Sabtu, 17 Oktober 2015

Seorang Puteri tanpa Hati..

Untuk seorang wanita yang kucintai dengan lebih dari segenap hati.
Aku tak paham apa yang terjadi sampai aku menyadari: lambat laun kasihmu mulai pergi. Tadinya aku memilih tidak merasakan semua ini. Aku memilih kamu, dan otakku penuh dengan banyak ide bagaimana membuat senyummu tetap ada. Bagaimana membuat hati ini tetap untuk kamu, satu-satunya. Dan bagaimana rasa ini terus menerus mengisi, aku, kamu, kita. Harusnya aku sadar, sekalipun kamu adalah manusia kesayangku, tak menutup kemungkinan kamu akan menutup hati untuk perjuanganku selama ini, dan memilih pergi. Entah untuk mengejar bahagiamu dalam suatu rutinitas baru, atau kamu telah bertemu yang lebih dari aku.
Sebelum semua sakit ini menjalar ke kapiler, aku berusaha tetap tenang dan menuruti hatimu, selalu. Karena buatku tak ada yang selain kamu. Tak ada orang lain yang perlu kukejar lagi. Entah kamu. Harusnya aku tahu.
Aku tidak ingin bermain perhitungan tentang kamu. Tentang sekian banyak peluh, airmata, kalau perlu darah nadiku sendiri kucurahkan demi kamu. Tak lagi kuteteskan satu per satu, karena kurasa, tetes demi tetes itu tak bisa membuatmu terus menyayangiku. Jadi, kucurahkan semua. Semuanya. Berapapun. Demi kamu. Dan hal yang paling menusuk adalah ketika aku tahu, untuk menyisihkan waktu dan menghargai akupun kamu tak sempat, juga tak mau.
Waktuku habis untuk terus memperjuangkan kamu. Tapi, kamu anggap semua itu tak berarti. Kamu anggap aku punya banyak jam dalam satu hari, sebegitu banyak sisa jam luangku hingga aku bisa melakukan semua ini. Demikian murahnyakah aku di matamu? Demikian biasanyakah perjuanganku? Demikian tak bermaknakah rasa dan hati ini?
Ah sayang, harusnya kamu bilang dari awal sebelum rasa percaya ini membunuhku sendiri.
Aku tak ingin lagi mengemis. Aku tak mau bersujud untukmu. Aku tak mau menangis entah berapa gelontor demi kamu. Kamu, yang tak pernah menganggap aku. Tapi aku punya hati yang harus kujaga sendiri (karena aku tahu kamu tak bisa lagi menjaganya tetap utuh dan tak tersakiti). Ya Tuhan, sepahit inikah memperjuangkan kamu?
Dan bila aku jadi kamu dan kamu jadi aku, apa yang bakal kamu lakukan? Apa yang bakal kamu perjuangkan? Apa yang bakal kamu ikhlaskan demi aku bahagia, bersama kamu? Aku mati-matian menjaganya. Tolong, jangan buat aku menyesal telah melakukan ini semua, karena rasa ini terpatri untukmu.
Iya, aku paham di sudut pikirmu kamu ingin bilang bahwa aku lelaki terbodoh dan tertolol. Aku tahu. Akupun tahu, aku telah hancur lebih dari berkeping-keping. Dan tak adakah rasa di hatimu?
Sekarang aku merasa kamu telah pergi sebelum tangan ini mampu menggapai.
Katakan, sayang, kalau saja kamu masih sedia berbicara.
Apakah ada hal yang sangat kurang buat hatimu sampai kamu menginjak-injak aku demi kepuasanmu sendiri?

Dari seorang lelaki bodoh yang demikian takut kehilangan kamu, dan rasamu.

Senin, 05 Oktober 2015

Kita, abadi. Bisa?

Sejauh apapun kaki pelangkah pergi, hanya rumahlah tempat kembali.

“Nanti jadi, kan?” tanyamu harap-harap cemas di ujung telepon. Aku merasa harus tertawa sebelum menjawabnya.
“Jadi. Jangan khawatir.”
“Aku takut kamu tiba-tiba punya keinginan untuk membatalkan.”
“Hahaha,” lagi, aku harus tertawa dan kali ini lebih keras. “Aku tidak sejahat itu. Sebegitunyakah kamu takut?”
Kamu menggeleng. Aku tahu.
“Baiklah, sampai jumpa nanti.” Senyumku mengembang. Aku tidak yakin apakah kamu perlu tahu betapa bahagianya aku.

