Tampilkan postingan dengan label #Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #Fiksi. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Februari 2015

Satu Paket Hujan

Antara almond dan asia. Belum pernah kulihat rambutnya benar-benar pergi dari wajah, jadi aku tak tahu dia punya tipikal mata yang mana. Sekalipun kantor kami bersebelahan, bukan berarti aku punya cukup waktu untuk memperhatikan dia, matanya, garis wajahnya. Dan halte ini adalah satu-satunya pilihan terdekat untuk menunggu jemputan. Meski besi-besi penyangga sudah tua, cat mengelupas dan berkarat, ditambah gerimis tipis menemani detik-detik yang hening ini, aku akan bertahan. Tepat disini. Demi menunggu dia pulang.

Aku bisa saja langsung tancap gas, kembali ke rumah. Menemukan tempat tidurku dan berselimut ditemani secangkir cokelat panas. Alunan musik klasik dan rintik hujan adalah perpaduan yang dahsyat untuk menenangkan hati. Tapi kurelakan semua itu. Ada yang lebih penting buatku daripada langsung pulang. Sekalipun itu berarti menghemat waktu dan tenaga, aku perlu menemukan jawaban atas keingintahuanku.

Aku lupa sejak kapan aku mulai tertarik memperhatikan dia. Bukan mata yang pertama memikat, karena sudah kusebut tadi rambutnya terlalu lebat hingga menutup setengah dari masing-masing matanya. Aku tertarik dengan parfumnya, tubuhnya yang kecil dan tinggi itu. Entah mengapa bisa begitu. Orang bisa saja menyimpulkan aku tertarik dari fisik, bukan hati. Tapi perkara rasa ini, bukankah sudah ada yang mengatur? Tak peduli dari segi mana saja kita mulai penasaran.

Gerimis membuat banyak orang menjatuhkan pilihan mereka di halte ini. Aku jadi sibuk memperhatikan dan memberi tempat bagi penghuni dadakan yang datang dan pergi silih berganti. Aku lupa sudah menggeser duduk berapa kali hingga jarakku dan dia mendekat. Seketika aku senang dan sedih. Senang karena aku akan tahu tipikal matanya. Sedih bila nanti aku jadi terpikat. Karena kata orang cinta adalah rasa yang dari mata turun ke hati.
“Dre?”
Suara tak asing mengganggu irama hujan yang melintasi kuping, memanggil namaku, aku pun mendongak. Lelaki berperawakan tinggi besar dengan kulit sawo matang dan kacamata tebal tengah menunjukku dalam jarak kurang dari satu meter. Teman dekatku dari SMP tiba-tiba muncul di depanku tanpa perlu bim salabim. Aku spontan berteriak. Dan suasana hangat memenuhi benak. Senang betul ia mengenaliku sekalipun kacamatanya dipenuhi butiran air hujan. Aku tenggelam dalam cerita bersama sahabatku. Bagaimana masa SMA nya di luar kota, kuliahnya demi mendapat gelar magister, dan kisah cintanya.

Entah sudah berapa menit berlalu dan sahabatku tiba-tiba saja mendapat telepon untuk segera pulang. Jadi dia pamit. Kini aku ingat lagi untuk memperhatikan sekelilingku.

Hujan telah reda.

Dan wanita itu sudah pergi.

***

Pagi ini aku bangun dan hal yang kuingat pertama adalah hujan. Manusia yang kuingat pertama adalah wanita dengan mata misterius itu. Rasa yang kuingat pertama adalah kecewa. Dan inti dari semuanya adalah: ada rasa sakit yang mulai mengusik kala waktuku mulai habis demi penantian yang sia-sia bersamaan dengan datang perginya hujan yang seakan satu paket dengan wanita itu.

Aku bahkan merasa lelah.

Kalau saja semua benda di sekelilingku bisa kutiupi serbuk ajaib Tinkerbell atau salah satu peri dalam serial Barbie, mungkin aku takkan serapuh ini. Sayang, aku hidup dalam dunia yang terlalu nyata. Dan mungkin satu-satunya hal yang paling tidak masuk akal adalah yang berbau mistis. Seperti hantu yang menyamar jadi manusia, atau manusia yang berharap jadi hantu untuk misi tertentu. Sering aku berharap punya hari yang menyenangkan, dan dalam kamusku, berarti gabungan antara dunia nyata dan imajinasi, tanpa perlu hal yang mistis. Tapi itu sungguh mustahil. Dan aku tak pernah lagi menceritakan khayalanku itu. Aku hanya tidak ingin lagi dianggap bukan lelaki sejati. Apa yang salah dari khayalan tentang peri dari seorang laki-laki?

Lalu hal kedua yang kuingat adalah aku mulai meracau.

Sedangkan hal yang paling tak bisa kupercayai adalah ketika aku merasa gelisah karena seorang wanita yang bahkan, melihat wajahnya secara utuh pun aku belum pernah. Tapi rambutnya yang selalu tergerai kadang tertiup angin, badannya yang kurus tinggi, mungil namun panjang yang terlihat begitu rapuh itu dan aroma parfum yang tak bisa kulupakan telah menghangatkan hatiku. Membuat es yang beku bertahun-tahun ini pelan-pelan mencair. Adakah hal yang lebih tak bisa kupercayai selain perasaanku sendiri? Adakah rasa yang lebih tak bisa kupercayai selain kekaguman dan ketertarikan macam ini? Bagaimana mungkin hati yang telah dipatahkan dan dibiarkan beku sekian lama bisa menghangat sesedehana ini? Bahkan wanita lain yang sudah lebih dulu kukenal sebelum keanehan ini tak bisa menghangatkan hatiku. Padahal aku paham benar kemana hatinya berlabuh. Mendadak aku tahu, aku terjebak dalam cinta sebatas siluet. Dan rasa ini sulit hilang seperti serangan permen karet.

Aku membuang napas dan mengelus selimut tebalku dengan punggung tangan.

Dan hal yang selanjutnya kusadari: aku belum turun dari tempat tidur; waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan; jam kerjaku adalah pukul delapan, tepat.

***

“Hari ini saya lihat kamu sedikit kacau. Ada apa?”
Aku sontak melongo. Tak menyangka akan ditanya seperti itu. Maka segera kujelaskan bahwa aku baik-baik saja setelah kukuasai diriku lagi. Dan berusaha kuyakinkan atasanku itu bahwa tak ada hal buruk yang terjadi. Mungkin aku hanya kelelahan.

“Saya harap itu tidak menganggu pekerjaanmu. Ingat, deadline tidak bisa toleransi dengan alasan kelelahan.”
Cepat kuanggungkan kepala dan cepat pula ia melangkah pergi.

Kendati kujalani hari ini dengan banyak kekacauan: datang terlambat, bersikap kurang ramah kepada klien sampai dimaki olehnya, menumpahkan kopi di kantin, nyaris menabrak karyawan lainnya, dan berbagai macam hal bodoh, aku masih sadar, kejadian tolol di hari ini tak pernah membicarakan kesepakatan denganku dan aku pun merasa tak pernah tanda tangan pada surat kontraknya, tapi kutahu, ia sudah datang dan semoga cepat pulang sebelum aku kalap. Aku juga masih tetap sadar bahwa hatiku sedang berlayar, dan dimana ia akan berhenti.

Dengan sedikit perjuangan dan kesabaran, aku berhasil membuat waktu bertoleransi atas hari sialku ini. Terburu-buru kuturuni tangga, dan keluar lewat pintu depan.

Gerimis tipis dan aroma petrichor menyambut. Hatiku nyaman seperti sedang berselimut.

Kulihat kelebatannya di halte. Semangatku terpacu dan jarak harus mau menyempit atau rasa ini bakal pilu. Namun keinginanku menyusulnya gagal tatakala kudengar seseorang memanggil namaku. Seperti hari yang telah berlalu, aku terpaksa menengok. Seorang dengan ciri sama persis atasanku tengah berdiri sekita tiga atau empat meter di belakangku, dan berkas-berkas di tangan kanannya membuat hatiku tak enak. Sungguh aku berharap mataku telah salah lihat.

Aku berbalik dan mendekatinya. Semoga urusan ini tak menyita waktu terlalu banyak.
“Ada apa, pak?”
Senyumnya melebar, tangan kirinya merangkulku, memaksa tubuh ini berbalik. Ia mulai berbicara panjang lebar, entah tentang apa. Karena pikiranku masih bertahan bersama wanita itu. Dan sebelum gerimis tipis ini pergi, hatiku terhempas dan aku tahu, aku belum bisa menggapai wanitaku.

***

Hari ini aku mati-matian berkonsentrasi pada pekerjaan. Menyibukkan diri dengan bidang-bidang yang selama ini kukuasai. Berusaha tak bersikap sebodoh kemarin. Bayangan wanita itu sempat berkelebat, namun segera kutepis sebelum fokusku menipis.

Jam kantor berdentang empat kali. Pukul empat sore. Tak kusangka waktu sedemikian baik padaku hari ini. Segera kubereskan berkas yang telah kukerjakan. Dengan semangat membara, kuturuni tangga, menuju pintu depan, mengulang kejadian yang sama. Semoga, kesempatanku masih tersisa.
“Dre? Bisa tunggu sebentar?”
Langkahku terhenti. Rasa dongkol segera menyelimuti. Haruskah kutunggu esok hari?
“Saya mau mengucapkan selamat, hari ini kerjamu baik sekali.” Ia mengulurkan tangan, menyalamiku. Aku tersenyum kecut. Berusaha telepati, bicara lewat mata atau hati. Tolong, waktuku tidaklah banyak.
“Mau langsung pulang?” tanyanya. Aku menggeleng.
“Saya mau menunggu hujan sebentar.”
“Oke,” ia sedikit tertawa. “Saya duluan ya, sekali lagi terimakasih.”
“Bukan apa-apa pak,” kulambaikan tanganku seadanya. Dan cepat-cepat menuju halte itu.

