, menusukmu dengan tangan kiri? Apa maksudnya ia sering mengecupmu. Tapi bila kamu mau sadar dari mabukmu, kecupannya adalah batu perajam hatimu. Lagi, kalimat itu terhenti di bibir, tercekat di dada.
Setiap hari kini, aku sering melihatnya tertawa-tawa sendiri. Bukan karena jiwanya mulai terganggu. Tapi karena rasanya mulai ditinggal sendu.
                “Ada apa?” tanyaku pada suatu hari, tak tahan dengan rasa ingin tahu yang membuncah.
Ia tak melontarkan satu kata pun, hanya tangannya memberikan handphone itu untuk kubaca. Seketika aku tahu. Ada seorang lelaki yang mendekatinya. Sudah kuceritakan sedikit tentang lelaki penyelamat itu di atas tadi.

Lalu, kulihat seberkas sinar melintas di wajahnya. Matanya seketika terbuka, hatinya hidup lagi dari kematian sang rasa. Aku seakan tak percaya. Kini, aku tahu ia tidak bodoh akan cinta. Ia hanya dibutakan oleh kekaguman yang ternyata malah merobek jiwa.

Bila benar lelaki itu adalah hadiah dari Tuhan untuk ketabahannya selama ini, aku akan ikut bahagia. Bila benar lelaki itu adalah kado yang dibawa malaikat sebagai pengganti dukanya selama ini, aku akan ikut bahagia. Mestinya ia sudah cukup merasakan derita, membuang airmata, menyimpan lara. Ia sudah terlalu rindu untuk bahagia.

Cerita selanjutnya: Tentang 'dia' #3

Rabu, 07 Agustus 2013

Tentang 'dia' #1

Aku mengenalnya sejak lama. Sejak aku bisa mengenal orang lain, orang selain orang tuaku. Dan disanalah dia mulai merasuki otakku. Mulai menjadi manusia yang kurasa lebih dari penting, hingga aku tahu tentang dia seperti aku tahu tentang diriku. Dia tidak terlalu tinggi, sekitar 150 cm, hampir sama denganku. Dulu, dia punya lumayan daging dan lemak di balik kulitnya. Kini semua itu lenyap. Badannya menyusut, bahkan lengan bawahnya seperti hanya terdiri dari tulang dan kulit pembungkus. Matanya cokelat tua, mata asli Asia Tenggara; terlihat tanpa kelopak dengan bulu mata yang pendek, mirip mata dari daratan Cina. Hidungnya tidak terlalu mancung. Dagunya panjang dan runcing, membuat orang mengira dia keturunan bangsawan Mesir. Rambutnya hitam dan fleksibel. Kubilang fleksibel karena tidak selalu bisa dikata ikal, atau lurus, atau keriting. Rambutnya selalu bisa diatur semaunya. Bibirnya tidak mungil, juga tidak lebar, terlalu tebal juga tidak. Dan selalu terlihat berwarna merah tedas. Bila kugambarkan bibirnya adalah apel, maka tiap orang yang melihat apel itu pasti ingin menggigit dan menikmatinya.

Dulu, kuingat dia suka bercerita tentang kehidupannya. Tentang keluarganya. Tentang lukisan-lukisan ayahnya. Tentang sulaman dan rajutan ibunya. Tentang ribuan hal yang dia sukai, juga dia benci. Dia selalu mudah tertawa. Pembawaannya ceria dan menyenangkan. Dari matanya selalu terpancar bahagia. Kini aku sadar semua itu sudah hilang. Kisah terakhir yang dia ceritakan adalah tentang mantan kekasih yang begitu dicintainya. Dan setelah itu, tak ada lagi susunan kalimat yang bisa kudengar darinya. Dia kini sudah berbeda. Lebih banyak diam. Suka menyendiri, sibuk berbicara dengan hatinya yang sering tercabik. Aku tak bisa lagi menemukan bahagia dari sorot matanya. Bahkan saat bibirnya menggores tawa.

Aku ingat, tak ada yang berubah dari tawanya. Tetap renyah lepas dan akan dilakukannya sampai dia puas. Tapi mata tidak bisa berbohong. Aku bisa melihat dengan jelas, ada guratan kesedihan di antara lensa dan irisnya. Alisnya pun sedikit terangkat. Kini, kutahu dia menyimpan sesuatu di dalam hatinya. Rasa sakit yang pedih dia biarkan menumpuk dan memenuhi tiap ruang, bahkan ruang tempat dia meletakkan bahagia. Dari sinilah aku tahu mengapa dia begitu menghindari mataku. Dia tidak ingin orang lain mengetahui bebannya. Aku justru takut, takut kalau suatu saat nanti dia akan sampai pada satu titik yang membuat dia tidak bisa bertahan lebih lama.