Kuakui, ini konyol. Aku bahkan tak mampu mempercayai diriku sendiri tentang hal ini. Bagaimana mungkin selama tiga tahun aku mengenalmu, kita belum pernah menghabiskan waktu dengan menonton bersama? Dan sekarang aku sebahagia ini. Andai kamu tiba-tiba muncul dari lubang speaker telepon lalu berdiri tepat di depanku, kupastikan aku telah menghambur untuk memelukmu erat, mungkin tak kulepaskan sampai aku sadar kita telah sama-sama kehabisan napas.

Sungguh, aku sebahagia itu.

Waktu kini mulai tarik ulur denganku. Aku paham benar ia relatif. Selalu mampu memanjang dan memendek, menjadi begitu lama atau terlalu singkat sesuai dengan keadaan. Ia hanya tak mampu kembali, mengulang apa yang telah dilalui. Dan dalam situasi macam ini ia akan memanjang seolah aku masih perlu menunggu lama untuk bisa melihatmu secara nyata.

***

Kakiku sudah berdiri di atas karpet sepanjang ruang ini. Hati sudah meloncat-loncat sejak tadi. Aku tahu seluruh sel tubuhku tak sabar menunggu saat kamu tiba dan bayangmu tertangkap mata.

Dan disanalah kamu. Berjalan mantap menapaki aspal menuju gedung ini. Kacamata cokelat. Kemeja putih kotak-kotak rapi. Celana jeans cokelat. Rambut klimis rapi. Dan tatapan itu. Mata itu. Tak mampu lebih lama aku menatap. Teriakan ini bersarang dan mencekik kerongkongan. Tak menyangka melihatmu dengan gaya seperti itu. Aku seketika membayangkan adegan slow-motion seperti film-film Hollywood, dan bagaimana segala efek itu membuatmu seperti malaikat. Malaikat Hujanku, satu-satunya.

Kamu benar-benar setampan itu. Gila, aku bahkan baru tahu.

Kamu mendekat, aroma parfum menyeruak. Dingin ruang ini seolah tak terasa, dan bodohnya, aku merasa hidup tinggal sejenak hingga aku perlu memelukmu sampai napas terakhir. Astaga, kamu memang penghipnotis handal.
“Ini,” katamu lirih sambil memberikan selembar uang limapuluh ribu.
Tatapanmu sepertinya membuat uang itu bertransformasi jadi tiket masuk bioskop. Sempurna!
Kutarik tanganmu, tak sabar ingin segera masuk ruang dan mewujudkan semua ini. Mimpiku bakal jadi nyata! Astaga, padahal aku cuma ingin bisa menonton film bersamamu.

***

“Filmnya sudah mulai, entah berapa menit. Dan kamu masih tak tenang?” tanyaku, mulai risih dengan gerakan-gerakan kecilnya. Seperti seorang bocah terjebak dalam ketidaknyamanan. Aku tak mau bocah kesayanganku mengalaminya, itu menganggu.
“Ya. Bisa kamu antar aku ke toilet?”
Hah? Aku?
“Astaga, kamu tidak berani ke toilet sendirian?” aku nyaris tertawa.
“Sudah, ayo,” dia menarik tanganku, dan mau tak mau aku mengikutinya.

Jalannya cepat sekali. Aku tak tahu apa itu karena dia menahan ingin ke toilet atau ada sesuatu yang lain. Aku cuma bisa diam menunduk dan ikut jalan cepat, karena aku tahu, bioskop bukan tempat yang tepat untuk menanyakan ‘kamu kenapa, sih?’. Aku sudah merasa cukup konyol jadi tak perlu kulakukan itu atau aku bakal dipecat dan dicoret dengan spidol permanen dari daftar manusia yang dikenalnya. Hahaha.

Tirai pembatas antara ruang film dan jalan keluar tersibak. Dia sudah ada di balik tirai itu. Sebenarnya aku balik arah sejenak untuk memastikan tirai itu sudah tertutup sempurna, atau bakal ada mata yang tertanggu akibat cahaya di balik tirai menyeruak masuk ke ruang film.

Lalu aku kembali menghadap dia.