Dia ada disana.

Andai bisa, hatiku mungkin sudah keluar dan menari-nari di aspal yang basah. Bahagia ini tak bisa disembunyikan. Dan ternyata, bahagia adalah sesederhana ini. Ketika mata bertemu dengannya, ketika tubuh bisa mendekat, ketika jiwa seakan mulai rapat.
Halte punya langganan baru sekarang, dan aku tak habis pikir mengapa tempat duduk yang tersisa adalah di samping kanannya. Sungguh, aku ingin waktu sejenak menjelma jadi manusia, dan akan kukatakan padanya bahwa tak perlu ia melakukan ini. Hidup mengharuskan kita mengantisipasi kemungkinan terburuk, bukan? Dan aku perlu mengantisipasi hatiku agar tak terbakar hingga hangus dilalap api cinta.

“Nunggu jemputan, ya?” tanyaku basa-basi setelah jarak ini membuat lengan kami bersinggungan.
Wanita itu mengangguk, senyumnya mengembang, “Iya. Mas?”
“Eh, saya cuma nunggu hujannya reda.” Kikuk aku menjawab, entah mengapa aku kaget saja dia memanggilku ‘mas’. Sejujurnya aku lebih berharap wanita itu memilih kata ‘kamu’. Bukankah itu kelihatan lebih nyaman diucapkan juga didengar?

Ia mengangguk lagi lalu menunduk serius seperti menekuni aspal, dan gerimis yang mulai deras ini merenggut semua kemampuanku berkata-kata. Aku ingin bersuara layaknya dialog apa adanya, namun aku sadar kami dipisahkan oleh lapisan tanya. Atau mungkin hanya aku. Karena aku ragu hatinya juga ingin tahu.

Aku menjetik-jentikkan jari, dan sudah melakukan apapun demi memunculkan ide tentang apa yang bisa kubicarakan dengannya. Tapi tak kutemukan apapun. Waktu terus saja berlalu. Aku seperti ingin meneriakkan permohonanku. Tolong, berikan sedikit kesempatan untuk bisa menatap matanya lebih lama.

Mendadak aku punya topik. Mendadak aku ingat apa yang harusnya kutanyakan.
Mulutku baru saja membuka, seperangkat kalimat lengkap ini siap meluncur dan bersatu dengan udara kala kulihat sebuah sedan hitam metalik berhenti tepat di seberang jalan.

“Maaf,” ia menatapku, kata maafnya seakan mengandung makna ingin mengobati kecewa ini. Tapi kecewaku tak perlu diobati. Karena yang berlalu takkan kembali lagi.
“Yang menjemput udah datang, saya duluan ya.”

Ia berdiri, berlari, dan terhenti pada sebuah kecupan yang mendarat di pipi. Menunggu untuk melesat, pergi. Dan hujan pun berhenti.

Hatinya sudah ada yang punya. Tapi kini kutahu, matanya mata asia. Itu sudah lebih dari cukup.

Sabtu, 12 Januari 2013

AKU atau DIA #end

Cerita sebelumnya AKU atau DIA #3

Aku mengambil ponsel.
                To          : Tasya
                       Arvi
       Subject       : gw tunggu lo di atap hotel Ambar jm 4 sore
Senyumku mengembang.
Aku siap.
***
                “Dira?” Arvi muncul dengan wajah bingung. “Dira? Ada apa sayang? Kenapa sms kayak gitu?”
Aku tak menjawab. Mataku masih melihat kendaraan-kendaraan di bawah sana.
                “Sayang? Denger ak...,” kalimat Arvi terputus ketika dia mendengar suara langkah di belakangnya. Dia menengok. Tidak denganku. Meski begitu, bisa kutebak wajahnya pasti memasang tampang kaget.
                “Tasya? Lo..lo ngapain ke sini?”
Tasya tampak tersentak begitu tahu siapa pria yang membelakanginya. Dia gelagapan. Telunjuknya mengarah padaku. Arvi menatapku. Wajahnya terlihat bingung. Sangat bingung.
                “Gue yang nyuruh Tasya ke sini,” kataku mengalihkan pandangan pada mereka.
                “Ha? Mau lo apa sih, Dir? Lo punya urusan apa sama Tasya?” tiba-tiba nada Arvi mengeras. Ia tampak emosi. Aku tersenyum simpul.
                “Gue? Cuma pengen tanya aja kok,” sahutku santai.
                “Soal,.. soal apa Dir?” gantian suara Tasya yang tertangkap oleh telingaku. Aku sempat melirik Tasya. Wajahnya pucat. Mungkin tegang. Mungkin juga takut.
                “Arvian Satyantara,” aku menyebut nama lengkap Arvi. Kuamati wajahnya. Mataku menangkap raut ketakutan yang berusaha disamarkan dengan tatapan sinis. “Gue udah tau hubungan lo sama Tasya,” lanjutku. Kulihat mata Arvi melotot, dan Tasya semakin pucat pasi.
                “Bah! Tau apa lo?” Arvi menantangku.
                “Perlu gue paparin semuanya? Perlu gue ceritain lagi waktu lo sama Tas...,”
                “Enggak Dir, enggak, lo..lo langsung tanya aja,” Tasya terbata-bata. Aku tertawa penuh kemenangan.
                “Oke,” kataku sambil menaikkan kaki kiri ke atas paralon yang mengelilingi atap gedung itu. “Arvi,” panggilku. Yang punya nama mengangkat dagu dan menatapku dengan wajah sombong yang dibuat-buat. “Lo pilih gue ̶ “ aku melirik Tasya. “atau Tasya?”
Arvi tampak tersentak. Tasya juga kaget. Seperti tak menyangka pertanyaan itu akan terlontar dari mulutku. Aku menatap keduanya bergantian.
                “Gue,.. gue..,” Arvi menunduk lama, mulutnya terkunci.
Cukup lama keheningan menyelimuti kami sampai aku angkat bicara lagi.
                “Tasya,” panggilku. Tasya menatapku takut-takut. “Lo sayang sama Arvi kan?” tanyaku. Tasya menunduk. “Jawab jujur aja, nggak papa,” yang ditanya mendongak lalu mengangguk pelan.
                “Bagus,” ujarku. “Biar gue aja yang pilihin,”
Arvi menatapku bingung.
                “Maksud lo, Dir?”
                “Lo sama Tasya aja. Bahagiain dia.”
Arvi melongo.
                “Sya, ambil Arvi, dia buat lo,”
Tasya hanya diam, menunduk tanpa berani menatapku.
                “Terus lo?” Tanya Arvi.
                “Gue? Gue mau pergi,” jawabku acuh tak acuh.
                “Pergi? Maksud lo? Lo mau kemana?”
Aku menatap langit.
                “Gue mau pergi ke dunia yang mungkin lebih baik buat gue. Lo baik-baik sama Tasya ya, jaga dia.” Aku mengambil jeda sejenak. “Bye,” kulambaikan tangan. Lompat dari gedung itu.

Kamis, 10 Januari 2013

AKU atau DIA #3

Cerita Sebelumnya AKU atau Dia #2

                “Tik, menurut lo, apa semua ini ada hubungannya sama yang di bus itu?” tanyaku. Memotong cerita Tika soal Arvi dan Tasya di Pizza Hut Amplaz.
                “Ck,” Tika berdecak. “berarti daritadi lo nggak dengerin cerita gue ya?” dipasangnya tampang kesal.
                “Eh? Enggak, enggak. Gue dengerin kok,” jawabku buru-buru. “justru karena gue dengerin lo, otak gue jalan sampe ke situ.”
Dia mengangkat bahu. “Nggaktau,” jawabnya. “Bisa iya, bisa enggak,”
Aku menghela napas.
                “Kenapa? Lo keliatan takut gitu? Kata Lisa lo udah nggak peduli sama Arvi,” ujarnya santai.
                “Lisa cerita ke lo?” tanyaku.
Tika manggut-manggut. “Iya. Pake emosi segala ceritanya. Lo emang bilang apa ke Lisa? Gue nggak pernah liat dia sepanas itu.”
                “Gue panggang,” candaku.
Tika mencibir. “Gue serius, Dir.”
Aku tertawa. “Nggak gue apa-apain kok. Gue cuman bilang kalo Arvi nggak ngasih kabar empat hari.”
                “Tapi masa kalo lo cuman bilang gitu, Lisa sampe emosi?”
                “Abisnya begitu dia denger, nanggepinnya ngaco sih, pake curigain Arvi segala, kan gue juga nggak suka kalo dia kayak gitu.”
                “Kalo gitu mah elonya yang salah, Dir.”
                “Kok lo jadi ngebelain dia sih?”
                “Ya lo kayak enggak tau Lisa. Dia kan emang gitu. Oke, gue tau gimana perasaan lo ketika pacar lo dibilang yang negatif-negatif. Tapi mau gimanapun, lo nggak bisa nyalahin dia. Omongan dia ada benernya juga kan? Buktinya gue liat sendiri.”
                “Jangan terlalu yakin deh. Siapa tau mereka jalan karena ada urusan.”
                “Astaga Diraaa,” ucapnya gemas. “Lo kesambet apa sih? Bener kata Lisa. Lo emang payah kayak pacar lo. Udah jelas-jelas gue liat mereka seromantis itu, lo masih bisa bilang mereka ada urusan penting? Buka mata hati lo Dir. Jangan dibutakan sama kekecean Arvi. Lo itu kehipnotis, tau nggak?”
Aku hanya diam.
                “Gue ingetin ya, jangan tenggelam di lautan cintanya. Semua itu palsu. Mulai sekarang, lo mesti bisa ngebedain. Lo mesti waspada. Kalo nggak, ya tanggung akibatnya.”