Dia adalah seorang playgirl. Sungguh. Aku tidak berbohong karena aku menulis ini atas ijinnya. Dia mengakuinya kok. Dan kurasa orang yang dekat dengannya juga tahu hal ini. Dia biasa punya satu pacar dan banyak gebetan. “Ah cakep banget dia!” , “Masnya yang itu kece ya?” , “Eh, ganteng banget. Kenapa dia nggak jadi pacarku aja?” adalah beberapa kalimat yang biasa kudengar dari dia. Dan sekali lagi, kusadari semua itu sudah berlalu.

Aku mulai merasa jiwa playgirl-nya mundur teratur setelah dia mengenal seorang lelaki yang sekitar 3 tahun lebih tua darinya. Nama lelaki itu unik dan terkesan elite. Selebihnya, dia sama seperti pria pada umumnya. Tapi kurasa, dia sudah jatuh cinta, benar-benar jatuh cinta pada pria itu. Entah apanya yang istimewa, sampai dia tampak menggilainya. Aku yakin, dia pasti akan tetap memilih pria itu meski ada pria-pria lain yang terlihat jauh lebih lebih dan lebih. Kurasa dia sudah menemukan hatinya. Dia sudah menemukan tujuannya. Sesuatu yang selama ini dicarinya. Sebuah cinta. Dia sungguh-sungguh. Dan sepertinya, dari kesungguhannya pada pria itulah dia mulai merasakan sakit luar biasa, sakit yang membuatnya berubah.

Dia sempat terikat suatu hubungan dengan pria itu. Mereka saling cinta, saling berbagi, saling mengerti. Sayang, bahagia mereka terhenti pada hari ke 404. Hubungan mereka terputus, tapi tidak dengan cinta mereka. Aku tahu, dia masih sering mengingat momen bersama pria itu. Dia masih sering memimpikannya, bermain dengan bayangannya yang mungkin tidak akan jadi kenyataan. Sampai pada suatu hari, ketika sepupunya datang, dia punya kesempatan untuk bertemu dengan manusia yang sungguh dicintainya itu.

Aku tahu, bukan main girangnya dia ketika matanya benar menangkap pria itu secara nyata. Saking girangnya, mulutnya yang biasa cerewet, kini jadi bungkam. Tak satupun cerita atau pertanyaan berarti yang bisa diungkapnya. Semua yang ditanyakannya sungguh kedengaran konyol dan bodoh. Tapi kurasa dia tidak benar-benar mempedulikannya. Dia terlalu senang. Dia mendapatkan bahagianya lagi.

Hari itu berakhir dan datanglah hari baru. Kesedihannya (seolah) berakhir dan datanglah senyum baru. Pria itu menawarkan diri untuk menjemputnya. Raut wajahnya mendadak berubah. Mulutnya sedikit terbuka dan sorot matanya minta bantuan. Aku langsung panik.
                “Ini gimana?” tanyanya dengan nada yang sulit kujabarkan.
                “Ini sulit.” Jawabku serampangan.
Dia menghela napas dan mulai menghentak-hentakkan kakinya. Aku tahu, itu berarti dia sedang bingung. Manakah jalan yang harus dipilihnya? Di satu sisi dia sungguh cinta, dia ingin bahagia bisa melihat pria itu lagi, secara nyata. Dia tidak ingin mengecewakan pria itu karena dia tahu, manusia kesayangannya punya rasa yang masih sama. Tapi dia tidak siap dengan semuanya. Dia tidak ingin mengecewakan orang tuanya dengan melanggar aturan mereka. Haruskah dia menolak ajakan si pria? Atau dia nekat mengabaikan aturan orang tuanya?

Dia terdiam. Cukup lama. Matanya menekuni ubin tempat pijakan kakinya. Aku menunggunya. Aku menunggu keputusannya.
                “Aku dijemput papah aja ya.”

Mendadak, semua jadi hening. Angin pun menahan napas mereka. Aku seperti tidak memercayai telingaku. Aku merasa ada yang salah dengan sistem pendengaranku. Tapi itulah keputusannya. Itulah jalan yang dipilihnya. Dia merelakan hatinya remuk redam demi orang tuanya. Dia rela perasaannya tertusuk dan bahagianya tertunda demi aturan keluarganya. Dia memaksa hatinya tega menolak cintanya demi ayahnya, demi ibunya. Padahal, dia sendiri tahu, dia harus kembali ke penantian jika dia mengikhlaskan kesempatan ini.

Aku tahu, luka hatinya cukup parah. Bila aku bisa, aku ingin terjun dalam danau airmatanya. Aku ingin ikut meleburkan diri, asal bisa menyelamatkannya dari semua itu.

