Tampilkan postingan dengan label #Daily. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #Daily. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Juli 2016

Terhalang jarak, terjebak waktu

Aku tiba-tiba menangis. Tak cuma satu dua tetes sampai kepalaku pening dibuatnya. Aku tak tahu persis apa yang kutangisi. Hanya saja aku merasa rindu rumah.

Aku rindu ayahku. Meski kalau di rumah sedikit lama kami cuma ribut, masalah sepele. Misalkan mengapa aku tak menjawab ketika ditanya ibuku. Atau mengapa aku tidak mau menyapu. Atau mengapa aku tidak diperbolehkan sarapan dengan telur dan bawang bombay. Tapi kalau terpisah jarak begini, yang tiap hari bermusuhan berbalik dipenuhi kenangan. Ngomong-ngomong, ayahku sedang apa, ya?

Aku rindu ibuku. Meski kalau di rumah kami hanya berdua yang ada adalah bisu sekian lama. Aku akan sibuk di kamar bermain dengan seperangkat alat gambarku, dan ibukku akan tenang diam termangu di balik jendela, menatap keluar dimana mata bisa menangkap bayangan pohon kamboja. Atau ibukku akan tiduran sembari tangannya memegang dahi. Huh. Aku jadi kesal sendiri mengingat semua itu ketika jarak tak bisa ditoleransi.

Kalau saja jarak Yogyakarta-Jakarta cuma sejauh Yogyakarta-Solo, kupastikan aku menghambur kabur menuju rumah. Tak perlu kubawa baju ganti atau uang terlampau banyak. Dan tak perlu aku sampai tidur di angkutan umum. Tapi jarak membentang sekitar 600 kilometer dan aku terjebak rindu.

Sempat terbesit aku ingin menelpon, tapi kemudian aku takut. Aku sadar betul tidak mampu menahan airmata. Aku lebih mudah menahan tawa daripada turunnya airmata. Sesungguhnya pagi tadi beliau sudah telpon dan menanyakan sampai mana proses kuliahku. Tapi menjelang malam ini aku diganggu dengan hati yang tak tahu diri. Aku rindu ayahku. Aku ingin menelpon dan bodohnya aku takut. Takut di tengah pembicaraan aku tak mampu berkata-kata lagi karena terhambat tangis dan beliau tak ada disini untuk benar-benar memelukku dengan tangannya. Itu akan tambah meresahkan. Siapa yang tahan mendengar tangis tanpa bisa memeluk?

Jadi ini rasanya. Rindu yang paling menyakitkan adalah yang seperti ini. Aku bisa berkata demikian karena dalam hidupku, rindu pacar adalah rindu bodoh yang tak perlu lagi diingat. Aku merasa  tak perlu menangisi lelaki lain. Aku lebih baik menangis mengingat ayahku dan ibuku dan betapa aku harus sedemikian kerja keras demi menggoreskan senyum di bibir mereka.

Menyelesaikan tulisan ini aku menangis sampai entah berapa lembar tisu terbuang. Setelahnya, aku tak tahu harus bahagia atau sedih. Hatiku masih terasa mati tapi aku bisa meraba perih.

Oh. Aku benci.

Tapi setidaknya perlu kusyukuri aku tak sedang dalam belitan tugas yang harus selesai besok pagi jadi aku bisa menangis puas dan memeluk bantal sedemikian erat lalu tidur, dan besok kudapati mata sembab dan memerah.

Ngomong-ngomong, ada yang punya obat rindu?

Rabu, 06 Juli 2016

Kupikir kamu lebih dari itu

Statusmu bersamanya membuktikan sesuatu: kamu ternyata semurah itu.

Kemarin aku sedang terseret arus sosial media dan tangan seperti ada yang mengarahkan untuk membuka profilmu. Lalu, aku bertemu sesuatu. Mata menangkap deretan huruf dan dari sana aku tahu, tak lagi berselimut sendiri hatimu. Detik selanjutnya tak ada rasa patah yang menyambar. Aku tak paham mengapa. Tapi seakan dunia tahu, berita yang demikian bisa membuat aku heboh tak karuan. Bukan karena sakit hati, bukan karena kecewa parah. Tapi aku menemukan titik terang kesimpulan dimana segala pesona borjuis dan selera mewahmu luruh di satu waktu. Kini aku tahu, kamu semurah itu.

Otak lantas memutar kenangan lalu. Ia sibuk menggeledah loker lama soal kamu. Semua rekaman, dokumen, berkas dipaksa keluar. Aku perlu menyatukan potongan-potongannya untuk kembali menekuni urat hati dan mencoba mencari tahu soal kamu. Sunggingan senyum tak mampu kuhindari dan aku tak paham mengapa. Biasanya aku akan merasa patah tepat di dada. Lalu ponselku akan dipenuhi curhatan tentangmu. Foto-fotomu dengan wanita lain. Riwayat halaman dunia maya mengenai kamu. Sebangsa itu. Tapi fakta yang ada, aku cuma bertahan menatap layar ponsel dan sibuk mencari tahu soal kabar terbarumu, sedang hatiku? Mati.

Aku tak tahu harus bersyukur atau justru menangis pedih. Bukan soal kamu, tapi soal hati yang lupa punya rasa. Teman-temanku lelah berkata dan mencaci maki soal kupunya hati, tapi tanpa rasa. Akupun lelah dengan kalimat-kalimat mereka. Bukan mauku begini. Tapi begini lebih baik buatku sekarang. Aku pasti lebih konyol kalau masih saja berkutat soal kebiasaan menangisi kamu. Kamu. Yang bahkan mengingat namaku saja mungkin tidak. Sudahlah. Berita baru tentangmu jauh lebih menarik daripada membicarakan hatiku yang mulai mati dicekik panas terik.

Selanjutnya, potongan-potongan puzzle mulai tersusun. Fakta itu terpampang jelas. Dan bila aku jadi reportermu, aku tahu, kamu tak mampu mengelak.

Aku bukan hakim apalagi Tuhan. Aku tak punya hak menyimpulkan sesuatu bahkan mengetok palu keputusan. Tapi bagaimanapun juga, sebagai calon psikopat, oh maksudku psikolog yang baik, aku berusaha belajar menyatukan pengetahuan demi satu kalimat temu: kamu semurah itu. Sungguh!

Oh bukannya aku jahat. Tapi segala kicauan di sosial mediamu dan kekasihmu sekarang cukup membuktikan bagaimana wataknya dan apa yang kamu rindukan hingga keputusanmu jatuh pada dia. Dia tidak cantik. Meski cantik itu relatif, semua orang tahu mana saja yang bisa digunakan sebagai tolok ukur kecantikan seseorang. Kalau kamu mau bersikeras, aku berani jamin hatinya juga tak cantik. Jadi outter beauty dan inner beauty tak ada padanya. Lantas, apa yang kamu cari?