***

Mana Arvi? Sekarang sudah pukul dua siang dan tak ada tanda-tanda kemunculannya di gerbang. Aku sudah menengok kesana-sini. Namun tetap saja, tak ada sosoknya diantara kendaraan yang terparkir atau berlalu-lalang.
Kuputuskan untuk menelponnya. Sebelum sempat kutekan tombol call, hapeku bergetar sesaat. Tanda ada pesan masuk. Kuurungkan niat untuk menelpon. Dan aku membuka pesan itu.

                From          : Arvi
       Subject       : sayang maaf y. aku g bs jmpt.
                       ada urusan pntg. Love u :*

Ada yang berbeda dalam aliran darahku ketika membaca isi pesan itu. Bukan marah. Aku takkan marah jika Arvi tiba-tiba berkata bahwa ia tak bisa menjemputku. Hanya saja, seperti ada sesuatu yang patut dicurigai mengenai maksud pesan itu. Maksud si pengirim.
Aku sudah berusaha menghilangkan rasa curiga. Dan bukan keberhasilan yang kudapat. Aku justru merasa semakin tak percaya pada lelaki itu. Entahlah. Itu hanya persaanku akibat laporan dari Tika, makian Lisa, dan keanehan pada diri Arvi, atau memang faktanya begitu?

***

Apa mataku tak salah lihat?
Aku membaur dalam keramaian untuk mengamati dari dekat. Sepertinya aku mengenal punggung dan gaya rambut itu. Dan wanita di sampingnya... astaga, itu mereka!
Arvi, dengan kesan sayang merangkul Tasya. Dan wanita manja yang menyebalkan itu bergelayut nyaman di lengan kokoh itu. Hatiku memanas, meski aku sudah tahu yang sebenarnya. Kutahan semua perasaan campur aduk dan emosi yang meledak-ledak itu. Kubuntuti mereka dari jarak yang aman. Dan ketika mereka mulai memisahkan diri dari kerumunan orang banyak, pemandangan yang ada membuatku melotot dengan hati dipenuhi rasa tak percaya.
Aku merinding. Melihat bibir mereka saling beradu. Bagai sulur-sulur anggur yang berpelukan. Segera, sesuatu mengganjal kerongkonganku. Aku mau muntah.
Lalu dengan perlahan, aku berbalik dan menjauh dari pemandangan menjijikkan itu. Kucepatkan langkahku menuju warung, atau angkringan, atau apapun juga yang menjual air mineral.
                “Aqua satu mas,” ujarku pada pemilik warung sembari mengeluarkan selembar duit dua ribuan dari dompet. Ia mengangguk dan mengambilkan yang kumau. “Makasih.” Ucapku setelah diberikannya air mineral itu padaku.
Sambil melangkah, pikiranku berputar-putar. Otak masih memajang pemandangan tadi. Sekali lagi aku merinding. Ini sudah keterlaluan. Aku harus mengambil tindakan secepatnya, sebelum pedang yang semakin dalam menusuk dan kabar serta pemandangan yang memuakkan itu terus menjalar ke seluruh pembuluh darahku.

bersambung..

Sabtu, 05 Januari 2013

AKU atau DIA? #2


Cerita sebelumnya AKU atau DIA? #1

Halo?
                Dir, Dir! Gawat Dir!
                Tika? Lo ngapa sih?
                Gawat Dir! Gawat!
                Apanya yang gawat? Lo kalo ngomog yang bener dong, gue bingung ini
                Arvi Dir! Gue liat dia!
                Lo liat dia? Di mana Tik?
                Pizza Hut Amplaz! Dia sama Tasya Dir!
Deg.
                Tasya? Lo serius Tik?
Tut..tut..tut..
                Halo Tik? Tik! Tika!

***

                “Hei, sayang,” tiba-tiba Arvi muncul di balik pintu kamarku. Melihatnya, aku seperti ingin menampar atau melemparinya. Tas, sepatu, buku-buku, bantal, guling, apapun juga. Tapi kutahan semua itu. Aku tahu, belum saatnya mengungkapkan amarah. Aku belum melihat dengan mata kepalaku sendiri tentang kelakuannya di luar sana.
Aku mencoba tersenyum. Dan kalian tahu? Tersenyum setelah kalian mendengar betapa liarnya pacar kalian di luar sana itu sungguh sulit. “Hai,” kataku akhirnya.
                “Boleh aku masuk?” tanyanya lembut. Atau mungkin lebih tepat bila kusebut pura-pura lembut.
Aku mengangguk.
Dia melangkah masuk. Wajahnya masih seperti biasa. Masih terlihat lembut dan tenang. Hanya saja, matanya menyiratkan kegelisahan. Entah tentang apa. Tapi aku bisa merasakannya.
                “Gimana kegiatannya sayang? Banyak tugas ya?” ditanyainya aku sembari tangannya mengelus kepalaku. Dahiku sempat dikecupnya. Pikiranku sempat berkecamuk kala benar sarafku tersentuh tekstur bibirnya. Bukan kebahagiaan yang menguasaiku. Yang ada malah rasa sakit. Sakit karena aku merasa ditipu, dibohongi. Dengan rangkulan ia menusukku, dengan pelukan ia berusaha melukaiku, dengan ciuman ia berusaha menghancurkanku. Sejujurnya aku pilih dia memutuskanku dan mengatakan bahwa dia lebih mencintai Tasya atau wanita lain. Aku pilih itu. Aku pilih dia dengan terus terang berkata demikian padaku.
                “Maaf ya, aku sempet enggak ada kabar, aku sibuk,” katanya lagi meski aku belum menjawab pertanyaannya tadi.
Aku tersenyum kecut. Bukan begitu caranya Vi, kataku dalam hati. Kau menonaktifkan ponselmu tanpa memberitahuku terlebih dulu. Lebih dari empat hari sudah kau tak ada kabar. Apa kau tak tahu betapa paniknya aku mengenai semua itu? Aku memikirkanmu Vi. Aku memikirkanmu setiap hari. Setiap waktu. Aku berusaha menghadirkanmu selalu dalam detak nadiku, dalam hembusan napasku. Apa kau tak tahu betapa hancurnya aku saat Tika memberitahuku, dia melihatmu dengan Tasya di Pizza Hut Amplaz? Apa kau tak tahu betapa sakitnya aku mendengar semua itu? Aku yang setiap hari merapal namamu dalam doa, kau sakiti di balik layar? Memang ada kemungkinan Tika berbohong. Tapi mengingat nada-nada paniknya, sangat kecil kemungkinan untuk bohong. Dan sekarang, ketika aku mulai menetapkan hati untuk menjauh darimu, kau hadir kembali. Kau berkata selama ini kau sibuk sehingga untuk mengabariku pun kau tak sempat. Apa maumu Arvi? Kalau kau tak lagi mencintaiku, kau bisa memutuskanku dengan alasan yang jelas dan terang. Bukan seperti ini! Ini semua akan membunuhku!
                “Kok diem aja sayang? Ada apa? Sakit ya?” tanyanya lagi. Tangannya menyentuh dahiku.
                “Enggak kok,” kutepis tangannya. “aku nggak sakit,” senyumku. “oh, ya, aku membuat ini untukmu,” ujarku mengalihkan pembicaraan. Aku mengambil sehelai kertas HVS yang kuselipkan di buku National Geographic. “Taraaa!!” kubalik kertas HVS itu. Terlihat di sana, Arvi sedang tersenyum dengan sebatang rokok di tangan kanannya dalam goresan pensil.
Matanya membelalak. Mulutnya menganga dan wajahnya terlihat kagum. “Bagus banget!” katanya. Tangannya terulur seolah ingin mendekap gambar itu dan tak melepasnya. Aku memberikan itu padanya. Ia mengamati gambar itu dengan saksama, seperti sedang mengamati gerak-gerik pencuri.
Aku tersenyum melihat tingkahnya. Berusaha terlihat gembira seperti dia yang gembira saat matanya menatap lukisanku. Meski kutahu, cepat atau lambat, aku akan kehilangan semua itu. Cepat atau lambat aku takkan bisa melihat senyumnya, airmatanya, tawanya, amarahnya. Tidak lagi. Aku sadar akan itu. Karenanya, sebelum aku benar kehilangan, kucoba menghabiskan keindahan yang selama ini terpancar dari dirinya.
                “Oh, sayang,” desahnya penuh cinta. Diletakkannya gambar itu hati-hati. Tangannya menarik tanganku, memelukku. “aku takkan pernah bisa menemukanmu dalam sosok lain,” dia mengambil napas. “hanya kau yang ada di hatiku hingga akhir hayatku.”
Airmataku meleleh di bahunya. Kau bohong Vi. Kau tak mencintaiku. Hatimu bukan untukku.

***

bersambung ke AKU atau DIA #3

Sabtu, 29 Desember 2012

AKU atau DIA? #1


Bau solar yang tajam menggelitik satu tempat di hidungku. Asap mengepul dari mulut dan hidung kedua lelaki yang duduk di bangku depanku. Padahal sudah ada aturan untuk tidak merokok di dalam bus. Itu kan teori. Prakteknya? Sudah tentu bisa ditebak.

Dasar orang tak tahu aturan! Umpatku dalam hati. Seperti inikah mental generasiku? Begitu kerasnyakah hati para calon pemimpin bangsa? Payah sekali. Bagaimana nasib tanah air kalau mereka yang dipersiapkan sebagai pendekar ternyata sangat sulit diatur? Aku mengeluh.
Suara bising tertangkap telinga. Hawa panas. Dan udara bersih semakin sulit didapat pada bus kota yang terlihat tua ini.