Suatu hari, aku melihatnya sibuk dengan urusan dapur. Aku terkejut. Karena kuingat, dia sungguh benci memasak. Dia benci berurusan dengan sayuran. Dia benci berurusan dengan bumbu-bumbu, minyak, dan kecap. Dia benci berurusan dengan gula dan garam.
                “Aku lagi belajar masak.” Ucapnya polos ketika dia melihat tanda tanya besar dibalik tatapanku.
Aku menaikkan alis, masih belum terima dengan penjelasannya.
                “Biar besok kalau aku punya suami, aku bisa masakin dia.”
Oooh, itu alasannya. Aku diam saja. Kutahu, suami yang dia maksud adalah pria itu. Tangannya mulai terampil, meski kadang terlihat kaku. Aku masih terlalu bingung dengan laporan mataku, jadi aku tidak bisa berkata banyak. Aku hanya menatapnya. Memperhatikan gerakan tangannya. Mengamati raut wajah polosnya. Seakan kuingin menyelami hatinya, menemukan kitab cintanya, membaca tentang manusia yang ada di lembar pertama otaknya.

Ah, semakin hari, kurasa semakin berat beban yang ada di bahunya. Tapi kutahu, dia berusaha tampil tegar. Dia berusaha menutupi segala macam dan bentuk derita, sengsara, juga airmata. Di satu sisi, dari diriku sendiri, aku tidak tahan dengan semua itu. Aku tidak tahan melihat dia memikul bebannya sendirian. Aku ingin menolongnya. Aku ingin menyelamatkannya. Aku ingin membawanya pada satu lorong pelepasan yang ujungnya bertemu dengan cahaya Sang Surya. Aku ingin, tapi aku tak bisa. Entah mengapa, aku tak punya cukup kata-kata untuk menjabarkannya.

Dan, inilah dia. Inilah wanita dengan hati penuh pilu sendu. Inilah wanita dengan beban sebesar Gunung Merbabu. Inilah wanita itu, sisi lain dari...aku.

Cerita selanjutnya : Tentang 'dia' #2

Sabtu, 16 Februari 2013

Untuk TUHAN #2

Cerita sebelumnya: Untuk TUHAN #1

Tuhan.
Saya tahu ada larangan bagi ciptaan-Mu untuk membenci sesamanya. Tapi saya tidak bisa menyangkal hal ini. Saya benci ciptaan-Mu satu itu Tuhan. Manusia itu seperti tidak layak mendapat toleransi. Saya tidak habis pikir, mengapa selalu ada kata-kata setajam tombak yang meluncur dari bibirnya. Saya tidak bisa memahami mengapa selalu ada sikap buruk yang mencuat dari dia.

Tuhan.
Engkau pasti tahu segalanya. Engkau pasti paham bagaimana perasaan yang bergejolak dalam hati saya, jauh lebih baik dari saya mengenal hati saya sendiri. Engkau pasti mengerti betapa sakit, perih, dan pedihnya dikritik sepedas itu. Saya memang tidak peduli saya dikritik dihadapan siapa. Saya memang tidak peduli berapa pasang telinga yang ikut mendengar kritik itu. Saya tidak peduli berapa pasang mata yang menyaksikan kisah menyakitkan itu. Tapi Tuhan, tidak dapatkah manusia satu itu berkata dengan lebih halus? Apa susahnya mengatakan, “Lain kali membacanya jangan terlalu cepat. Supaya umat bisa mengerti.” Apa susahnya, Tuhan? Haruskah ada nada sumbang dan keras yang mengiringi? Haruskah ada kalimat pencabik yang keluar?

Tuhan.
Saya sudah cukup mendapat siksaan batin akhir-akhir ini. Saya sudah cukup merasakan pedih perihnya. Saya sudah cukup terbeban. Saya tidak tahu ada peristiwa apa lagi yang menanti saya di depan sana. Saya hanya bisa berharap, Tuhan, semoga tidak ada lagi pil pahit yang harus saya telan tanpa air. Saya hanya bisa berharap, semoga tidak ada lagi pedang bermata dua yang harus terbang untuk melukai perasaan saya. Saya hanya bisa berharap, tidak ada lagi bom waktu yang harus meluluhlantakkan gedung-gedung berharga di hati saya.

Tuhan.
Saya sangat berterimakasih atas pundak-pundak yang boleh menjadi tempat airmata saya. Saya sangat berterimakasih atas pelukan dan rangkulan yang menahan agar saya tidak terjatuh ke jurang kepedihan terdalam. Saya sangat berterimakasih atas mereka. Atas manusia-manusia berhati mulia yang boleh menemani saya dalam lorong waktu tanpa cahaya ini.

Hal terakhir, Tuhan. Semoga ada cukup waktu bagi saya untuk membereskan balok-balok mimpi dan kepingan logam harapan ini.

Jumat, 15 Februari 2013

Untuk TUHAN #1


Tuhan, manusia ini tahu Kau mencipatakannya dengan cinta. Manusia ini tahu Kau memberi cinta untuk bekal hidupnya. Manusia ini tahu Kau mengisi hatinya dengan cinta. Tapi, bagaimana bila hati manusia ini telah diporak-porandakan oleh harapan lebih akan cinta? Bagaimana bila manusia ini telah matirasa akan cinta? Bagaimana bila perasaan manusia ini telah dicabik-cabik penghianatan cinta?