Tahap selanjutnya aku sampai pada suatu peryataan yang aku tahu kamu pasti setuju meski bibirmu membisu. Kamu tidak mencintai dia, kamu cuma butuh badannya demi puas nafsu. Tak usah menghindar, kamu tak perlu ingkar. Semua yang kenal kamu bisa tahu apa yang kamu buru dan cumbu. Oh aku benci mengatakan ini. Wanita itu punya sikap macam kamu. Semua manusia yang dia bisa sayang tentu disayang. Sesama wanita tak masalah. Tapi, laki-laki? Baiklah. Laki-laki tak luput dari perhatiannya. Kamu berusaha cemburu meski aku tahu, hatimu tak punya waktu untuk itu. Aku sampai kehabisan kalimat dalam kasus ini. Segalanya telah jelas! Tinggal tunggu waktu agar orang tahu, seberapa gila dan murahnya kamu.

Badannya bagus. Dia mencapai body goals dengan ukuran tertentu yang buat kamu puas. Ditambah rambutnya badai tak main-main, kulitnya putih bersih. Cocok dengan seleramu. Lagi aku senang. Kamu terdakwa main perasaan.

Selamat, Arjuna.

Kamu demikian pandai dalam membuat wanitamu bahagia dalam tanda kutip. Pandai pula menunjukkan ke orang lain seberapa buruk sesungguhnya seleramu.

Semoga kamu masih punya cukup otak untuk tak berbuat yang “sungguhan iya-iya” sebelum waktunya!

Kamis, 23 Juni 2016

Kepada kamu yang kurapal dalam rindu

Mestinya kamu tak perlu pernah hadir kalau akhirnya pergi dan berkata, “Maaf, hati kita tidak tertakdir.”

Selamat malam, Arjunaku sayang. Aku tak menyangka bakal terjebak lagi dalam lautan kebodohan. Terjatuh dalam lubang yang sama soal kamu dan perasaan. Aku merasa aneh. Aku sadar betul kamu berengsek dan tak perlu dirindukan apalagi diperjuangkan. Tapi hati menarik kuat dan ia telah selesai mencipta medan gravitasi super hebat hingga aku terjeratlogikaku sekarat.

Segalanya dimulai dari siang bolong hari itu, tiga pekan sebelum Ujian Nasional, yang berarti tiga bulan lalu. Aku sadar benar bakal terjadi sesuatu, tapi seperti yang telah kutuliskan, logikaku tak mampu pegang kendali dan hati ternyata bisa sedemikian tak tahu diri. Aku mengiyakan ajakanmu dengan sadar, dan berusaha berpikiran positif soal misi utama kita saat itu: BELAJAR. Harusnya aku bisa mengantisipasi kemungkinan terburuk yang bakal terjadi. Tapi sekali lagi, logikaku seolah mati.

Hal yang paling kutakutkan bukan soal kekerasan fisik yang bisa saja kualami, aku lebih takut soal penyiksaan batin yang secara halus kamu lakukan. Nyatanya toh fisik kita sama-sama baik, hatimu pun pula. Tapi tidak dengan hatiku. Keluar dari kamarmu, sepulang dari kostmu, aku menyadari sesuatu. Rasa lama mulai timbul dan aku tahu darimana itu muncul.

Orang bilang tak pernah ada kata terlambat, kecuali kita terjebak situasi dimana hati telah parah tertambat. Dan kita tak ketemu suatu cara untuk keluar dan kembali menjalani hidup dengan sehat. Demikianlah aku. Terlunta-lunta tak berdaya. Mengemis pedulimu dengan sia-sia. Aku bodoh, aku tahu. Tapi aku sungguh peduli soal kamu. Mengapa kamu tak pernah mau tahu?

Kamu cuma memikirkan bahagiamu. Kamu cuma peduli soal kamu. Kamu cuma paham nafsu. Baik, aku tahu lelaki jaman sekarang apalagi yang bergaul terlalu lama dengan dunia malam memang punya sikap dasar yang payah. Aku tahu. Dan tak pernah sekalipun aku menyalahkan dan menyayangkan itu. Hanya saja aku sedikit menyesal kamu terbawa arus. Kamu baik sesungguhnya. Kamu menyenangkan selebihnya. Kamu bodoh, selanjutnya.

Arjunaku sayang. Bila aku adalah Tuhan maka yang pertama kulakukan adalah meniupkan kalimat penyadaran agar manusia setampan dan sekece kamu jangan sampai salah arah. Tapi aku tercipta sebagai manusia yang kini penuh dosa. Lalu aku bisa apa?

Arjunaku sayang. Kamu takkan pernah tahu hati ini telah tertambat pada manusia seberengsek kamu. Dan kamu jahat macam begitu saja aku tak mampu berpaling. Apa jadinya kalau kamu bertahan dalam sikap yang baik? Bisa-bisa aku hangus jadi abu sebelum mata ini menangkap kilaumu. Ah, kamu seindah itu. Aku tahu kamu takkan pernah tahu.

Arjunaku sayang. Bila tiba saatnya hatimu betulan terpikat, aku selalu berdoa wanita beruntung itu adalah aku. Semoga, doaku tak terlampau tinggi agar aku bisa tahu rasanya jadi seseorang yang selalu kamu cari.

Selamat malam, Arjunaku sayang.

Jangan jahat-jahat. Sakitnya diabaikan itu bukan kepalang.

Jumat, 10 Juni 2016

Aku Beku

Bahagia adalah soal waktu, dan aku mencoba jadi orang yang percaya soal kalimat itu.

Halo. Aku sedang singgah di kota orang. Sedang berusaha menikmati hari-hari tanpa pekerjaan di ibukota kebanggaan Indonesia, yang katanya punya jutaan cerita yang sayang kalau dibuang. Aku tak punya kegiatan tetap. Setiap hari aku cuma bangun siang lalu mandi, makan, tidur, dan beruntung apabila bisa keluar jalan-jalan. Tapi itu jelas membosankan. Bosan di rumah, kalau mau keluar yang ditemu cuma lelah. Aku tak tahu, pun tak paham.

Aku sadar kalimatku mulai bodoh. Tapi sungguh aku  tak ada ide baik untuk dituangkan. Tadinya aku lari kemari demi cari bahagia buat hati. Karena rasanya, Jogja yang kata orang indah dan berkah buatku justru kerap mengundang amarah. Entah. Aku mungkin terlampau banyak kecewa dan terlampau cepat merasa kalau aku selalu jadi pihak yang ditinggalkan. Sendirian. Meringkuk di sudut yang tak mau peduli orang ikut. Aku merasa payah. Jadi, kuputuskan berlari menjauh, dan kini keputusanku telah setengah tempuh.