Sesuatu yang dingin dan lembab tiba-tiba menempel di jidatku sebelum kesadaranku pulih untuk tahu apa yang terjadi.

“Aku rindu kamu. Aku rindu pulang ke rumah buat hatiku. Bisakah kita tetap baik-baik seperti ini?”

Minggu, 16 Agustus 2015

Salam rindu, Arjuna

Halo Arjuna. Sudah lama aku tak menyapa. Kesibukan membentang luas di antara kita. Waktu mulai lupa dengan masalalu, aku dan kamu yang bisa terjun dalam cerita yang sama. Aku yang membawa hati dan rasa, entah kamu. Hahaha.
Jadi, apa kabar? Kudengar karirmu menanjak. Kudengar pula penggemarmu bertambah. Lalu hatimu bagaimana? Adakah ia masih seperti yang dulu? Arjuna yang kukenal benar-benar membuat kaum hawa jatuh dalam kiasan hati, lalu jatuh sungguhan. Hahaha. Jangan berubah ya. Karena tanpa manusia-manusia macam kamu, mungkin takkan ada hawa yang bisa bersyukur atas apa yang bisa dinikmatinya selama ini. Semoga saja persepsiku salah.
Hei, aku mulai sadar kalimatku berisi kata-kata tak bermakna dan tanpa aturan. Tapi sungguh aku semangat menulis ini. Aku merindukanmu. Serius. Sumpah. Swear. Entah kamu. Aku tak pernah berharap kamu bakal rindu aku karena aku tahu siapa kamu dan bagaimana hatimu. Hebat ya, baru ada dua wanita yang bisa menaklukkanmu. Bundamu, dan dia. Ah salut benar aku pada mereka. Mungkin suatu saat aku perlu bertemu mereka dan mewawancarai, supaya aku juga bisa menaklukkan kamu. Oh, hahaha. Tidak, tidak. Aku cuma bercanda.
Aku merindukamu, sungguh! Cuma itu yang ingin kukatakan sebenarnya. Aku masih sering menertawai masalaluku soal kamu. Waktu kita duduk berjajar, membicarakan keadaan sekitar, lalu aku, lalu kamu, mulai hidup kita, dan yang terakhir: hati. Aku takkan pernah bisa lupa. Kamu salah satu dari sekian banyak manusia yang kusyukuri benar karena sudah terjun ke kisah ini, mengisi hari, menandakan seolah kamu juga bawa hati. Tapi ternyata aku salah! Oh, pernah sebodoh itu ternyata aku.
Hmm, otakku mulai buntu. Kuakhiri saja tulisan ini.

Oh iya, jadi kapan kita bisa bertemu? Hahaha.