Tuhan, sesungguhnya manusia ini tidak ingin hal itu terjadi pada dirinya. Namun beginilah fakta yang ada. Manusia ini kehilangan cinta. Manusia ini tidak punya cinta. Entah siapa yang harus disalahkan, entah siapa yang harus bertanggungjawab.

Tuhan, ampunilah manusia satu ini. Manusia yang paling tidak bisa bersyukur untuk segala karunia-Mu. Ampunilah manusia satu ini, yang dengan sangat terpaksa harus menolak pemilik hati yang telah mencoba mengobati rasa sakit hatinya. Ampunilah manusia ini, yang seakan tak mampu menghargai usaha pemilik hati yang telah berusaha.

Tuhan, memang manusia tidak akan ada yang mengerti keputusan terbaik. Begitu juga dengan manusia ini. Hanya Kau yang tahu pasti apa yang harus dilakukan. Maka Tuhan, apapun yang terjadi setelah detik ini, buatlah semuanya menjadi indah pada waktunya.


Tangis hati salah satu manusia-Mu,
:”

Cerita selanjutnya: Untuk TUHAN #2

Sabtu, 12 Januari 2013

AKU atau DIA #end

Cerita sebelumnya AKU atau DIA #3

Aku mengambil ponsel.
                To          : Tasya
                       Arvi
       Subject       : gw tunggu lo di atap hotel Ambar jm 4 sore
Senyumku mengembang.
Aku siap.
***
                “Dira?” Arvi muncul dengan wajah bingung. “Dira? Ada apa sayang? Kenapa sms kayak gitu?”
Aku tak menjawab. Mataku masih melihat kendaraan-kendaraan di bawah sana.
                “Sayang? Denger ak...,” kalimat Arvi terputus ketika dia mendengar suara langkah di belakangnya. Dia menengok. Tidak denganku. Meski begitu, bisa kutebak wajahnya pasti memasang tampang kaget.
                “Tasya? Lo..lo ngapain ke sini?”
Tasya tampak tersentak begitu tahu siapa pria yang membelakanginya. Dia gelagapan. Telunjuknya mengarah padaku. Arvi menatapku. Wajahnya terlihat bingung. Sangat bingung.
                “Gue yang nyuruh Tasya ke sini,” kataku mengalihkan pandangan pada mereka.
                “Ha? Mau lo apa sih, Dir? Lo punya urusan apa sama Tasya?” tiba-tiba nada Arvi mengeras. Ia tampak emosi. Aku tersenyum simpul.
                “Gue? Cuma pengen tanya aja kok,” sahutku santai.
                “Soal,.. soal apa Dir?” gantian suara Tasya yang tertangkap oleh telingaku. Aku sempat melirik Tasya. Wajahnya pucat. Mungkin tegang. Mungkin juga takut.
                “Arvian Satyantara,” aku menyebut nama lengkap Arvi. Kuamati wajahnya. Mataku menangkap raut ketakutan yang berusaha disamarkan dengan tatapan sinis. “Gue udah tau hubungan lo sama Tasya,” lanjutku. Kulihat mata Arvi melotot, dan Tasya semakin pucat pasi.
                “Bah! Tau apa lo?” Arvi menantangku.
                “Perlu gue paparin semuanya? Perlu gue ceritain lagi waktu lo sama Tas...,”
                “Enggak Dir, enggak, lo..lo langsung tanya aja,” Tasya terbata-bata. Aku tertawa penuh kemenangan.
                “Oke,” kataku sambil menaikkan kaki kiri ke atas paralon yang mengelilingi atap gedung itu. “Arvi,” panggilku. Yang punya nama mengangkat dagu dan menatapku dengan wajah sombong yang dibuat-buat. “Lo pilih gue ̶ “ aku melirik Tasya. “atau Tasya?”
Arvi tampak tersentak. Tasya juga kaget. Seperti tak menyangka pertanyaan itu akan terlontar dari mulutku. Aku menatap keduanya bergantian.
                “Gue,.. gue..,” Arvi menunduk lama, mulutnya terkunci.
Cukup lama keheningan menyelimuti kami sampai aku angkat bicara lagi.
                “Tasya,” panggilku. Tasya menatapku takut-takut. “Lo sayang sama Arvi kan?” tanyaku. Tasya menunduk. “Jawab jujur aja, nggak papa,” yang ditanya mendongak lalu mengangguk pelan.
                “Bagus,” ujarku. “Biar gue aja yang pilihin,”
Arvi menatapku bingung.
                “Maksud lo, Dir?”
                “Lo sama Tasya aja. Bahagiain dia.”
Arvi melongo.
                “Sya, ambil Arvi, dia buat lo,”
Tasya hanya diam, menunduk tanpa berani menatapku.
                “Terus lo?” Tanya Arvi.
                “Gue? Gue mau pergi,” jawabku acuh tak acuh.
                “Pergi? Maksud lo? Lo mau kemana?”
Aku menatap langit.
                “Gue mau pergi ke dunia yang mungkin lebih baik buat gue. Lo baik-baik sama Tasya ya, jaga dia.” Aku mengambil jeda sejenak. “Bye,” kulambaikan tangan. Lompat dari gedung itu.