Sayang, bahagiaku justru meluruh.

Aku tak paham, lagi. Aku mulai bingung soal bahagia yang selama ini kucari. Aku benar butuh pertolongan atau cuma terjebak dalam kebosanan? Aku tak tahu. Tak ada yang tahu. Tak ada yang perlu tahu. Hidup manusia telah dipenuhi paket rasanya masing-masing. Mungkin kita tak perlu saling cerita agar beban tak merajalela seperti drama Korea yang betah betul orang menonton dan membuang sia-sia airmata.

Aku merasa telah menyadari sesuatu.

Oh, aku terjebak rindu.

Kedengarannya konyol. Tapi hati berkata hingga raga tak mampu bersuara. Rindu itu menggebu dan membuat kelu. Aku merasa benci akan segala sesuatu. Adakah yang perlu dipertanyakan dari rindu itu? Tak ada yang menjawab. Bahkan kulihat rumput bergoyang yang oleh Ebiet G. Ade jadi pelampiasan pertanyaan pun hening, tak bergeming. Semua terpaku. Dan tanda tanya besarku ikut beku.

Aku benar terjebak rindu. Manusia dari Banjar itu ternyata bisa membuat otak kepanasan dan hati kalangkabut tak karuan. Lantas, apa sekarang? Kita dipisahkan oleh jarak. Dan yang paling parah, berada di hatinya pun aku tidak. Bodoh, memang. Aku tahu. Namun bila kutanya, soal hati siapa yang tahu? Tak akan ada jawaban yang kutemu.


Aku rindu! Dan mengapa harus kamu?

Sabtu, 30 April 2016

Pada Akhirnya

Aku telah lama menghilang dari hari-hari satra yang sempat kunikmati sedemikian serius. Tiba-tiba saja semua perasaanku pergi, hingga kemampuan menulisku lenyap. Aku yang biasanya betah membuat manusia lain yang membaca tulisanku menangis, atau ikut pedih, kini tak punya nafsu bahkan cuma untuk menyalakan pc dan membuka MS Word. Lalu, aku berusaha hidup wajar setelah kejadian patahku itu. Satu hari yang cukup membuat airmataku berderai parah, sedihku tumpah, dan rasaku―seperti biasa―hilang arah. Tak banyak yang kuingat. Yang jelas aku merasa segores luka itu ada akibat cinta paling bodoh yang membuatku buta. Aku jatuh cinta dan bahagia, lantas berduka. Manusia yang kupilih itu entah bodoh, entah payah, entah gila, entah saking biasa saja bisa demikian tak paham, padahal aku telah menuliskannya dengan huruf yang besar, berteriak dengan kencang, supaya dia menyadari: aku ada.

Tapi toh, rasa tinggal rasa. Usaha, dalam kasus ini, sia-sia.

Maka kuputuskan berhenti dari segala perjuangan paling bodoh yang pernah kulakukan. Yang tak berhasil sedikitpun. Dia pergi, jauh. Ke dunia yang tak mungkin kutempuh. Aku takut saja, kalau kupaksa, nanti hatiku melepuh, lalu aku tersungkur jatuh. Ditertawai semut, cicak, tikus, kecoa, dan bakteri. Oh, bodoh benar.

Baiklah. Sebenarnya aku masih bingung darimana aku harus memulai, menuliskan semua ini. Terlampau banyak yang kulewati. Terlampau banyak yang berusaha kupendam dalam-dalam atau kulempar jauh-jauh. Semua terasa begitu menyakitkan. Mungkin aku terbawa perasaan. Jadilah, kuputuskan melenyapkan rasa, jadi orang yang tak peduli, acuh tak acuh dengan manusia lain―mereka yang membuatku patah. Aku mulai berjalan pelan-pelan menikmati dingin malam yang ternyata sejuk benar kalau dirasa tanpa rasa. Aku menghirup udara surya dan ternyata semua lebih hangat dan bersahabat kala rasa tak lagi melekat. Aku berpikir aku telah bahagia.

Suatu hari di antara hari-hari tanpa rasaku seseorang datang. Seorang teman lama yang katanya, dia suka aku. Aku sebenarnya tak peduli. Oh, maksudku, aku sungguhan tak peduli. Tapi aku merasa aneh ketika dia tak lelah menyapaku, baik secara maya maupun nyata. Dia bilang kalau aku jahat, sekarang. (Sebenarnya aku telah lama jahat, hanya saja tak terlalu kutunjukkan. Karena tanpa kutunjukkan saja sudah banyak yang mengataiku psikopat. Apalah jadinya nanti, entah.) Dia mengutarakan pendapat dan keheranannya karena kini aku tak lebih dari robot. Tak berperasaan. Aku menertawai dia, dan kuiyakan, aku memang sedang jahat, betulan jahat. Aku bilang aku lelah jadi korban perasaan. Tertatih-tatih memperjuangkan cinta dan pada akhirnya dibuang, sia-sia. Aku capek harus membuang tenaga cuma demi mendapat balasan dari dia yang kusuka. Buatku sudah saatnya aku yang tertawa diatas derita orang. Masa iya sampai esok nanti aku lagi yang ada di bawah. Orang bilang, hidup adalah roda yang berputar, bukan? Maka ijinkan aku diam tenang diatas, menikmati bahagia yang terlewatkan karena aku terlampau banyak buta soal cinta.

Dia lalu bertanya, tak adakah cinta di hatiku? Aku bilang, ada. Tentu masih ada! Cuma permasalahannya, cinta itu takkan kutiup sia-sia ke depan orang yang kusuka. Cintaku akan kusimpan rapat dalam hati, dan kupersembahkan buat yang selalu ada buatku selama ini: Tuhan dan keluarga. Aku ingat, telah lama aku hidup bodoh dan saatnya aku kembali untuk mempertanggungjawabkan cinta mereka yang seringkali kuabaikan. Aku harus kembali dan mulai benar-benar mengasihi Dia, dan mereka.

Temanku itu diam, begitu lama. Kutahu, ada kecamuk kalimat dalam otaknya yang tak mampu bibir berkata. Tak kuhitung berapa banyak detik berlalu, sampai dia mampu mengatasi kelu.
        “Kamu mungkin benar-benar mati rasa,”
Oh, sungguh! Aku bahagia mendengarnya. Eh, kini aku perlu bertanya, aku tak sakit jiwa kan, ya?
      “Entah. Mungkin iya. Aku toh tak peduli, siapa peduli?”
      “Aku peduli,” katanya, berusaha tegas.
      “Eh?” aku menatapnya lekat-lekat. Dia mengangguk.
      “Aku peduli, dan aku akan selalu disini menunggu segala rasamu kembali.”
Aku harus tertawa keras mendengarnya.
      “Jangan bodoh!” teriakku. “Aku takkan punya rasa lagi, aku tak peduli, terserah manusia lain mau bilang apa, kamu mau bilang apa. Aku lelah jadi bodoh, aku mau jadi pintar. Pintar soal perasaan. Pintar soal paham, orang lain tak sebaik yang kita kira.”