Sumpek!
Hanya itu kata yang berkali-kali melintas di otak. Tak ada yang sedap dipandang di dalam sini.
pak sopir berkumis tebal, kernet berpakaian biru tua yang sudah lusuh dengan segebok duit di satu tangan dan tangan lainnya melambai-lambai kalau ada orang yang butuh menumpang bus ini, simbok-simbok berbalut kebaya dengan dua karung besar entah berisi apa, tiga orang anak kecil, bapak-bapak berjaket yang asyik dengan dengkurannya, dua lelaki berseragam SMP yang sibuk dengan guyonan ala gondhes dan rokoknya. Satu lagi, ada sepasang kekasih.
Tunggu, sepertinya tertarik juga aku mengamati yang terakhir ini. Mereka duduk di dekatku. Si lelaki bahkan tepat di sebelah kananku, hanya berjarah satu jengkal dariku. Tubuhnya dibalut kaos putih dengan lengan tigaperempat. Jeansnya berwarna cokelat tua. Sepatu basket mengalasi kakinya. Tangan kiri lelaki berambut harajuku ini sibuk menari di atas keypad ponselnya, entah ber-sms-an dengan siapa. Tangan kanan berhias cincin keperakan merangkul si kekasih yang terlelap di bahu kokohnya.
Mataku tergoda juga untuk melirik isi pesan yang tertulis di layar ponselnya. Aku membacanya. Meski tak utuh, kata yang terekam cukup membuatku melotot. Berkali-kali aku mencuri pandang, berkali-kali pula mataku membaca kata yang sama.

Sayang

Itulah kata yang terulang. Aku tak habis pikir. Segera saja otakku dipenuhi tebakan-tebakan yang negatif.
Tiba-tiba si wanita bergerak. Ooh, dia sudah bangun. Secepat kilat aku kembali menatap depan. Suara kecupan dan desahan-desahan bernuansa cinta sempat juga menggelitik telingaku. Membuatku semakin bertanya-tanya. Siapa wanita itu? Siapa lelaki ini? Siapa pula orang yang ber-sms-an dengannya? Apa status mereka?
                “Permisi mbak,” suara lelaki yang keras dan dalam membuyarkan lamunanku. Aku terkejut. Kusingkirkan kaki agar mereka bisa lewat. Si wanita sempat tersenyum padaku. Aku ikut tersenyum menatap langkah mereka sembari menyimpan tanda tanya besar dalam hati.

***

Aku mondar-mandir di kamar. Menghembuskan nafas kesal, lalu melempar ponselku ke atas tempat tidur. Kugigit bibir bawahku. Bingung, curiga, khawatir, berpadu dalam hati. Semakin keras aku berpikir tentang Arvi, kekasihku. Bagaimana tidak? Sudah empat hari nomornya tak bisa dihubungi. Ini keanehan kedua yang dilakukannya. Pertama, sikapnya beberapa waktu terakhir sedikit berubah. Aku tak bisa menyebutkan perubahannya, yang kubisa adalah merasakan perubahan itu.
Aku sempat menanyakannya kepada Joe, Samuel, dan karibnya yang lain. Mereka bilang tak ada sesuatu yang salah dari Arvi. Aku malah dinasihati agar tak berpikiran aneh-aneh. Cepat kuanggukan kepala kala itu. Tapi dalam hati, aku tak mengiyakan. Dan sekarang, nomornya tak aktif. Aku tak tahu apakah kedua hal ini berhubungan satu sama lain. Hatiku bersikeras untuk menaruh curiga padanya. Apalagi ketika kejadian dalam bus kota itu kembali menjalar dalam benakku. Aku seperti punya indera keenam mendadak. Aku seperti detektif yang sedang mengumpulkan beberapa data yang cocok. Aku seperti diberi penglihatan. Percaya atau tidak, aku tak sanggup menekan pikiran-pikiran negatif itu.

                Tok! Tok! Tok!
Aku menoleh pada pintu kamarku. Siapa di luar sana?
                Tok! Tok! Tok!
Kali ini lebih keras.
                “Masuk!” ujarku. Terdengar suara kriek dan sebentuk kepala menyembul di balik pintuku.
                “Hai Dir,” senyumnya mengembang.
Aku mengangguk. Kutepuk kasurku, tanda menyuruhnya duduk di situ.
                “Lo ngapa sih? Mukak lo panas gitu?” tanyanya setelah mengamati raut wajahku yang tampak berbeda.
                “Kesel,” jawabku singkat tanpa menatapnya.
                “Kesel? Hm. Jangan bilang ini gara-gara si badung itu,”
                “Memang dia kok,”
Matanya melotot.
                “Beneran,” kataku meliriknya.
                “Ck!” dia menggelengkan kepala. “Dia ngapain lo?” tanyanya. Raut wajahnya terlihat khawatir.
                “Gue nggak di apa-apain,” aku menarik napas. “dia cuman nggak ngasih kabar, empat hari.”
Matanya melotot lagi. Aku bisa melihat raut kemarahan yang tergambar di pipinya yang memerah. “Itu namanya lo udah diapa-apain!” teriaknya. “Dia pacar lo Dir!”
                “Memang dia pacar gue,”
                “Ah lo!” dia berpaling. Berusaha menekan amarah yang bergejolak di dadanya. “Lo nggak usaha apa-apa buat hubungin dia?” nadanya sedikit melembut.
Aku menggeleng. “Nggak,”
                “Astaga Dir! Lo tu sama aja tau nggak! Lo sama begonya! Pacar lo nggak ngasih kabar empat hari, lo diem aja! Iya kalo dia nggak macem-macem, kalo dia jalan sama cewe laen gimana? Kalo dia nembak cewe laen gimana?”
                “Lisa!” teriakku gusar. “Mulut lo di jaga ya, lo nggaktau siapa Arvi!”
Kulihat wajahnya semakin memerah. Ada dorongan amarah yang menguasai hatinya. “Dira! Denger gue ya, gue tau siapa pacar lo! Gue tau latar belakangnya! Gue tau kehidupannya!”
                “Loe nggak usah nyebut-nyebut soal latar belakangnya!” tak kalah keras aku berteriak.
                “Terserah!” dia mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu. “Gue udah meringatin lo, dan lo sama begonya sama dia, jangan salahin gue kalo dia emang kaya gitu!”
Brak! Ditutupnya pintu dengan kasar.
Aku termenung. Kalimatnya masih berputar-putar di otakku. Kata-katanya seolah menyadarkanku di antara lorong-lorong waktu. Aku benar-benar merasa panas akan lontaran-lontarannya. Namun tak bisa kupungkiri, hatiku membenarkan ucapan-ucapannya. Hanya saja aku terlalu gengsi untuk mengakuinya. Aku terlalu gengsi untuk ikut mengatakan aku mencurigai Arvi.

***

bersambung ke AKU atau DIA? #2

Rabu, 26 Desember 2012

Maafkan, Kasih


Tiba-tiba ia memelukku erat. Sangat erat. Sampai-sampai aku bisa merasakan detaknya. Bau parfumnya lembut, terbawa semilir angin menggelikan hidungku. Aku seperti terhipnotis. Aku seolah dikendalikan oleh kecantikan dan kemolekannya. Karena, tanpa kusadari, tanganku sudah melingkar di pinggangnya yang seperti lekukan badan gitar itu. Ia menenggelamkan kepalanya di dadaku. Menggosok-gosok punggungku. Aku semakin tak dapat mengendalikan diri. Kubiarkan diriku tenggelam dalam nafsu yang liar. Kepalaku bergerak mendekati lehernya yang jenjang. Aku tak tahan lagi. Kuciumi leher itu. Bibirku naik. Naik. Naik. Sampai pada bibirnya yang melengkung indah. Tiba-tiba saja, aku lupa akan segala sesuatu yang ada di sekitarku. Bibir kami bertemu. Entah apa yang kulakukan setelah itu. Aku tak tahu. Semuanya diluar kesadaranku. Yang terakhir kuingat adalah ada sesosok bayangan mendekati kami. Dia memanggil namaku disertai isak tangis yang memilukan.
                “Mas Angga?” panggilnya. Suaranya bergetar. Mulutnya menganga dengan tampang tak percaya. Airmatanya membanjir.
Spontan, aku menghentikan aksiku. Sebelum melihat siapa pemilik suara itu, hatiku dipenuhi amarah. Seseorang mengganggu ritualku! Dengan malas aku menoleh. Otakku sudah menyusun kata-kata kasar untuk memarahinya. Namun, ketika mataku merekam sosok itu, jantungku serasa berhenti berdetak. Lidahku tercekat, dan hatiku merasa si otak salah menerjemahkan laporan mata.
               “De..Dewi?” ucapku gelagapan. Aku kehilangan kata-kata. Sungguh dalam hati aku berharap semua ini hanya mimpi. Sayang itu tak terjadi. Ini adalah fakta. Ini adalah keadaan sesungguhnya.
                “Sayang, dia siapa?” Tanya Aurora dengan tangan masih memelukku. Matanya mendelik. Wajahnya merengut. Seperti jijik dengan penampilan Dewi yang terlalu sederhana itu.
                “Sayang?” ulang Dewi sebelum aku punya kalimat untuk menjelaskan semua ini. “Dia manggil sampeyan sayang, mas? Ya Tuhan,” dia menutup mulut. Di wajahnya tergambar rasa nelongso.
                “Aku.. aku..,” suaraku meluncur meski terbata-bata.
                “Sampeyan kenapa mas? Dewi salah apa sama mas?” isaknya semakin menyayat hati. “Kenapa mas tega sama Dewi?”
                “Lo siapanya Angga sih?” Aurora setengah berteriak. Matanya memancarkan rasa muak.
Dewi menatap Aurora dengan tajam. “Mestinya saya yang nanya sama sampeyan mbak, mbak siapanya mas Angga? Mas Angga itu tunangan saya,” ucapnya diantara banjiran airmata.
                “Tunangan? Angga tunangan lo? Nggak salah?” Aurora mengeratkan pelukannya. Aku mengikuti sandiwaranya. Tangan kiriku menggantung di lehernya. “Angelbertus Angga orang penting, derajatnya tinggi, dan dia nggak punya waktu buat macarin gelandangan lusuh kayak lo, apalagi nglamar!”
Mata Dewi membelalak begitu mendengan panggilan ‘gelandangan lusuh’ mencuat dari bibir manis Aurora. Dia menunduk lalu memperhatikan rok panjang bermotif kotak-kotak dan kaos putih leceknya yang sudah mbladus.
                “Iya.” Aku menyetujui kata-kata Aurora. Tangan kananku menyentuh dagunya yang runcing. Kuhadapkan wajahnya ke wajahku. Kunikmati bibir itu beberapa detik di depan Dewi. “Dia pacar gue. Nggak usah berharap lebih, Wi. Gue nglamar lo cuman buat pelarian dari Sophie, karena gue emang belom dapet cewe yang sesuai aja. Sekarang gue udah dapet Aurora. Jadi, dengan hormat, gue minta lo pergi dari hidup gue. Kalo perlu, buang cincin yang pernah gue kasih, karena itu nggak ada pentingnya lagi buat gue, dan buat lo juga.”
Dewi tersentak mendengan tutur kataku. Aku pun kaget dengan kalimat yang kuucapkan. Ada sedikit rasa sesal telah mengatakannya. Tapi aku terlalu gengsi untuk mengakui.
                “Jadi selama ini, cintanya Dewi yang cuman buat sampeyan, sampeyan khianati mas? Mas Angga jahat! Dewi benci mas!” serunya saat itu sambil berlari menjauh. Aku tertegun.
Aku hanya bersandiwara Dewi, aku sungguh-sungguh mencintaimu. Meski latar belakang kita sangat berbeda. Tunggu, Dewi, sebentar lagi aku akan mencuri waktu untuk menjelaskan semuanya padamu.