Kamis, 10 Januari 2013

AKU atau DIA #3

Cerita Sebelumnya AKU atau Dia #2

                “Tik, menurut lo, apa semua ini ada hubungannya sama yang di bus itu?” tanyaku. Memotong cerita Tika soal Arvi dan Tasya di Pizza Hut Amplaz.
                “Ck,” Tika berdecak. “berarti daritadi lo nggak dengerin cerita gue ya?” dipasangnya tampang kesal.
                “Eh? Enggak, enggak. Gue dengerin kok,” jawabku buru-buru. “justru karena gue dengerin lo, otak gue jalan sampe ke situ.”
Dia mengangkat bahu. “Nggaktau,” jawabnya. “Bisa iya, bisa enggak,”
Aku menghela napas.
                “Kenapa? Lo keliatan takut gitu? Kata Lisa lo udah nggak peduli sama Arvi,” ujarnya santai.
                “Lisa cerita ke lo?” tanyaku.
Tika manggut-manggut. “Iya. Pake emosi segala ceritanya. Lo emang bilang apa ke Lisa? Gue nggak pernah liat dia sepanas itu.”
                “Gue panggang,” candaku.
Tika mencibir. “Gue serius, Dir.”
Aku tertawa. “Nggak gue apa-apain kok. Gue cuman bilang kalo Arvi nggak ngasih kabar empat hari.”
                “Tapi masa kalo lo cuman bilang gitu, Lisa sampe emosi?”
                “Abisnya begitu dia denger, nanggepinnya ngaco sih, pake curigain Arvi segala, kan gue juga nggak suka kalo dia kayak gitu.”
                “Kalo gitu mah elonya yang salah, Dir.”
                “Kok lo jadi ngebelain dia sih?”
                “Ya lo kayak enggak tau Lisa. Dia kan emang gitu. Oke, gue tau gimana perasaan lo ketika pacar lo dibilang yang negatif-negatif. Tapi mau gimanapun, lo nggak bisa nyalahin dia. Omongan dia ada benernya juga kan? Buktinya gue liat sendiri.”
                “Jangan terlalu yakin deh. Siapa tau mereka jalan karena ada urusan.”
                “Astaga Diraaa,” ucapnya gemas. “Lo kesambet apa sih? Bener kata Lisa. Lo emang payah kayak pacar lo. Udah jelas-jelas gue liat mereka seromantis itu, lo masih bisa bilang mereka ada urusan penting? Buka mata hati lo Dir. Jangan dibutakan sama kekecean Arvi. Lo itu kehipnotis, tau nggak?”
Aku hanya diam.
                “Gue ingetin ya, jangan tenggelam di lautan cintanya. Semua itu palsu. Mulai sekarang, lo mesti bisa ngebedain. Lo mesti waspada. Kalo nggak, ya tanggung akibatnya.”

***

Mana Arvi? Sekarang sudah pukul dua siang dan tak ada tanda-tanda kemunculannya di gerbang. Aku sudah menengok kesana-sini. Namun tetap saja, tak ada sosoknya diantara kendaraan yang terparkir atau berlalu-lalang.
Kuputuskan untuk menelponnya. Sebelum sempat kutekan tombol call, hapeku bergetar sesaat. Tanda ada pesan masuk. Kuurungkan niat untuk menelpon. Dan aku membuka pesan itu.

                From          : Arvi
       Subject       : sayang maaf y. aku g bs jmpt.
                       ada urusan pntg. Love u :*

Ada yang berbeda dalam aliran darahku ketika membaca isi pesan itu. Bukan marah. Aku takkan marah jika Arvi tiba-tiba berkata bahwa ia tak bisa menjemputku. Hanya saja, seperti ada sesuatu yang patut dicurigai mengenai maksud pesan itu. Maksud si pengirim.
Aku sudah berusaha menghilangkan rasa curiga. Dan bukan keberhasilan yang kudapat. Aku justru merasa semakin tak percaya pada lelaki itu. Entahlah. Itu hanya persaanku akibat laporan dari Tika, makian Lisa, dan keanehan pada diri Arvi, atau memang faktanya begitu?