Dia menatapku sabar. Lalu dijelaskannya kalau aku bersikap demikian justru aku terjebak dalam kebodohan yang lebih dalam. Dia berkata pelan-pelan kalau aku sebenarnya cuma terlalu banyak sakit hati, dan dia menyesalkan, mengapa semuanya membuatku begini. Aku heran, aku saja tak menyesal, mengapa dia harus merasa seperti itu?
Dia melanjutkan, katanya, aku harus berusaha menemukan rasaku dan hidup berdampingan tanpa dendam dengan semua orang. Tentu aku tak mau! Buatku nyaman begini. Nyaman tanpa rasa, kita tak perlu menangis sia-sia.

Aku berusaha pelan-pelan berkata padanya, ini adalah keputusanku, dan sesungguhnya aku tak jadi sejahat itu. Aku cuma menghapus rasaku untuk lelaki dan wanita selain keluargaku, dan selain yang telah kuanggap keluarga, juga selain temanku―yang baik. Aku menutup hati untuk orang lain. Tapi buat yang telah kusebutkan, aku masih ada. Aku masih sedia jadi kawan, kakak, dan saudara buat mereka. Aku tak ingin membuang waktu buat orang lain. Biar aku bahagia dengan keluargaku, karena ada titik-titik yang mengajariku:

Sejauh apapun kita melangkah pergi, cuma keluarga, tempat untuk kembali.

Sabtu, 30 Mei 2015

Kopi Sabtu Malam

Aku sibuk mereka-reka suasana macam apa yang bakal kuhadapi nanti. Terlalu banyak bayangan berkecamuk, berputar-putar, dan otak belum dapat bantuan dari hati untuk bisa menyatukan segalanya tepat di satu titik. Halte itu belum dapat terwujud. Dan yang lebih menyebalkan, Waktu berjalan malas-malasan seperti manusia kurang tidur yang baru saja bangun tidur. Lalu sibuk mengingat-ingat mimpi. Melamun. Topang dagu. Tolonglah, Sang Waktu. Apa perlu kusiram air agar jarummu bergerak normal?
Setelah kurasa telah lama menunggu, manusia kesayanganku akhirnya datang. Senja, angin, dan sisa cahaya surya membawa hati untuk siap bertemu kesimpulan. Maka timbullah sebuah tanya: akankah ekspektasi kali ini berbanding lurus dengan realita?
Aku harus puas dengan berharap: semoga.
Dan, disinilah aku.
Pintu terbuka, semerbak harum kopi datang ke hidung, diterjemahkan dengan baik oleh otak, dan menjalar memenuhi benak. Entah mengapa, aku merasa senyaman berselimut saat hujan. Mataku bergerak horizontal, menangkap apapun yang memungkinkan untuk direkam dan disimpan otak. Tempat ini demikian kecil untuk manusia yang banyak tingkah seperti aku. Tapi percayalah, hati yang mulai mencintai kopi bakal puas bisa singgah disini. Dan kalau saja aku tak mampu menguasai diri, kupastikan kakiku bakal tetap diam di tempat, dan entah berapa menit lewat disitu. Bagaimana mungkin lantai kayu biasa bisa memberi kesan yang begitu istimewa? Seperti memelukmu, kaki ini tak rasanya tak mau beranjak.
Sebagai pemula untuk urusan kopi, aku masih belum pandai memilih mana yang sekiranya bisa bersahabat baik dengan lidah dan lambungku. Lalu, setelah menimbang dan sedikit memeras otak, hatiku mengarah pada espresso. Dan itu saja yang sanggup kupilih. Tolong jangan tanya aku minta jenis kopi aku yang kumau, atau aku bakal diam melongo, sungguhan tak mengerti. Apa sajalah, kataku. Yang penting jangan terlalu berat karena lambungku bisa saja meronta sampai sekarat.
Mataku masih belum puas melihat apapun yang kelihatan di ruang ini. Dan meja di pojok belakang dengan kursi yang masuk golongan tinggi untukku bisa jadi perpaduan yang manis. Kini, waktu jadi terlampau cepat berlalu.
Segalanya ada disini. Aroma, tulisan, perabot-perabot dan apapun yang belum pernah menjamah otakku sudah antre minta tiket masuk. Bisakah sabar? Aku sedang sibuk menata bahagia hati ini.
Seketika otakku macet dan aku megap-megap mencari udara. Yang kuhadapi kini sulit dilukiskan dengan kata-kata. Aku cuma bisa mengemut pelan-pelan, padahal yang harus masuk sebanyak ini. Sekarang aku paham, adakalanya senyuman dibalik bekapan, teriakan tertahan dan mata yang berkaca-kaca mampu bercerita jauh lebih baik dari deretan kata.
Kopiku datang. Kopi sungguhan kali pertamaku. Oh Tuhan, kalau saja di tanganku ada mesin laminating, kalau saja ada kamera jatuh dari langit dan menembus langit-langit, kalau saja ada serbuk Tinkerbell dengan bahan utama sari bunga edelweiss, pasti bakal kuabadikan semua ini.
Pelan-pelan, aku menikmati aromanya. Arabika. Tajam dan menggoda. Entah mungkin aku terlalu berlebihan, tapi aku merasa perlu melakukan semua ini, seperti ritual. Ah, memang aku terlalu.
Bibirku mendekat, aroma dan panasnya mulai bersahabat. Sampai lidah mencecap. Gila! Aku jatuh cinta pada detik pertama. Rasa asam dan pahitnya terlampau kuat, pekat, namun memikat. Jalarannya menyebar cepat seperti bisa. Lagi, otakku macet semua terlalu indah dan aku belum pernah merasa sebahagia ini.

Seketika pahamlah aku, kopi dan bahagia ternyata sudah lama berjalan pada satu jalur dengan arah yang sama. Seketika sadarlah aku, mengapa sekian banyak orang jatuh hati pada si biji istimewa. Seketika tahulah aku, senja, angin, dekapan, Sang Waktu, macam-macam aroma dan segala hipotesa yang tadi betulan memenuhi otak dan benak, berlari bersama menuju satu titik untuk akhirnya pecah, melebur, meluber, dan melebar bersama dengan datangnya satu simpul ini: kopi sabtu malam.
Terimakasih, Kopi Ketjil dan kamu!