Kamis, 23 Juli 2015

Tentang 'dia' #3

Cerita sebelumnya: Tentang 'dia' #2
—One last time, I need to  be the one who takes you home.
“Jadi, apa salah ketika kamu suka dia, padahal kamu sudah ada yang punya?”
Aku cuma diam.
“Kurasa tidak,” jawabnya lirih setelah tujuh belas detik berlalu. “suka itu masalah hati—“
“Tidak selalu.” Potongku cepat. “Kalau kamu cuma bicara masalah suka atau tidak, itu campuran antara otak dan hati.”
“Apapun katamu saja,” ia menepiskan tangan. “yang jelas, itu masalah subjektif, kamu tidak bisa memaksa hati untuk suka dia, atau siapapun itu, dan soal hatimu sudah ada yang punya atau belum pun tak jadi masalah.”
“Lalu?” aku menaikkan alis. Masih belum paham soal apa yang dibicarakannya, siapa manusianya, dan apa tujuannya.
Dia menarik napas panjang, memandang langit-langit kamarku beberapa saat, dan mulai bercerita.
***
Aku bertemu dia pada suatu senja. Senja yang tidak istimewa, begitu pula sosoknya kala pertama. Aku cuma sempat mengerling sejenak, sekadar memastikan ada manusia di sampingku. Dan sudut mataku menemukan dia. Sosoknya kurus tinggi, wajah lonjong, hidung mancung, bibir tipis dengan warna kulit sawo matang, seperti kebanyakan pria. Sungguh, dia biasa saja. Tak pernah sekalipun aku berpikir bakal punya rasa bahkan mulai percaya untuk titip hati. Lagipula, aku sudah punya kekasih. Tapi sekali lagi, manusia takkan mampu mengendalikan apa yang disebut rasa, hati. Maka, aku membiarkan semua ini berlalu.
Entah bagaimana ceritanya, kurasa sudah jalannya kami dipertemukan lagi. Pikiranku mulai menyerempet hal-hal yang sedikit tidak masuk akal, dan aku mulai memperhatikan dia. Tingkahnya lucu, dia usil dan pembawaannya santai, juga menyenangkan. Aku mulai terpaku, senyum mulai tersungging tanpa kutahu. Aku merasa ada sesuatu yang bangkit, rasa yang lama mati, kini membuka mata dan siap terbangun, hidup lagi, mencari mangsa. Lantas kutepis bayangan itu cepat-cepat. Aku tak ingin satu detik membuatku terlambat.
Tapi Sang Waktu benar-benar hebat. Dibuatnya aku kalah, telak.
Kutatap langit-langit kamarku, sendu mataku menyapu, dan aku tahu, aku telah terjebak rindu. Tapi bagaimana bisa? Aku seketika merasa berdosa. Berdosa karena tak mampu mengendalikan hati ini, dan menghalangi rasa yang memang harusnya tak ada.
Airmataku meleleh pelan-pelan. Jantungku serasa tertohok, dan sesak menyerang. Aku memekik memanggil Tuhan. ‘Tuhan, Tuhan!’ Tolong aku. Rasaku tak lagi sama. Hatiku tertambat pada manusia yang bukan semestinya.
Aku mulai gila. Logikaku gagal bekerja. Tapi kutahu, hati sudah ambil kendali atas seluruh organ dan pancaindera. Mulai kucari segala sesuatu yang sekiranya bersangkutan dengan dia. Apapun itu. Aku mestinya sadar kalau bakal ada kemungkinan dia ada yang punya, karena akupun begitu. Namun, hasrat ini menggebu, tak mau tahu.
Dan halaman semu yang terpapar dari monitorku diutus, untuk membuatku sadar, aku dan dia tidak ditakdirkan bersama.
Hatinya sudah ada yang memiliki. Sungguh. Astaga, bagaimana mungkin aku bisa terima?!
Aku mematung beberapa saat sebelum akhirnya kemampuan menguasai diri bisa kuterapkan dengan benar. Airmata jatuh satu-satu. Tapi aku merasa bahagia. Aku merasa tenang dan lega, karena bisa menikmati apa yang menjadi bagianku. Apa yang harus kucukupkan buat diriku sendiri. Apa yang harus kusyukuri sudah kudapat dan kurasakan selama ini.
Aku membisikkan sesuatu padanya. Kukirim bersama hembusan angin dan karbondioksida yang keluar dari mulutku. ’Biarkan aku mengantarmu pulang untuk terakhir kalinya. Biarkan aku memastikan kamu aman dan baik-baik saja. Setelah itu, aku bakal kembali ke tempat harusnya aku berada. Aku berjanji. Bakal kutarik lembut hatiku, lalu pulang. Sekalipun aku telah kalah, senyumku mengembang, langkahku mantap dan lebar. Aku ikhlas, karena tak perlu aku tertatih dan berdarah-darah.’
‘Untuk kamu, jangan lupa bahagia, ya.’
***
And I know, and I know, and I know
She gives you everything
But, boy, I couldn’t give it to you
And I know, and I know, and I know
That you got everything
But, I got nothing here without you
So, one last time
I need to be the one who takes you home
One more time, I promises, after that I’ll let you go
***


Terimakasih untuk lagu yang mengispirasi, Ariana Grande!

Rabu, 17 Juni 2015

Pained. Disappointed.