***

Apa mataku tak salah lihat?
Aku membaur dalam keramaian untuk mengamati dari dekat. Sepertinya aku mengenal punggung dan gaya rambut itu. Dan wanita di sampingnya... astaga, itu mereka!
Arvi, dengan kesan sayang merangkul Tasya. Dan wanita manja yang menyebalkan itu bergelayut nyaman di lengan kokoh itu. Hatiku memanas, meski aku sudah tahu yang sebenarnya. Kutahan semua perasaan campur aduk dan emosi yang meledak-ledak itu. Kubuntuti mereka dari jarak yang aman. Dan ketika mereka mulai memisahkan diri dari kerumunan orang banyak, pemandangan yang ada membuatku melotot dengan hati dipenuhi rasa tak percaya.
Aku merinding. Melihat bibir mereka saling beradu. Bagai sulur-sulur anggur yang berpelukan. Segera, sesuatu mengganjal kerongkonganku. Aku mau muntah.
Lalu dengan perlahan, aku berbalik dan menjauh dari pemandangan menjijikkan itu. Kucepatkan langkahku menuju warung, atau angkringan, atau apapun juga yang menjual air mineral.
                “Aqua satu mas,” ujarku pada pemilik warung sembari mengeluarkan selembar duit dua ribuan dari dompet. Ia mengangguk dan mengambilkan yang kumau. “Makasih.” Ucapku setelah diberikannya air mineral itu padaku.
Sambil melangkah, pikiranku berputar-putar. Otak masih memajang pemandangan tadi. Sekali lagi aku merinding. Ini sudah keterlaluan. Aku harus mengambil tindakan secepatnya, sebelum pedang yang semakin dalam menusuk dan kabar serta pemandangan yang memuakkan itu terus menjalar ke seluruh pembuluh darahku.

bersambung..

Sabtu, 05 Januari 2013

AKU atau DIA? #2


Cerita sebelumnya AKU atau DIA? #1

Halo?
                Dir, Dir! Gawat Dir!
                Tika? Lo ngapa sih?
                Gawat Dir! Gawat!
                Apanya yang gawat? Lo kalo ngomog yang bener dong, gue bingung ini
                Arvi Dir! Gue liat dia!
                Lo liat dia? Di mana Tik?
                Pizza Hut Amplaz! Dia sama Tasya Dir!
Deg.
                Tasya? Lo serius Tik?
Tut..tut..tut..
                Halo Tik? Tik! Tika!

***

                “Hei, sayang,” tiba-tiba Arvi muncul di balik pintu kamarku. Melihatnya, aku seperti ingin menampar atau melemparinya. Tas, sepatu, buku-buku, bantal, guling, apapun juga. Tapi kutahan semua itu. Aku tahu, belum saatnya mengungkapkan amarah. Aku belum melihat dengan mata kepalaku sendiri tentang kelakuannya di luar sana.
Aku mencoba tersenyum. Dan kalian tahu? Tersenyum setelah kalian mendengar betapa liarnya pacar kalian di luar sana itu sungguh sulit. “Hai,” kataku akhirnya.
                “Boleh aku masuk?” tanyanya lembut. Atau mungkin lebih tepat bila kusebut pura-pura lembut.
Aku mengangguk.
Dia melangkah masuk. Wajahnya masih seperti biasa. Masih terlihat lembut dan tenang. Hanya saja, matanya menyiratkan kegelisahan. Entah tentang apa. Tapi aku bisa merasakannya.
                “Gimana kegiatannya sayang? Banyak tugas ya?” ditanyainya aku sembari tangannya mengelus kepalaku. Dahiku sempat dikecupnya. Pikiranku sempat berkecamuk kala benar sarafku tersentuh tekstur bibirnya. Bukan kebahagiaan yang menguasaiku. Yang ada malah rasa sakit. Sakit karena aku merasa ditipu, dibohongi. Dengan rangkulan ia menusukku, dengan pelukan ia berusaha melukaiku, dengan ciuman ia berusaha menghancurkanku. Sejujurnya aku pilih dia memutuskanku dan mengatakan bahwa dia lebih mencintai Tasya atau wanita lain. Aku pilih itu. Aku pilih dia dengan terus terang berkata demikian padaku.
                “Maaf ya, aku sempet enggak ada kabar, aku sibuk,” katanya lagi meski aku belum menjawab pertanyaannya tadi.
Aku tersenyum kecut. Bukan begitu caranya Vi, kataku dalam hati. Kau menonaktifkan ponselmu tanpa memberitahuku terlebih dulu. Lebih dari empat hari sudah kau tak ada kabar. Apa kau tak tahu betapa paniknya aku mengenai semua itu? Aku memikirkanmu Vi. Aku memikirkanmu setiap hari. Setiap waktu. Aku berusaha menghadirkanmu selalu dalam detak nadiku, dalam hembusan napasku. Apa kau tak tahu betapa hancurnya aku saat Tika memberitahuku, dia melihatmu dengan Tasya di Pizza Hut Amplaz? Apa kau tak tahu betapa sakitnya aku mendengar semua itu? Aku yang setiap hari merapal namamu dalam doa, kau sakiti di balik layar? Memang ada kemungkinan Tika berbohong. Tapi mengingat nada-nada paniknya, sangat kecil kemungkinan untuk bohong. Dan sekarang, ketika aku mulai menetapkan hati untuk menjauh darimu, kau hadir kembali. Kau berkata selama ini kau sibuk sehingga untuk mengabariku pun kau tak sempat. Apa maumu Arvi? Kalau kau tak lagi mencintaiku, kau bisa memutuskanku dengan alasan yang jelas dan terang. Bukan seperti ini! Ini semua akan membunuhku!
                “Kok diem aja sayang? Ada apa? Sakit ya?” tanyanya lagi. Tangannya menyentuh dahiku.
                “Enggak kok,” kutepis tangannya. “aku nggak sakit,” senyumku. “oh, ya, aku membuat ini untukmu,” ujarku mengalihkan pembicaraan. Aku mengambil sehelai kertas HVS yang kuselipkan di buku National Geographic. “Taraaa!!” kubalik kertas HVS itu. Terlihat di sana, Arvi sedang tersenyum dengan sebatang rokok di tangan kanannya dalam goresan pensil.
Matanya membelalak. Mulutnya menganga dan wajahnya terlihat kagum. “Bagus banget!” katanya. Tangannya terulur seolah ingin mendekap gambar itu dan tak melepasnya. Aku memberikan itu padanya. Ia mengamati gambar itu dengan saksama, seperti sedang mengamati gerak-gerik pencuri.
Aku tersenyum melihat tingkahnya. Berusaha terlihat gembira seperti dia yang gembira saat matanya menatap lukisanku. Meski kutahu, cepat atau lambat, aku akan kehilangan semua itu. Cepat atau lambat aku takkan bisa melihat senyumnya, airmatanya, tawanya, amarahnya. Tidak lagi. Aku sadar akan itu. Karenanya, sebelum aku benar kehilangan, kucoba menghabiskan keindahan yang selama ini terpancar dari dirinya.
                “Oh, sayang,” desahnya penuh cinta. Diletakkannya gambar itu hati-hati. Tangannya menarik tanganku, memelukku. “aku takkan pernah bisa menemukanmu dalam sosok lain,” dia mengambil napas. “hanya kau yang ada di hatiku hingga akhir hayatku.”
Airmataku meleleh di bahunya. Kau bohong Vi. Kau tak mencintaiku. Hatimu bukan untukku.