Kamis, 30 April 2015

Foto

Hari ini aku pusing. Aku bingung mau ngapain. Besok libur, dan belajar tidak perlu didasarkan pada “besok sekolah”, “ada tugas”, dan “ada ulangan”. Tapi sungguh aku beneran malas.

Aku lalu ingat, aku masih punya setumpuk rekaman momen yang belum kupindah dari memori kamera ke pc. Jadi kulakukan itu. Memindahkan foto-foto amatiran dan sok menyeleksi, siapa tahu aku ketemu yang lumayan bagus, lalu aku terinspirasi.

Aku nggak tahu mau ngapain lagi setelah itu, jadi aku iseng buka-buka folder, terus aku lihat foto-foto jaman dulu. Dulu, belum bahulak.

Aku ketemu banyak foto mama.

Aku lihat mama diabadikan dengan banyak pose dan ekspresi. Aku jadi mengingat-ingat. Kapan ya terakhir aku jalan sama mama?

Aku benci bilang, tapi hati kadang menunggu untuk diakui, dan rasa setia berharap agar diungkapkan. Aku sering iri kalau aku lihat teman-teman bisa jalan bareng keluarga mereka, kayak teman satu geng yang bisa fullteam. Kayaknya asyik. Kayaknya juga sudah bukan kayaknya. Ah aku jadi engga ngerti aku ngomong apa. Pokoknya aku iri. Aku tahu kok, iri itu dosa. Tuhan engga suka. Tapi aku cuma berusaha jujur. Kejujuran adalah segalanya, bukan? Aku harap persepsiku tidak salah sekalipun jaman sudah berubah.

Aku kangen bisa jalan sama mama. Kemana aja deh. Kangen bisa ke gereja sama mama. Aku harap bisikanku sampai ke Tuhan, karena aku engga cukup berani buat bilang keras-keras.

Mama cepat sembuh, ya?

Maaf tulisan ini memang agak beda. 
Aku nggak bermaksud puitis, cuman ngomongin fakta.
Aku juga engga tahu barusan sudah ngomong apa saja.
Kalo engga suka ya enggapapa. Hak semua manusia.


Hidup kan penuh pro dan kontra.

Rabu, 09 Juli 2014

I will miss my Bernadeta's Day

Hai.

Ini mungkin tulisan paling absurd, gajelas, bisa jadi juga konyol yang pernah gue buat dan akhirnya nampang pula di blog. Beneran nyimpang dari gaya-gaya tulisan gue yang (kata orang-orang sih) puitis gitu. Selalu berakhir dengan vokal yang sama. Kalimat panjang membingungkan. Dan selalu juga ngomongin rasa sakit. Entah sakit dikhianati, ato sakit nusuk diri sendiri. But, it’s okay, sometimes orang perlu jadi gila biar bisa disebut dan dianggap manusia. Haha. Ngomong apasih ya gue ini.

Gatau juga sih ini tulisan temanya apa. Yang jelas ga ada cinta-cintaan di sini. Karena gue baru putus cinta (so what) dan nggak minat nulis soal ati, sementara ini. Sedih sih, tapi apa pentingnya coba ya dibahas terus. Move on dong! Itu yang paling sering temen gue celetukin ke gue, sampe panas ni kuping kalo perlu. Nah, berdasar saran mereka yang singkat padat jelas tapi susah itu, gue mencoba move on. Asli nih, gapake paksaan sampe disumpah serapahin (apasih ya) hahaha. Okay, lupakan deh ya. Lagian tadi gue bilang kali ini tulisan sesuka gue, no ati, no cinta. Tanpa aturan, ga perlu puitis, yang penting gilanya keluar! Peduli amat orang bilang huehehe.

Oiya, gue naik kelas sebelas loh. Cepet banget ye, perasaan juga kemaren lagi akrab-akrabnya sama si biru-putih, belum lama juga kenalan sama si putih-abu-abu. Eee sekarang udah kelas sebelas aja. Gatau ini waktunya emang ngebut atau gue yang kebanyakan ngebo. Warna-warni kelas sepuluh gue sudah berakhir. Yakin deh, belum apa-apa udah kangen aja gue sama itu kelas. Kangen juga sama lantainya yang enam hari dalam seminggu gue injek-injek. Sama kursi yang jadi tempat parkir pantat gue selama pelajaran, sambil ngantuk-ngantuk dengerin gurunya entah nyerocos apaan hahaha. Kangen sama meja gue yang gue ciumin kalo tidur di kelas, gue orek-orek, gue kenain lem, gunting, penggaris, tip-ex, cutter juga. Kangen sama tembok yang gue pukulin, gue sandarin, gue tempelin pipi juga pernah loh hahaha. LOL. Sama semuanya deh, sampe AC, kipas angin, LCD proyektor, papan tulis, spidol sama penghapusnya juga boleh.

Selain barang-barang kecil, setengah kecil, setengah besar, sampe yang besar, yang ada di kelas, yang kadang dipandang sebelah mata dan sering dibacotin anak-anak emosi (padal mereka ga salah apa-apa) gue juga bakal kangen sama pelajaran yang ga bakal gue dapetin lagi di kelas sebelas ini. Iya, seriusan. Jadi ceritanya, menjelang UKK alias Ujian/Ulangan Kenaikan Kelas, sekolah ngasih kita-kita ini semacam angket gitu. Gatau sih ya namanya angket ato ada nama yang bener. Pokoknya itu, gue pastiin kalian tau maksut gue apaan. Nah, isinya soal suruh milih antara dua mapel. Pokoknya kelas gue suruh milih mau mapel Geografi ato Sastra Inggris. Asli dah, itu kertas selembar bikin gue galau seharian sampe nyaris gabisa tidur juga, tapi akhirnya gue ketidur juga sih hahaha. Pokoknya nyiksa lah! Entah, gue cembetuuuuut aja seharian. Bingung mau pilih yang mana. Dua-duanya asik buat gue. Gue nyambung, menikmati, enjoy lah. Pokoknya gue suka semua. Tapi gaboleh nyabet semua! Dih gue sebel sama temen-temen gue yang tanpa puyeng langsung milih. Gue minta saran ke siapa-siapa. Mulai dari bokap-nyokap, sampe semut juga gue tanyain. Kalo keluarga sih nyaraninnya Sastra Inggris karena Sastra Inggris jelas lebih universal, kalo temen-temen diluar sekolah nyaranin Geografi, dengan alasan anti mainstream! Si semut-semut entah nyaranin gue apaan, karena suara mereka terlampau keras jadinya gue malah ga denger. Alamakkkk…

Detik-detik menjelang pengumpulan itu kertas itu apa namanya, dengan amat sangat berat hati, gue memilih Sastra Inggris. Merelakan diri pisah sama Geografi. Dan plis, sakitnya tuh disiniii *nunjuk perut karena maag gue kambuh*. Okelah, itu kertas itu apa namanya dikumpulkan. Dan gue menyesaaaaaaal sejadi-jadinya, apalagi pas terima rapor, karena disono, nilai Geografi gue lebih tinggi dibanding Sastra Inggris! O iya, gue juga gabakal ngerasain gimana diajarin sama Pak Puji. The best teacher ever! Dia ngajar Geo kelas sebelas! Okesip.