***

                “Dasar lelaki hidung belang!”
                “Dan kamu wanita jalang!”
                “Kamu nggak bisa diandalkan! Playboy!”
                “Kamu wanita murahan! Matre!”
                “Matre? Hah! Mending aku punya selera! Kamu? Cakep, kece, kaya tapi seleranya rendah! Kampungan!”
                “Jaga mulutmu! Aku mencintai dari hati! Aku nggak liat fisik! Aku nggak liat kasta!”
                “Bodoh! Kalau kamu emang cinta dari hati, kamu nggak mungkin terang-terangan mainin bibirku!”
                “Itu semua kamu yang mulai!”
                “Ah kamu emang cowo bego!”
                “Terserah!”
Brak! Kututup pintu kamar Aurora dengan kasar. Emosi meledak-ledak di balik dadaku. Berderap kuturuni tangga dan berlari menuju mobilku, masuk ke dalamnya lalu cepat-cepat pergi dari rumah wanita terkutuk itu.

***

Tok! Tok! Tok!
Kuketuk pintu rumah Dewi. Sembari berdoa dalam hati, semoga aku bisa menjelaskan semuanya dengan lancar.
                “Nggih, sekedhap!” terdengar suara wanita dari dalam. Itu pasti Dewi.
Pintu terbuka. Aku berdiri setegap dan sesantai mungkin. Bibirku sudah menyunggingkan senyum. Dewi membukakan pintu dengan persiapan tersenyum. Namun sebelum mataku menangkap senyum utuhnya, dia buru-buru menutup pintu lagi begitu melihat bahwa akulah yang mengetuk pintu. Rautnya menggambarkan kebencian, seperti menyesal telah membuka pintu.
                “Dewi!” teriakku berusaha menahan pintu itu dengan kakiku agar tak tertutup sepenuhnya. “Dewi aku butuh ngomong sama kamu!”
Diam.
                “Dewi, plis, dengerin aku dulu.”
Diam.
                “Dewi? Denger aku kan?”
Isak tangis.
                “Dewi?” aku berusaha membuka pintu lebih lebar. Dia membiarkan aku melakukannya. Kuambil saputangan dari saku jaket dan mengarahkannya pada pipi Dewi yang dibasahi airmata.
Dia mengelak.
                “Dewi, apa salahnya aku hapus airmatamu?” tanyaku memelas.
                “Salah mas, salah besar. Dewi bisa hapus sendiri tanpa bantuan sampeyan.
Aku tertegun. “Wi, aku tau aku salah.”
                “Memang salah.” Katanya setelah berhenti menangis.
                “Iya aku tau.”
                “Sudah tau kok dilakukan.”
                “Wanita itu yang mulai.”
                “Kok ya sampeyan ndak menghindar?”
Diam.
                “Apa susahnya nyuruh mbaknya buat ndak macem-macem?”
                “Aku enggak sadar Wi.” Jawabku sekenanya.
                “Sampeyan mabuk to?” tuduhnya.
                “Enggak Wi. Aku nggak pernah mabuk.”
                “Lha tadi sampeyan bilang ndak sadar?”
                “Maksudku, aku kayak dikendalikan sama dia.”
                “Ah ndak usah banyak alasan mas. Berarti kan sampeyan juga ngasih peluang mbaknya. Itu artinya sampeyan ndak bisa setia mas.”
                “Aku minta maaf!” sesalku. Entah apa yang harus kukatakan pada Dewi. Semua yang diungkap benar adanya. Dan itu cukup untuk menohok jantungku.
                “Maaf?” ulang Dewi menatapku tajam. Bola matanya seperti bisa menusuk hatiku. “Kalau minta maaf semua orang juga bisa ngomong mas.”
                “Enggak semua orang.”
                “Semua orang mas. Semua orang yang bisa ngomong dan yang tau apa fungsinya kata maaf.”
                “Wi, aku bener-bener nyesel.”
                “Terus?”
                “Aku minta maaf!”
                “Kalau Dewi ndak mau maafin gimana?”
                “Aku sungguh-sungguh Wi! Beri aku kesempatan sekali lagi!”
                “Kalau Dewi tetep ndakmau gimana?”
                “Aku minta maaf!”
                “Mas sudah tiga kali bilang.”
                “Itu karena aku sungguh-sungguh Wi.”
                “Sungguh-sungguh belum puas khianati Dewi?”
                “Bukan gitu Wi!” aku mulai kehabisan kesabaran.
                “Tuh lihat, mas sudah emosi lagi. Gitu kok bilangnya nyesel beneran? Apa yang beneran? Bohong semua!”
Aku tertegun. “Wi, sekali lagi aku minta maaf.”
                “Empat kali.”
                “Aku sungguh-sungguh Wi. Aku nyesel. Dan aku nggak akan ngulang semua itu lagi. Beri aku kesempatan.” Kuturunkan nada suaraku. Menekan emosi.
                “Mas,” dia menghela napas. “Cinta itu bukan sesuatu yang bisa ditanam, dicabut, lalu ditanam lagi. Cinta itu sesuatu yang waktu sudah ditanam, ya dia akan tumbuh selamanya. Tapi ketika dicabut, dia akan mati, dan nggak akan tumbuh lagi. Dewi sudah nyabut cinta itu mas. Maaf. Dan Dewi mohon dengan hormat, mas pergi dari hidup Dewi.”
Pintu ditutup.

Rabu, 12 Desember 2012

TUHAN, aku salah apa ?