***

bersambung ke AKU atau DIA #3

Sabtu, 29 Desember 2012

AKU atau DIA? #1


Bau solar yang tajam menggelitik satu tempat di hidungku. Asap mengepul dari mulut dan hidung kedua lelaki yang duduk di bangku depanku. Padahal sudah ada aturan untuk tidak merokok di dalam bus. Itu kan teori. Prakteknya? Sudah tentu bisa ditebak.

Dasar orang tak tahu aturan! Umpatku dalam hati. Seperti inikah mental generasiku? Begitu kerasnyakah hati para calon pemimpin bangsa? Payah sekali. Bagaimana nasib tanah air kalau mereka yang dipersiapkan sebagai pendekar ternyata sangat sulit diatur? Aku mengeluh.
Suara bising tertangkap telinga. Hawa panas. Dan udara bersih semakin sulit didapat pada bus kota yang terlihat tua ini.

Sumpek!
Hanya itu kata yang berkali-kali melintas di otak. Tak ada yang sedap dipandang di dalam sini.
pak sopir berkumis tebal, kernet berpakaian biru tua yang sudah lusuh dengan segebok duit di satu tangan dan tangan lainnya melambai-lambai kalau ada orang yang butuh menumpang bus ini, simbok-simbok berbalut kebaya dengan dua karung besar entah berisi apa, tiga orang anak kecil, bapak-bapak berjaket yang asyik dengan dengkurannya, dua lelaki berseragam SMP yang sibuk dengan guyonan ala gondhes dan rokoknya. Satu lagi, ada sepasang kekasih.
Tunggu, sepertinya tertarik juga aku mengamati yang terakhir ini. Mereka duduk di dekatku. Si lelaki bahkan tepat di sebelah kananku, hanya berjarah satu jengkal dariku. Tubuhnya dibalut kaos putih dengan lengan tigaperempat. Jeansnya berwarna cokelat tua. Sepatu basket mengalasi kakinya. Tangan kiri lelaki berambut harajuku ini sibuk menari di atas keypad ponselnya, entah ber-sms-an dengan siapa. Tangan kanan berhias cincin keperakan merangkul si kekasih yang terlelap di bahu kokohnya.
Mataku tergoda juga untuk melirik isi pesan yang tertulis di layar ponselnya. Aku membacanya. Meski tak utuh, kata yang terekam cukup membuatku melotot. Berkali-kali aku mencuri pandang, berkali-kali pula mataku membaca kata yang sama.