Baiklah, pada akhirnya sampai juga gue di masa-masa liburan, istirahat sejenaklah, bikin tenteram si otak, kesian suruh mikir terus. Dan liburan ini gue kagak kemandos-mandos dengan alasan persiapan buat acara ulang tahun gereja yang ke-80. Dateng boleh lho, acaranya besok minggu tanggal 13 Juli 2014 jam 08.00 pagi yes. Cari tau sendiri dimandosnye hahaha. Terus liburan ini karena ngadem doang dirumah, melayang-layang juga pikiran gue. Terus gue keinget deh, kelas sepuluh ini saking dihapalinnya gue sama guru Geografi, Mr. Jon (tersayang huhahahaha) gue dikatain anaknye. Dan entah kok ya bisa-bisanya pelajaran Geografi selalu jatuh di hari Kamis. Mau pelajaran diacak kayak gimandos juga tetep di Kamis. Selalu Kamis. Sampe akhirnya, sekelas memutuskan bahwa Kamis bukan lagi Kamis, tapi Bernadeta’s Day. Karena ada pelajaran Geografi itu tadi. Jujur aja, pas mereka pada nyorakin gue dengan hal-hal yang berhubungan dengan Geo, entah pelajarannya, entah gurunya, gue sebel berat. Jadi males mau jawab pertanyaan, ato mau usul apa kek. Asli gue sebel. Panas kuping denger mereka sorak-sorak kayak lagi suporteran gitu. Rasanya pengin cepet-cepet naik kelas, terus entah gimana caranya pokoknya menghindar dari sorakan-sorakan itu. Ah ya, namanya juga manusia, masih bocah lagi, se gue, ketika harapan udah mulai tercapai, malah pengin balik lagi, terus sembunyi.

Bener kata orang, kita bakal ngerasa kalo (orang, hal, tempat) itu bakal berharga, bakal indah, ketika kita tau, kita gabakal lagi ketemu. Pas kesempatan kita untuk bersua dengan itu-itu masih banyak, kita justru sebel. Bisa jadi sampe ngumpat, nyumpah nyerapahin ato apalah. Tapiiiiiii ketika bakal berakhir, baru nyadar deh. Baru nyesel. Baru kangen. Dan itulah yang terjadi sama gue sekarang. Nggak ada lagi pelajaran Geografi. Nggak ada lagi acara bahas unsur-unsur tanah, ketinggian suatu daerah dan pengaruhnya terhadap suhu dan kelembaban udara, cara ngitung (lupa apanya) gempa pake Rumus Laska, mengelompokkan cuaca berdasar iklim matahari ato iklim fisis ato iklim Junghuhn, dan lain sebagainya. Asli, itu semua berharga banget, dan gue baru nyadar sekarang.

Gue juga bakalan kangen bisa sekelas sama manusia yang berharga juga buat gue. Padahal dulu kalo sekelas isinya ribuuuut melulu. Gue teriakinlah, gue abisin makanan di rumahnya, gue seret-seret, gue gandulin, semuanya, kisruh pokoknya ahaha. Dan mulai kelas sebelas ini, gue pisah sama merekaaaaa *lalu nangis* mereka menjatuhkan pilihan ke Geografi, dan dipindahlah di kelas nun jauh disono. Bukan selisih 1 kelas ato malah jejer, seperti bayangan gue. Ah.. nyesel pasti dateng telat ya, kalo di awal namanya pendaftaran! Hahahaha.

Mmmm apalagi ya. Bingung gue mau ngomong apalagi. Ya pokoknya intinya itulah. Gue kangen sama semua hal yang udah pernah mampir ato tinggal sementara di hari-hari kelas sepuluh. Dan semua sudah selesai! Mari membuka lembaran baru di kelas sebelas. Kelas baru, lima teman baru, pelajaran baru, guru-guru beberapa juga ada yang baru pastinya. Dan gue mau berterimakasih buat semuanya yang Tuhan kasih ijin ada di hidup gue. Maaf buat yang lalu, buat overacting gue, kegilaan kita, dan satu tahun kurang ini. I will miss you all! *cipok basah*

Rabu, 07 Mei 2014

16th

Saya tak akan menulis panjang-panjang kali ini. cukup sederet kalimat terimakasih untuk kalian, manusia-manusia istimewa. Tanpa kalian, mungkin saya takkan lagi menikmati krim pada kue ulang tahun milik saya sendiri. tanpa kalian, mungkin saya takkan menghargai injakan kaki pada angka enambelas dalam satuan tahun. Terimakasih, sungguh. Atas siratan kepedulian yang sedia kalian bagikan.






Saya bukanlah siapa-siapa, tanpa perhatian, kasih, dan keikhlasan kalian.
Sekali lagi, terimakasih.

ClaraAningAnjanettaAnisyaDinaNiaMentariMutiaraOki :)


With Love,

-Litha-

Minggu, 15 Desember 2013

Dari Para Binatang

Dari elang, kita belajar keperkasaan
Dari rajawali, kita belajar keberanian
Dari harimau, kita belajar keuletan
Dari buaya, kita belajar kesetiaan
Dari merpati, kita belajar ketulusan
Dari kijang, kita belajar kepekaan
Dari cheetah, kita belajar kecepatan
Dari katak, kita belajar kekompakan
Dari tikus, kita belajar kecerdikan
Dari lalat, kita belajar kegesitan
Dari kupu-kupu, kita belajar keindahan
Dari lebah, kita belajar mengambil keputusan
Dari tarantula, kita belajar ketahanan
Dari belalang sembah, kita belajar kesabaran
Dari iguana, kita belajar ketenangan
Dari gajah, kita belajar kesetiakawanan
Dari semut, kita belajar kepatuhan
Dari kuda, kita belajar kekuatan
Dari nyamuk, kita belajar keheningan
Dari ikan angler, kita belajar diam

Dari TUHAN, kita belajar segalanya

Rabu, 17 Juli 2013

MOPDB 2013

Ini tulisan yang saya buat khusus untuk MOPDB 2013. Saya akan sampai pada penghujung biru-putih dan akan segera bertemu dengan putih-abu-abu pada tahun ajaran baru ini. Selamat membaca, selamat memahami, selamat mengapresiasi:)