                “Guuuooobblokk!”
Aku hanya mampu menunduk dan diam seribu bahasa ketika gebrakan meja dan suara Wawan mencakar kupingku. Haruskah aku mengalami semua itu ketika aku tak mengerti suatu perintah? Apa tak ada cara lain yang lebih baik untuk membuatku mengerti?
                “Kowe dhong ra e?! Wo bodho!! (kamu ngerti enggak sih?! Bodoh!!)“
Kudengar suara cekikikan teman-teman ketika Wawan melanjutkan kalimatanya. Kepedihan merasuki hatiku. Entah mengapa setiap hari aku dipaksa menelan semua itu. Setiap hari.
Aku tak kunjung mengerti mengenai apa yang mereka lontarkan padaku. Kadang, aku harus juga merasakan pukulan, tendangan, dan keusilan mereka. Apa itu semua disebabkan oleh kesalahanku sendiri? Apa itu semua disebabkan karena aku memang bodoh? Atau mereka yang tak punya hati? Sungguh, sampai detik ini aku masih mencari tahu tentang sekian banyak kesakitan yang menjadi makananku itu.
Aku berusaha menikmati semuanya. Aku berusaha menerima. Namun, aku juga manusia, aku juga punya titik lelah. Aku juga punya saat, dimana hatiku tidak terima.
***
                “Heh cah bodho! Diundang kae lho! Wo budheg! (Heh anak bodoh! Dipanggil itu lho! Wah, tuli!)“
Aku langsung tersentak. Gelagapan mataku memandang ke depan. Mulutku menganga menandakan bahwa aku tak mengerti lagi kali ini. Di kursi guru, Bu Haryati, Guru Biologi, memandangku sambil setengah tersenyum.
                “Nomor sembilanbelas?” tanyanya melembut. Mungkin berusaha meredam makian Anji tadi.
Aku mengangguk.
                “Silahkan maju, tulis jawaban nomor lima di papan tulis,” lanjutnya sambil menunjuk spidol di pinggir mejanya.
Ragu-ragu aku berdiri. Bu Haryati mengangguk, seolah mengerti bila aku belum sepenuhnya sadar akan perintah itu.
                “Aha! Cah bodho! (Aha! Anak bodoh!) ”
                “Nek diundang ki mbok ngrungokke! Kuping ki dienggo! (Kalo dipanggil dengerin donk! Telinganya dipake!) “
                “Nek mlaku mbok biasa wae! Lanang opo wi? Mlaku kok ko ngono! Ko cah wedok! (Kalo jalan biasa aja donk! Cowo apaan tuh! Jalan kok kayak cewek!) ”
                “Model tho! Mlakune kudu ngono! (Model bro! jalannya harus gitu!)“
                “Wo model to tho? (Oh model ya bro?)“
                “Waiyo! Edan po nek ora?! (Iya donk! Gila aja kalo enggak!)“
Gelak tawa memenuhi kelas setelah percakapan Wawan dan Anji menjadi soundtrack. Mengiringi tangan dan otakku yang sibuk bekerja menulis jawaban di papan tulis atas perintah Bu Haryati. Mungkin semua itu lucu bagi mereka. Sayang, lucu itu tak berlaku untukku.
Aku berusaha tak mengambil hati. Namun dengarlah, jauh di dasar sanubari aku menjerit, tanda rasa sakit itu sudah terlalu berat untuk dirasakan oleh seorang aku. Perih itu semakin terasa kala kulihat Bu Haryati ikut tersenyum mendengar mereka. Ah bu, apa susahnya menyuruh mereka diam?
***
                “Nomor absen sembilanbelas,” Bu Mus menyebut nomor absenku. Jam ini adalah jam penilaian membirama. Aku menghela napas. Lalu berjalan ke depan. Tampaknya aku sedikit beruntung, tak ada ejekan yang mampir ke telingaku.
Aku mengambil nada, mengambil gerakan pendahuluan, dan membirama. Ada guratan kesedihan sebenarnya. Karena aku tak seperti Mona dan Riska yang memang berbakat dalam bidang musik. Aku juga tak seperti yang lain, yang setidaknya mampu menggerakkan tangan dengan baik sesuai ketukan meski tak benar-benar berbakat dalam musik. Kulihat Wawan dan Anji menahan tawa di kursi mereka sambil berbisik entah membicarakan apa. Yang mereka bisiki jadi ikut cekikikan. Rasa rendah diri semakin berkuasa dalam hatiku. Dan ketika aku kembali ke bangku, Anji menirukan caraku membirama tadi. Wawan, Anita, Nana, Vano, bahkan Mona dan Riska terpingkal-pingkal melihatnya.
Aku menunduk. Airmataku mulai menetes. Celakanya, Anita tahu kalau aku menangis.
                “Eh meneng. Model e nanges lho, (Hei, diem. Modelnya nangis lho)“
                “Woalah alah, ngono we nangis, (Astaga, gitu aja nangis)“
                “Meneng tho! Dhong ra e? model e nanges ki lho! Diandhakke bodyguard e entek we! (Diem bro! Ngerti nggak sih? Modelnya nangis ini lho! Dibilangin bodyguard-nya mampus kau!)“
Ya TUHAN, jeritku. Sampai kapan aku harus mengalami ini semua?

***
Ada rasa takut yang memenuhi benakku ketika berangkat ke sekolah. Aku seperti trauma. Seakan menghindari kelasku. Menghindari hinaan, cercaan, ejekan, dan saudara-saudaranya. Setiap hari, semangat yang telah kupersiapkan di rumah lenyap saat kesakitan itu kembali menyerangku. Itu penyebabku takut. Itu yang menyebabkan aku menjadi anak yang semakin tertutup. Semakin tak punya teman. Semakin mudah panik.
Aku juga semakin sulit mengungkapkan perasaanku pada Mona. Wanita itu,.. ah, hanya TUHAN yang tahu benar apa yang kurasa padanya. Meski sering ikut menertawakanku, hatiku berkata dia tak jahat. Aku bisa merasakannya. Dia punya sisi lembut. Dan sisi lembut itulah yang membuatku menyukainya. Kadang saat melihatnya sedang sendirian, ada dorongan dalam hatiku untuk menyapa. Namun mengingat diriku sendiri, aku jadi enggan melakukannya. Aku dan dia benar-benar berbeda. Dia selalu mudah bergaul. Selalu punya teman. Sedang aku tidak. Okelah, nampaknya memang nasibku. Cukup kusimpan saja perasaanku dalam hati. Biar TUHAN sendiri yang memberitahunya.
Kembali ke dunia pergaulanku, aku selalu ingin diperlakukan seperti yang lain. Diperlakukan dengan baik. Diperlakukan seperti manusia juga. Tapi aku bisa apa? Aku tak punya cukup keberanian dan derajat di tengah-tengah mereka. Aku bukan manusia buat mereka. Aku boneka. Aku barang. Aku sesuatu yang bisa dibuat mainan, yang bisa diperlakukan semena-mena.
Langkahku semakin mendekati kelas. Jantungku berdegup. Aku mempersiapkan telinga dan hatiku untuk menerima ejekan lagi.
                “Heh tho! Model e teko tho! (Hey bro, modelnya dateng bro!) ”
Wawan dan Anji menghalangi pintu kelas. Aku menghela napas. Kukumpulkan nyali untuk meminta mereka menyingkir agar aku bisa masuk. Sayang, yang kudapat bukan yang kuinginkan, justru tangan kasar Wawan mampir untuk menjitakku.
                “Ck,” aku berdecak. Kupasang tampang kesal. Tanganku mengelus bekas jitakan Wawan. Sakit. Lepas dari jitakan, sebuah kaki nyaris membuatku jatuh. Untung otak kecil dan tiga saluran setengah lingkaranku tanggap mengenai ini. Mukaku merah padam. Menahan emosi yang tak mampu kukeluarkan karena aku tak punya cukup nyali.
***

                “Itu nilai apa?” tanyaku takut-takut pada Anita, sang pemimpin di kelasku.
                “Bahasa Indonesia,” jawabnya datar sambil menaikkan kacamatanya yang melorot.
Mulutku membentuk huruf ‘o’, tanda mengerti ucapan Anita barusan. Sedikit ragu aku masuk dalam kerumunan teman-teman yang tengah sibuk memelototi hasil Ujian Akhir Semester 1 Bahasa Indonesia yang terpampang di papan tulis. Samar-samar kudengar cemooh Wawan dan Anji padaku di antara suara-suara lain yang mengomentari hasil Ujian itu. Aku berusaha menulikan telinga dan hati. Mataku mencari-cari namaku di selembar kertas itu.
IX-5/19
MARKUS KALVINIS
84.40

Syukurlah, ucapku dalam hati. Bersyukur, untuk Bahasa Indonesia nilaiku tidak buruk. Tanpa kusadari, bibirku menyunggingkan senyum.
                “Ngopo we ngguyang-ngguyu!? (Ngapain kamu senyam-senyum!?) “ Anji membentakku.
Aku gelagapan. Salah tingkah. Bingung harus bagaimana. Lagi-lagi aku hanya mampu melongo.
                “Ngopo e ngguyang-ngguyu!? Seneng po!? Entuk piro e we!? (Ngapain senyam-senyum!? Seneng ya!? Dapet berapa kamu!?) ” bentak Wawan sambil matanya menelisik kertas itu, mencari nama dan hasil ujianku.
Aku merengut. Belum ada satu menit aku bisa menggores senyum atas hasil yang kucapai. Aku memang tak diijinkan bahagia.
                “Wolu papat tho! (Delapan empat bro!)” teriak Wawan setelah melihat nilaiku.
                “Wo elok! (Wah hebat!)” Vano menanggapi.
                “Njuk bangga ngono!? (Terus bangga gitu!?)” kata Anji mengejek.
Tuhan, Tuhan, jeritku. Tuhan dimana? Hatiku sakit Tuhan. Apa bahagia memang bukan jalanku?