Sayang

Itulah kata yang terulang. Aku tak habis pikir. Segera saja otakku dipenuhi tebakan-tebakan yang negatif.
Tiba-tiba si wanita bergerak. Ooh, dia sudah bangun. Secepat kilat aku kembali menatap depan. Suara kecupan dan desahan-desahan bernuansa cinta sempat juga menggelitik telingaku. Membuatku semakin bertanya-tanya. Siapa wanita itu? Siapa lelaki ini? Siapa pula orang yang ber-sms-an dengannya? Apa status mereka?
                “Permisi mbak,” suara lelaki yang keras dan dalam membuyarkan lamunanku. Aku terkejut. Kusingkirkan kaki agar mereka bisa lewat. Si wanita sempat tersenyum padaku. Aku ikut tersenyum menatap langkah mereka sembari menyimpan tanda tanya besar dalam hati.

***

Aku mondar-mandir di kamar. Menghembuskan nafas kesal, lalu melempar ponselku ke atas tempat tidur. Kugigit bibir bawahku. Bingung, curiga, khawatir, berpadu dalam hati. Semakin keras aku berpikir tentang Arvi, kekasihku. Bagaimana tidak? Sudah empat hari nomornya tak bisa dihubungi. Ini keanehan kedua yang dilakukannya. Pertama, sikapnya beberapa waktu terakhir sedikit berubah. Aku tak bisa menyebutkan perubahannya, yang kubisa adalah merasakan perubahan itu.
Aku sempat menanyakannya kepada Joe, Samuel, dan karibnya yang lain. Mereka bilang tak ada sesuatu yang salah dari Arvi. Aku malah dinasihati agar tak berpikiran aneh-aneh. Cepat kuanggukan kepala kala itu. Tapi dalam hati, aku tak mengiyakan. Dan sekarang, nomornya tak aktif. Aku tak tahu apakah kedua hal ini berhubungan satu sama lain. Hatiku bersikeras untuk menaruh curiga padanya. Apalagi ketika kejadian dalam bus kota itu kembali menjalar dalam benakku. Aku seperti punya indera keenam mendadak. Aku seperti detektif yang sedang mengumpulkan beberapa data yang cocok. Aku seperti diberi penglihatan. Percaya atau tidak, aku tak sanggup menekan pikiran-pikiran negatif itu.

                Tok! Tok! Tok!
Aku menoleh pada pintu kamarku. Siapa di luar sana?
                Tok! Tok! Tok!
Kali ini lebih keras.
                “Masuk!” ujarku. Terdengar suara kriek dan sebentuk kepala menyembul di balik pintuku.
                “Hai Dir,” senyumnya mengembang.
Aku mengangguk. Kutepuk kasurku, tanda menyuruhnya duduk di situ.
                “Lo ngapa sih? Mukak lo panas gitu?” tanyanya setelah mengamati raut wajahku yang tampak berbeda.
                “Kesel,” jawabku singkat tanpa menatapnya.
                “Kesel? Hm. Jangan bilang ini gara-gara si badung itu,”
                “Memang dia kok,”
Matanya melotot.
                “Beneran,” kataku meliriknya.
                “Ck!” dia menggelengkan kepala. “Dia ngapain lo?” tanyanya. Raut wajahnya terlihat khawatir.
                “Gue nggak di apa-apain,” aku menarik napas. “dia cuman nggak ngasih kabar, empat hari.”
Matanya melotot lagi. Aku bisa melihat raut kemarahan yang tergambar di pipinya yang memerah. “Itu namanya lo udah diapa-apain!” teriaknya. “Dia pacar lo Dir!”
                “Memang dia pacar gue,”
                “Ah lo!” dia berpaling. Berusaha menekan amarah yang bergejolak di dadanya. “Lo nggak usaha apa-apa buat hubungin dia?” nadanya sedikit melembut.
Aku menggeleng. “Nggak,”
                “Astaga Dir! Lo tu sama aja tau nggak! Lo sama begonya! Pacar lo nggak ngasih kabar empat hari, lo diem aja! Iya kalo dia nggak macem-macem, kalo dia jalan sama cewe laen gimana? Kalo dia nembak cewe laen gimana?”
                “Lisa!” teriakku gusar. “Mulut lo di jaga ya, lo nggaktau siapa Arvi!”
Kulihat wajahnya semakin memerah. Ada dorongan amarah yang menguasai hatinya. “Dira! Denger gue ya, gue tau siapa pacar lo! Gue tau latar belakangnya! Gue tau kehidupannya!”
                “Loe nggak usah nyebut-nyebut soal latar belakangnya!” tak kalah keras aku berteriak.
                “Terserah!” dia mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu. “Gue udah meringatin lo, dan lo sama begonya sama dia, jangan salahin gue kalo dia emang kaya gitu!”
Brak! Ditutupnya pintu dengan kasar.
Aku termenung. Kalimatnya masih berputar-putar di otakku. Kata-katanya seolah menyadarkanku di antara lorong-lorong waktu. Aku benar-benar merasa panas akan lontaran-lontarannya. Namun tak bisa kupungkiri, hatiku membenarkan ucapan-ucapannya. Hanya saja aku terlalu gengsi untuk mengakuinya. Aku terlalu gengsi untuk ikut mengatakan aku mencurigai Arvi.

***

bersambung ke AKU atau DIA? #2