15 JULI 2013

Semangat Senin:)
Ini adalah hari pertama MOPDB pertama saya di SMA NEGERI 1 KASIHAN. Mulai hari ini, saya harus mengucapkan selamat tinggal pada libur panjang saya. Saya harus rela berpisah dari waktu bangun siang saya. Saya harus rela berjarak dari tidur larut malam saya, demi hari ini.
Saya datang dengan balutan jaket, perasaan was-was dan takut, juga badan sedikit demam. Sudah banyak ekspresi kakak kelas yang saya dapat hari ini. penasaran, tidak peduli, datar, dan masih banyak ekspresi yang singgah sejenak di kepala saya. Dari saya pribadi, saya yakin ekspresi wajah saya masih sama dengan Sabtu kemarin. Celingak-celinguk seperti anak hilang. Mata meliar kesana-kemari mencari teman seangkatan seperjuangan.
Sepertinya, saya kurang beruntung. Akhirnya saya putuskan utnuk  menapaki anak tangga demi anak tangga, sembari berharap, sudah ada manusia yang saya kenal di ruang X-A.
Dinginnya AC langsung menyerang tubuh saya yang lebih hangat dari biasanya ini. Tapi saya tidak begitu peduli akan semua itu setelah mata saya terkunci pada manusia yang saya kenal. Sebersit senyum saya gores dan kaku melangkah lebih cepat.
Sejenak, bel masuk berbunyi.
Hari penggemblengan sudah resmi dimulai.
***
                “Nametag-nya dibawa?” pekik saya setengah tidak percaya. Astaga, saya tidak suka pada tugas satu itu. Tugas yang mengharuskan kami berpose aneh-aneh. Namun, apa boleh buat? Saya harus mematuhi semua itu demi terhindar dari hukuman, yang saya yakin, pasti bakal lebih aneh-aneh.
Dan, sembari menahan wajah yang mulai memerah, saya, juga teman-teman berjalan menuju GOR Sasana Among Putra yang langsung membuat saya jatuh cinta. Ini bukan kali pertama saya memasuki sebuah GOR. Tapi ini adalah kali pertama saya memasuki GOR milik sekolah saya sendiri. Milik sekolah saya sendiri! Betapa bangganya!
Sungguh, sulit bagi saya menyembunyikan bahagia.
Sungguh terlalu mudah untuk jatuh cinta pada pandangan pertama.
***
                “Permisi, Pak,” suara halus merambat memasuki telinga saya. Spontan, kami menoleh. Seorang gadis dengan kulit putih, bibir merah dan berkerudung melongokkan kepala ke dalam kelas. Ketua MPK yang jelita itu datang. Wali kelas saya segera mempersilakannya masuk untuk membawa nametag kami lalu memeriksanya.
Jujur, saya tidak berharap banyak. Saya hanya berdoa, apapun yang akan terjadi setelah pengoreksian nametag itu, saya dapat melaluinya dengan baik. Itu saja. Tidak lebih.
Cukup lama kami menunggu dengan perasaan yang tidak bisa dijabarkan satu-persatu. Dan, sesegera setelah anggota MPK itu datang lagi, penghuni kelas saya (kecuali wali kelasnya, karena beliau sudah selesai mendampingi) seperti sudah diberi aba-aba untuk menahan napas secara bersama.
Percayakah kalian, hanya ada empat orang siswa di kelas saya yang nametag-nya sesuai dengan yang diinstruksikan. Dan salah satunya adalah saya! Ibarat balon, saya pasti sudah meledak dan udara di dalamnya langsung kabur entah ke sudut mana dan setinggi apa.
Saya bahagia.
Ternyata demam yang biasanya memberi pengaruh negatif, kini membawa dampak positif. Saya lolos, hari ini. saya berharap bisa lolos pada hari-hari berikutnya.
Saya rasa, cukup bagi saya untuk berkicau. Besok saya akan datang dengan celotehan beda kisah.
Selamat hari Senin:)
.LTA.


16 JULI 2013

Salam Selasa:)
Saya cukup kelelahan hari ini. entah mengapa MOPDB hari ke-2 begitu memeras tenaga saya. Kegiatan hari ini diawali dengan semacam “pendalaman iman” atau apalah itu namanya, sesuai dengan agama masing-masing. Masih dengan badan sedikit demam, saya dan ke-6 teman (kalau nggak salah) berjalan menuju ruangan yang sudah ditetapkan untuk acara ini.
Jujur, saya tidak begitu memperhatikan guru pendampingnya, atau petugasnya, atau acaranya. Saya terlalu sibuk memandangi hal-hal di sekitar saya. Kakak kelas, teman dari kelas lain, pemandangan luar, bahkan sampai jendela juga meja dan kursi tidak luput dari bidikan mata saya.
Acara selesai, padahal pikiran saya belum kembali pada hal yang mestinya saya perhatikan! Tapi, sudahlah. Setidaknya raga saya ada di ruangan itu. Orang lain percaya saya ada di situ, meski pikiran saya jalan-jalan sampai keluar ruangan.
***
                “Eh, dek, buat yang baru dateng, diary buat PRA MOPDB-nya dibikin, ya.” Salah satu kakak kelas tiba-tiba membuka mulut.
Saya langsung kaget. Dan saking paniknya, ide yang biasanya saya simpan, kosakata yang sudah saya hapalkan, lari semua tanpa seijin saya.
Belum sempat saya memutuskan kalimat seperti apa yang kira-kira cocok untuk dijadikan pembuka, kami sudah diminta turun dan menuju GOR, mengikuti acara selanjutnya.
Sesungguhnya, pada acara di GOR itu, saya bisa mengikutinya sembari memeras otak lalu menuangkannya dalam bentuk tulisan. Tapi entah mengapa, hal yang biasanya mudah kini berubah jadi begitu sulit.
Acara sudah berjalan lebih dari 60 menit dan saya masih terhenti pada kalimat, “Selamat pagi, Dear Diary:)”
Oke, tampaknya ini benar-benar sulit.
***
                “Dek, buat yang PRA MOPDB-nya belum selesai nggakpapa. Yang penting MOPDB hari pertamanya udah.”
Ah, syukurlah. Seketika kepala saya serasa dihembusi angin segar dan semua rasa panik saya mundur teratur. Berbarengan dengan itu, tenaga saya turun drastis, seperti handphone yang mengalami low battery. Konsenstrasi saya hilang dan saya merasa sangat lelah.
Waktu seakan mengejek saya. Ia seolah berjalan melambat seperti tanda tempo yang berubah secara bertahap (meski faktanya itu jelas tidak masuk akal). Dari Moderato, jadi Andante, lalu geser lagi jadi Andantino.
Saya berusaha bertahan, dan syukurlah, sekali lagi saya berhasil.
Saya pulang (dengan wajah ditekuk berlapis seperti orang kalah perang, haha).
Selamat hari Selasa Malam:)
.LTA.