***
Aku berjalan tanpa semangat. Kutuju sebuah bangku di Taman Budaya, sebelah belakang. Kuhempaskan tubuhku. Lelah benar hari ini. Kalau tubuhku yang lelah, obatnya mudah. Aku hanya perlu tidur atau bersantai. Tapi ini, hatiku yang kelelahan. Dan aku butuh sesuatu yang menyegarkan, memberiku potongan-potongan semangat yang telah lenyap.
Angin segar membelaiku. Sedikit memberi rasa nyaman. Tempat ini cukup sepi. Membuatku bisa menjalankan otak untuk merenungkan semua yang telah kualami. Semua rasa sakit yang kutelan. Kepahitan yang setiap hari menjadi makananku. Sampai wajah Mona yang tak pernah berhenti membayangi.
Samar-samar aku mendengar suara langkah kaki. Aku mendongak. Seorang pria berkemeja dan celana bahan berwarna krem dengan kisaran umur 30 tahun tiba-tiba muncul. Wajahnya terlihat berwibawa dan menenangkan. Jenggotnya lebat, berwarna hitam legam. Rambutnya sedikit gondrong, tapi rapi. Bola matanya kebiruan, tanda kalu dia bukan orang Indonesia asli. Kalau diamati benar-benar, sepertinya dia ada campuran darah Timur Tengah. Kupikir, dia akan melewatiku. Ternyata tidak.
                “Kosong nak?” tanyanya. Suaranya seperti air yang menyegarkan hatiku.
Aku mengangguk, bergeser sedikit agar pria itu bisa duduk di sampingku.
                “Sepertinya kau sedang tak enak hati,” tebaknya. Aku tersenyum masam. Dalam hati mengiyakan, meski sedikit bingung karena ia bisa menebak dengan benar. “kau bisa menceritakannya padaku,” ia tersenyum. Aku menatap bola matanya yang indah bercahaya. Ada sedikit keraguan di hatiku. Namun senyumnya yang lembut menjawab keraguan itu. Kurasa aku bisa mempercayainya.
                “Saya.. saya.. hanya tidak mengerti mengapa teman-teman saya tidak memperlakukan saya seperti manusia,”
Ia mendengarkan dengan penuh perhatian. Aku terus bercerita. Kusampaikan padanya, betapa sakit diperlakukan seperti itu. Betapa hatiku memberontak, tidak terima. Betapa aku tak pernah mempunyai kesempatan untuk bisa bergaul seperti orang lain. Mungkin aku bodoh. Mungkin cara pikirku lamban. Mungkin aku tak setanggap mereka. Tapi kurasa, sangat keterlaluan bila aku diperlakukan buruk dan tak pernah diberi kesempatan untuk belajar lebih lagi dengan alasan yang demikian. Aku ingin dimengerti. Aku ingin dihargai. Aku ingin teman-temanku tahu, aku punya hati, aku punya perasaan.
                “Kadang, saya sering bertanya-tanya pada Tuhan, apa salah saya? Mengapa Tuhan seakan tak peduli pada saya? Seburuk apakah saya sehingga saya harus mengalami semua itu?” kutatap wajahnya sembari menahan airmata, perasaan campur aduk yang berebut ingin keluar dari rongga dada. Ia tersenyum. Aku bisa menangkap kebaikan dan keramahannya. Wajahnya yang berwibawa terlihat semakin lembut setelah kulontarkan pertanyaan yang selama ini mengganjal di hati.
                “Kemarilah nak,” katanya merentangkan tangan. Aku tak sanggup lagi menahan diri. Kujatuhkan tubuhku di pelukannya. Detik itu juga, aku merasakan kehangatan. Aku merasakan ketenangan yang tak pernah kukecap selama ini. Aku merasa semangatku hadir kembali. Aku merasa semua ketakutanku lenyap, digantikan dengan kedamaian yang luar biasa. Airmataku mengalir. Segores senyum melintas di bibir, tanda syukur atas udara damai yang bisa kuhirup. Dan tiba-tiba saja, sekelilingku jadi terang-benderang. Pakaian pria yang memelukku berubah menjadi putih berkilau dan bercahaya seperti kilat. Sebentuk lingkaran kesucian mengelilingi kepalanya.
                “Anak-Ku, percayalah , kau tak pernah sendirian, Aku akan menyertai setiap langkahmu.”


Untukmu kawan,
yang hari-harimu dihiasi dengan rasa sakit.
Jangan pernah mengambil hati akan apa yang mereka katakan.
Percayalah, Tuhan menyayangimu.
Tuhan sedang menempa hatimu,
Tuhan sedang membentukmu menjadi pribadi yang kuat.
Hingga suatu saat nanti, kau bisa menggapai kesuksesan.
Amin.
                

Sabtu, 17 November 2012

Sang Arjuna


Terimakasih kepada Pak Chinda,
guru Bahasa Jawa
yang telah memberi saya inspirasi
untuk penulisan cerita ini
J


Aku sedang di kantin bersama Nita dan Dera ketika sosok itu datang. Ya, dia yang masih menjadi teka-teki untukku bahkan sampai detik ini. Aku menyayanginya. Dan kalau boleh jujur, sayangku itu bisa diartikan ‘cinta’. Konyol memang. Karena dia selama ini tak pernah benar-benar serius soal perasaannya. Aku saja yang kelewatan. Tapi, inilah faktanya. Tak bisa kupungkiri.

Aku tetap diam sembari menelisik lekuk-lekuk wajahnya yang tampan itu. Dia menatapku dengan misterius, tak tertebak. Lalu mulai mendekat.

                “Bum!” tangannya memegang lenganku.

                “Eh, ini ngapain sih?” kataku kaget. Dia tersenyum simpul.

                “Pacaran!” teriaknya. Aku tersentak. Dalam hati senang sekali. Dia sudah berani mengakui rasanya untukku. Yah, siapa tahu, tak lama lagi aku benar-benar jadi pacarnya. Nita dan Dera yang sedang membawa masing-masing semangkuk soto melirik ke arah Arjuna.

                “Aku denger lho Jun,” ucap Nita nakal.

                “Ha? Emang aku tadi ngomong apa sih?” Arjuna berlagak tak tahu. Tangannya memegang erat tanganku. “Aku tadi ngomong apa?” tanyanya sok.

                “Nggak tau, emang ada yang ngomong tadi?” aku ikut bersandiwara. Lalu kami berempat tertawa. Nita dan Dera melewatiku dan Arjuna sambil geleng-geleng kepala.

Setelah dua orang tadi bergabung dengan Agata dan Sari, tangan Arjuna mulai mengambil camilan, membayarnya lalu berjalan ke arah kolam. Aku mengikutinya.

                “Udah putus po?” ujarnya duduk di tepi kolam sambil memasukkan camilan ke mulut.

                “Udah,” kataku ikut duduk. “Tapi pake dimarahin segala,”

                “Ya bagus dong!” teriaknya. Nada suaranya terdengar jahat. Dan bodohnya, aku tak benar-benar menyadari itu. Dia tersenyum, seolah matanya mengandung arti, ‘bagus, kena kau!’. Aku mendelik.

                “Kok bagus sih?” protesku. Dia tertawa.

                “Haha, maksudnya bagus, berarti besok-besok kamu nggak dimarahin lagi,”

                “Ohh...”

Dia berdiri. “Nggak makan po?” katanya padaku ketika melihat Nita, Dera, Agata, dan Sari serius dengan makanan mereka masing-masing.

                “Enggak,” jawabku singkat.

                “Nggak laper po?”

Aku hanya tersenyum.

                “Dia kan sukanya makan cabe Jun,” celetuk Nita. Dera, Agata, dan Sari terbahak.

Arjuna membalikkan badan lalu mengambil sebuah cabai dan mendekatkannya ke mulutku. Aku tertawa.

                “Sial, diambilin beneran,” kataku menepis tangannya.

Dia ikut tertawa. Membuang cabai itu lalu memegang leherku lalu melingkarkan lengannya. Untuk beberapa detik aku menahan nafas. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang.

Arjuna!!
Aku sayang kamu!!

-oOo-

Aku berjalan keluar kelas. Menuju kantin bersama sahabat-sahabatku. Diam-diam mataku mencari-cari Arjuna. Tapi aku tak menemukannya.
Mungkin dia sudah di kantin, kata hatiku.

Kantin ramai ketika kami sampai. Aku dan Dera menunggu Nita, Agata, Sari, dan Febi menukar uang mereka dengan makanan.
Lagi-lagi mataku menyapu kantin, mencari Arjuna. Dan ketika aku menengok ke kiri, punggung dengan seragam OSIS yang kukenal itu melintas begitu saja. Dibelakangnya ada wanita bertubuh tinggi semampai, kulit putih, berkerudung rapi, dengan wajah cantik. Anissa. Sang mantan.

                Deg.

Hatiku serasa diiris-iris. Perih. Airmata meleleh tanpa mampu kupagari.

Dia tak menyapaku. Apa aku tak kelihatan?

Ini bukan kali pertamanya kulihat Arjuna dengan Anissa. Sepertinya mereka mulai dekat lagi. Aku merasa Arjuna mulai menjauhiku semenjak aku putus dengan Naftali.

Dera menutupi wajahku dengan selembar kertas saat mereka lewat. Percuma. Meski hanya satu detik aku melihat mereka, airmataku sudah jatuh entah berapa tetes.

                “Devina..” Febi menyentuh lenganku. Aku mengangguk. Mengerti maksudnya menyebut namaku.

                “Dev, barusan si Juna jalan sama...” belum sempat Nita menyelesaikan kalimatanya, Dera memelototinya dengan galak. “Aa, maaf Dev, maaf, aku nggak tau,” sesal Nita begitu menyadari aku sedang menangis. Aku hanya bisa tersenyum kecut diantara lelehan airmataku.

Ya Tuhan, sungguh, ini sakit. Kenapa dia jalan dengan Anissa di depan mataku? Apa dia itu PHP?

-oOo-

Beberapa saat lamanya aku diam. Mataku mengawasi Tere yang sedang asik mengutak-atik laptop bersampul biru laut itu. Otakku berputar-putar, mencari-cari topik yang bisa kubahas dengannya. Dan aku menemukan itu.

                “Re, apa menurutmu dia itu PHP?” tanyaku. Tangan Tere berhenti menari di atas keyboard.

                “Dia? Siapa? Juna?”

Aku mengangguk.

                “Hm? Kok kau bisa bilang begitu? Apa sebabnya?”

                “Entahlah, dia itu aneh,”

                “Maksudmu?”

                “Gimana ya? Dia memperlakukanku seperti layang-layang. Diulur, ditarik, ulur lagi, tarik lagi,”

                “Lalu?”

                “Ya aku heran. Dia bilang dia sayang. Tapi mengapa tarik ulur begitu? Kalau tak sayang, apa gunanya dekati aku? Maksudku, kalau dekati sebagai sahabat, aku tak masalah. Tapi ini? Masa iya sahabat seringkali manggil ‘sayang’? Coba pikir deh,”

Tere diam. Raut mukanya seperti sedang berpikir keras. Ditaruhnya laptop di lantai. Tangannya menopang dagu, matanya memandang ke lantai.

                “Bagaimana?” tanyaku tak sabar.

Masih diam.

                “Ayolah Re, kau biasanya cepat mengenai hal ini,” aku mendesak. Tere menghela napas.

                “Kita tak bisa ambil kesimpulan sekarang Dev. Jangan terburu. Ini masih kurang jelas.”

                “Kurang jelas? Astaga, lalu sampai kapan aku bisa mengerti dia?”