17 JULI 2013

Hari terakhir MOPDB 2013.
Selamat pagi:)
Pagi ini saya datang tanpa demam yang sudah setia dengan saya selama empat hari. Haha. Acara pertama masih sama dengan kemarin. Dan lagi-lagi saya tidak memperhatikan sepenuhnya. Bukan karena pikiran saya kabur lagi, tapi karena saya terlambat masuk ruangan.
Setelah acara pertama sampai pada penghujungnya, kami kembali ke kelas. Mempersiapkan juga mengompakkan untuk pensi nanti.
Saya tidak begitu nyaman dengan mars-nya, juga dengan yel-yel-nya. Tapi ini sudah ditetapkan dan saya harus ikut berlatih.
Dan, begitu perwakilan mencoba berlatih, seketika bibir saya tertarik. ‘Ini akan membanggakan.’ Bisik saya dalam hati.
Sekarang, saya ada di aula, sedang memeras otak dan berjuang keras menyelesaikan diary ini, haha.
Sebentar lagi pensi akan dimulai. Bersamaan dengan itu, MOPDB 2013 akan sampai pada titik akhirnya.
Cukup sekian, ya.
Saya berharap semua pengalaman saya selama tiga hari ini bisa membantu saya menapaki anak tangga, menuju satu tahap yang disebut dewasa:)

.LTA.

Selasa, 19 Maret 2013

Saya capek. Saya lelah. Saya suntuk.



―Seperti tubuh, hati dan otak juga punya titik lelah.

TPM 1 Kota Yogyakarta. Try Out  UASBN. Ujian Tengah Semester 2. Ujian Praktek. TPM 2 Kota Yogyakarta. TPM 1 Provinsi DIY. USBN. Ujian Sekolah. TPM 2 Provinsi DIY. UN.

Membaca jadwal di atas saja sudah membuat saya capek. Sebelumnya saya tidak pernah mengalami yang seperti ini. Saya rasa waktu kelas 6 SD, ujian yang saya hadapi tidak beruntun seperti sekarang ini. Memang saya sudah tidak ingat jadwal ujian yang dulu. Tapi saya masih bisa ingat kalau tubuh, hati, dan pikiran saya disiksa seperti ini.

Rasanya sulit benar mencari waktu luang pada akhir-akhir ini. Jadwal ujian yang beruntun tentu membuat saya harus belajar terus menerus. Saya tahu, seharusnya saya tidak kebanyakan mengeluh karena belajar sudah menjadi kewajiban saya. Tapi entah mengapa saya merasa tertekan dan tersiksa. Ujian-ujian yang telah terjadwal serasa menghantui setiap sudut pikiran saya. Materi-materi yang ternyata belum saya kuasai seperti mengejar-ngejar saya bak selaksa polisi mengejar satu maling.

Pada dasarnya saya suka belajar. Ada rasa cinta ilmu yang sudah larut pada setiap tetes darah saya. Meski demikian, saya tetap tidak bisa dan tidak minat belajar saat saya capek. Saya tidak bisa menguasai materi ketika mata saya kekurangan cairan. Saya tidak bisa memelototi dan memasukkan rumus ke otak ketika saya mengantuk.

Saya lelah. Saya suntuk. Sungguh. Saya ingin istirahat. Sementara di depan saya ada setumpuk tanggungjawab yang harus diselesaikan.

Minggu, 17 Maret 2013

Skenario-skenario Penyiksa



―Ternyata ada kalanya hati harus dikorbankan demi kebahagiaan manusia lain. 

Ini kali kedua saya harus mengorbankan hati saya untuk sebuah skenario gila. Sebuah rencana adegan untuk mengerjai orang yang berulang tahun. Saya harus siap dengan segala ketidaknyamanan pada rencana yang ada. Kalau ditanya, sesungguhnya saya tidak suka. Tapi apa boleh buat? Ini demi sahabat saya sendiri.
Skenario penyiksa pertama terjadi pada bulan Februari tahun ini. Kala itu, sahabat saya sendiri yang berulang tahun. Dia memang tidak punya pacar, tapi ya ada seperti kekasih hati. Yang disebut orang jaman sekarang gebetan, atau sejenisnya.

Maka untuk membuat ultah E (sahabat saya) menjadi lebih seru, R (si gebetan) dan BM (temannya si gebetan, teman sahabat saya, teman saya juga) menghampiri saya pada suatu hari. Mereka menjelaskan serinci mungkin tentang rencana yang sudah mereka susun lebih dari 50%. Dari awal, perasaan saya sudah tak enak. Dan perasaan itu semakin bertambah ketika ada rencana tambahan yang harus diselipkan. Sampai-sampai terlontar dari mulut saya sebuah kalimat protes. Sayangnya semua nada-nada muak saya tidak bisa mengubah rencana gila itu barang satu adegan saja. Tapi yasudahlah. Lagipula ini demi sahabat saya sendiri. Demi senyuman dan kebahagiaan di hari ulang tahunnya.

Dalam skenario ini, saya diharuskan berpura-pura jatuh cinta pada R, begitu juga sebaliknya. Dan saya harus menjauhi E selama lebih kurang tiga minggu. Anda tahu? Menjalani semua itu adalah sulit. Apalagi dalam dunia nyata.

Dan bila anda jadi saya kala itu, bagaimana perasaan anda ketika anda diharuskan akting jatuh cinta setengah mati pada manusia yang sama sekali tidak anda suka?
Tapi pada akhirnya, semua ditutup dengan senyuman dan tawa tanda bahagia. Dan saya sungguh bersyukur atas semua itu.

Skenario kedua, baru selesai hari Sabtu kemarin. Kali ini, saya harus mengikhlaskan Arka “dipinjam sebentar” oleh W (sahabat saya yang lainnya) untuk mengerjai A (pacar W). Disini, saya harus rela bermusuhan dengan Arka. Tidak melihatnya, tidak menganggapnya ada. Tapi setidaknya, skenario yang ini tidak sebegitu menyiksa seperti yang sebelumnya. Dan saya bersyukur mengenai hal itu.
Indah, juga menjadi penutup skenario ini. Pada akhirnya baik sutradara, aktor, aktris, klien, dan si korban sama-sama tertawa bahagia.

Yah, memang terkadang hati harus dikorbankan demi kebahagiaan manusia lain :”)