                “Sabar Dev. Hanya waktu yang bisa menjawab. Lagipula dia tipikal orang yang sulit ditebak. Kalau aku bilang PHP, iya kalau dia benar PHP. Kalau tidak?

Gantian aku yang diam.

                “Amati saja dia,” saran Tere. “Hanya itu yang bisa kau lakukan,”

-oOo-

                “Temen-temen, jangan pulang dulu ya, kita latihan upacara dulu,” suara Nita mampir ke telinga kami. Aku mengeluh. Sabtu ini panas. Pelajarannya melelahkan. Dan kami harus latihan upacara. Senin besok kelas kami bertugas.

Dengan langkah gontai, aku berjalan menuju lapangan. Meletakkan tas dan jaket di kursi depan 9ß, kelas Arjuna. Aku benar-benar malas hari ini. Mataku tak mencari-cari sosoknya. Lagipula aku masih kesal soal kejadian Kamis lalu. Saat dia jalan dengan Anissa di kantin.

                “Dev, paduan suaranya disiapin,” Pak Wicaksana menyuruhku. Aku mengangguk dan melakukannya. Siang itu aku fokus pada tugasku sebagai dirigen sampai sesosok tubuh lelaki dengan rompi hitam bergaris oranye dan biru melintas di sebelah utara, sekitar 7 meter dari tempat aku berdiri. Tiba-tiba aku kehilangan fokus. Mataku tergoda untuk menatapnya.

Arjuna terus mengawasiku di antara langkah-langkahnya. Bahasa tubuhnya berkata, ‘ayo semangat Devina!’.

Aku tertegun.

Apa maksudnya?

-oOo-

                “Hai,” Bayu, teman akrab Arjuna menyadarkanku dari lamunan. Aku hanya mengangguk, wajahku masih kutekuk.

Hening.

                “Kok, mukanya gitu banget? Kenapa?” katanya mengamati raut wajahku.

Sebenarnya aku malas cerita. Tapi menatap sinar mata Bayu, dan mengingat kalu dia adalah teman akrab Arjuna, kupikir tak ada salahnya ia tahu persoalanku. Siapa tahu dia bisa bantu.

                “Kamu mau sembuh dari galau?” Bayu bertanya ketika aku mengakhiri ceritaku. Tentu saja aku mengangguk. Dia tersenyum penuh arti. “Oke, liat aja nanti siang. Istirahat les.” Lanjutnya. Lalu dia berbalik meninggalkanku.

Aku hanya melongo.

Apa lagi ini?

-oOo-

Akhirnya jam pelajaran terakhir pun usai. Aku sedikit bernapas lega. Kulirik jam. Bagus, aku punya 40 menit sebelum masuk les.

Dera mendekatiku. Dan kami berjalan menuju kantin. Setelah sampai, mataku menangkap lelaki dengan tas abu-abu tua bergaris cokelat muda. Senyumku mengembang. Itu Bayu.

                “Hei, gimana?” kataku to the point.

                “Oh, aku tadi tanya sama Juna, ‘kamu dulu kan deket banget sama Devina, kenapa sekarang jadi jauh banget?’ “

                “Terus?” kataku penuh perhatian.

               “Terus dia jawab gini, ‘loh? Suka-suka aku dong, terserah aku. Kan sekarang udah ada Anissa. Ngapain ngurusin dia?’ gitu,”

                Deg.

Aku serasa disambar petir. Hanya bisa melongo dan dengan lirih berkata ‘hah?’ begitu mendengar kalimat Bayu. Hatiku mulai berkecamuk dengan emosi meluap layaknya anak kecil yang tak diberi mainan.

Apa maunya? Apa dia pikir aku layang-layang yang bisa ditarik-ulur? Aku manusia! Wanita yang punya hati dan rasa!

Dera muncul sambil membawa segelas air mineral. Dengan wajah datar ia menatapku, lalu Bayu. Aku meliriknya beberapa detik. Oke, aku tak bisa lebih lama menahan emosi ini.

                “Oke, makasih bantuannya ya, aku ke kelas sekarang,” kataku pada Bayu. Dia tersenyum dan mengangguk.

                “Kita bisa ke kelas sekarang?” aku mendekati Dera sambil berusaha menahan airmata yang berebut ingin keluar ini.

                “Dev? Dev? Kenapa?” Dera panik dan mengikuti langkah cepatku.

Bruk!

Kulempar tas dan menjatuhkan diriku di kursi kelas 9ζ. Kusilangkan tangan di meja dan meletakkan kepalaku di atasnya.

Hening.

Lalu airmata.

                “Dev? Ada apa? Bayu bilang apa?” Dera menanyaiku dengan takut-takut. Sesenggukan kuceritakan semuanya sesingkat mungkin.

                “Astaga, maunya apa sih?” katanya mangkel. Aku hanya mengangkat bahu dan meletakkan kepalaku lagi. Membiarkan bertetes-tetes airmata keluar demi dia. Arjuna.

-oOo-

Senin, istirahat setelah jam pelajaran ke-4.

Aku sudah cukup bisa menguasai diriku. Sudah bisa terbahak seperti biasa meski dalam hati luka itu masih ada.

Kuberjalan menuju kantin dengan Febi sembari membahas topik-topik ringan di sekitar kami.

                “Juna nanyain kamu,” kata Dera. Ternyata dia sudah mendahului aku.

                “Tanya apa?”

                “Devina mana?”

                “Terus kamu jawab?”

                “Nggak aku jawab. Habisnya kamu langsung nongol di sini,”

                “Ohh...”

Kusapukan pandanganku. Tak berapa lama aku menemukannya di antara sekian siswa yang berebut mengambil jajanan. Jantungku berdegup kencang. Aku melirik Dera.

                “Tanya aja,” katanya seolah mengerti apa yang kupikirkan. Aku mengangguk. Kudekati dia, kusentuh bahunya. Dia menoleh.

                “Kamu mau balikan sama Anissa po?” bisikku tepat di telinga kirinya. Dia menangkat alis. Seperti heran dengan pertanyaanku.

                “Ha? Enggak tuh,”

Aku tersenyum. Manggut-manggut.

                “Kenapa sih?” tanyanya balik dengan logatnya yang khas. Matanya menyimpan kebingungan. Aku menggeleng.

                “Enggak, nggak papa kok,” ujarku singkat lalu berbalik meninggalkannya sebelum dia menghujaniku dengan pertanyaan yang memojokkan. Dera mengikutiku. Menjajari langkahku.

                “Gimana?” tanyanya.

                “Katanya sih enggak,” jawabku. Dera mengangguk. Aku melirik ke arah kiri-bawah. Dan kurasa ada langkah yang kukenal mendekati kami.

                “Ada apa sih? Kok kamu bisa tanya gitu?” Arjuna menanyaiku sambil berusaha mengimbangi langkahku. Aku sedikit bingung bagaimana menjawabnya.

                “Enggak, cuma tanya aja kok,”

                “Kok kamu bisa tanya  gitu?”

                “Haha, enggak papa, soalnya sempet denger dari temen, jadi aku tanya ke kamu,”

                “Oh,”

Hening.

                “Kamu enggak bakal balikan kan?” tanyaku memastikan. Dia melirikku.

Hening.

                “Kalo iya, kenapa?”

-oOo-

Aku langsung menggenggam handphone-ku lalu mencari-cari nama Tere di kontak.
Nah, ini dia. Kutekan tombol call.

Tuuu...t... tuuu...t...

                Halo?

                Halo, Tere? Kau di rumah?

                Ya. Ada apa?

                Aku mau cerita. Nanti.

Kuakhiri panggilan.

-oOo-

Akhirnya sampai juga. Kuketuk pintu rumahnya. Seorang wanita paruh baya muncul di balik pintu.

                “Oh, kau nak,” beliau tersenyum ramah. Tangannya mempersilahkan aku masuk.

                “Ya tante. Tere ada?”

                “Ada, di kamarnya,”

Aku langsung menuju kamar Tere, lalu masuk. Kulihat dia sedang membaca sebuah buku. Ditutupnya buka bersampul siluet wayang itu begitu melihatku.

                “Cerita apa?” tanyanya saat aku duduk di tempat tidurnya.

                “Tentang Juna.”

                “Ha!” teriaknya. Seolah tebakannya benar. “Sudah kuduga,” ia tertawa. “Ini,” dia menyerahkan buku tadi. Aku menerimanya. Kubaca judulnya. Sejarah Wayang Purwa.

                “Cari nama Arjuna di situ. Baca keterangan tentang istrinya untukku,”

Aku menurutinya.

Aruna, Arjuna, Arjuna. Tanganku mencari-cari nama itu di daftar isi. Nah ketemu. Aku tersenyum. Halaman 188.

Kubaca penjelasannya dalam hati.

                “Sudah ketemu?” suara Tere memecah keheningan. Aku mengangguk. “Baca,” katanya.

                “Istrinya tak terbilang jumlahnya, sehingga menjadilah peribahasa dalam bahasa Jawa untuk mempersamakan seorang yang beristri lebih dari seorang atau yang berulang-ulang kawin,..” aku memandang Tere dengan tatapan tak mengerti. “...dengan Arjuna,” kututup buku itu.

                “Berapa istrinya” Tere menanyaiku.

                “Banyak,”

                “Banyak,” ulangnya. “Berarti dia pantas punya nama Arjuna,”

Diam.

                “Arjuna. Arjuna. Tampan, sakti, berjiwa satria, playboy,” Tere menjentikkan jarinya. “Dan mungkin dalam duniamu akan lebih tepat bila kutambahkan,..” ditatapnya aku penuh arti. “..PHP,”

Aku mulai sadar.

Arjuna?

                Tampan.

                                Playboy.

                                                PHP.



KEPARAT!!