Sebegitunyakah rasa sakit merenggut otakku? Aku tak tahu. Yang benar aku paham aku mulai benci dengan segalanya, diri sendiri, juga kamu. Sekelilingku seakan seperti harapan yang terlalu ditinggikan. Hal yang diam-diam kusebut dalam doa berbalik dan menusuk. Tak perlu kujelaskan bagaimana rasanya. Karena aku paham kamu tahu apa itu luka.
Aku benci menyalahkan kamu dan menempatkan namamu jadi penyebab semua ini. Tapi kalau nyatanya begitu, bisa apa aku?
Ingin rasanya aku menuntutmu mempertanggungjawabkan semua ini. Karena waktu telah mengambil hampir semua hartaku, manusia-manusia kesayanganku, sahabatku, bahagiaku. Lalu aku sadar kamu bukan Tuhan. Kamu manusia yang seperti lainnya, punya banyak salah dan dosa. Dan aku menyesal akan satu hal: mengapa kamu jatuh dalam salah yang satu itu?
Aku mau jujur. Sejak saat itu, aku semakin terbiasa dengan pedih, perih, duka, dan luka. Aku mulai terbiasa menikmati segalanya dalam porsi yang jauh lebih besar dari yang selama ini biasa kumakan pelan-pelan. Lihatlah, bahkan sahabat-sahabatku mulai memberi senyum sinis, acuh tak acuh denganku. Mereka mengataiku bodoh. Kamu tahu apa saran pertama mereka? Mereka bilang putus saja! Suatu kesalahan besar mempertahankanmu. Tapi aku masih memikirkan bagaimana perasaanmu. Aku terima mereka mengataiku, menjauhiku, karena aku masih memikirkan kesempatan kedua. Siapa tahu kamu bisa berubah. Tapi entahlah. Kadang aku berpikir mungkin seharusnya aku ikut saran mereka.
Aku terlalu kecewa. Dan aku tak bisa berpura-pura bersikap manis, karena hatiku tak mau berhenti menangis.
Aku benci airmata duka, sungguh benci.
Tapi berusaha kunikmati karena aku masih memikirkan hatimu. Entah kamu. Masih untung aku bisa jaga mulut, tak kulontarkan caci maki atau sumpah serapah ini. Pahamilah, aku sakit menyakitimu, tak cuma kamu. Berharap saja aku bisa bertahan, karena otakku memaksa lari lalu menyerah.

Dan di lembar ini, aku kehilangan segala kemampuanku berkata-kata.

Sabtu, 30 Mei 2015

Kopi Sabtu Malam

Aku sibuk mereka-reka suasana macam apa yang bakal kuhadapi nanti. Terlalu banyak bayangan berkecamuk, berputar-putar, dan otak belum dapat bantuan dari hati untuk bisa menyatukan segalanya tepat di satu titik. Halte itu belum dapat terwujud. Dan yang lebih menyebalkan, Waktu berjalan malas-malasan seperti manusia kurang tidur yang baru saja bangun tidur. Lalu sibuk mengingat-ingat mimpi. Melamun. Topang dagu. Tolonglah, Sang Waktu. Apa perlu kusiram air agar jarummu bergerak normal?
Setelah kurasa telah lama menunggu, manusia kesayanganku akhirnya datang. Senja, angin, dan sisa cahaya surya membawa hati untuk siap bertemu kesimpulan. Maka timbullah sebuah tanya: akankah ekspektasi kali ini berbanding lurus dengan realita?
Aku harus puas dengan berharap: semoga.
Dan, disinilah aku.
Pintu terbuka, semerbak harum kopi datang ke hidung, diterjemahkan dengan baik oleh otak, dan menjalar memenuhi benak. Entah mengapa, aku merasa senyaman berselimut saat hujan. Mataku bergerak horizontal, menangkap apapun yang memungkinkan untuk direkam dan disimpan otak. Tempat ini demikian kecil untuk manusia yang banyak tingkah seperti aku. Tapi percayalah, hati yang mulai mencintai kopi bakal puas bisa singgah disini. Dan kalau saja aku tak mampu menguasai diri, kupastikan kakiku bakal tetap diam di tempat, dan entah berapa menit lewat disitu. Bagaimana mungkin lantai kayu biasa bisa memberi kesan yang begitu istimewa? Seperti memelukmu, kaki ini tak rasanya tak mau beranjak.
Sebagai pemula untuk urusan kopi, aku masih belum pandai memilih mana yang sekiranya bisa bersahabat baik dengan lidah dan lambungku. Lalu, setelah menimbang dan sedikit memeras otak, hatiku mengarah pada espresso. Dan itu saja yang sanggup kupilih. Tolong jangan tanya aku minta jenis kopi aku yang kumau, atau aku bakal diam melongo, sungguhan tak mengerti. Apa sajalah, kataku. Yang penting jangan terlalu berat karena lambungku bisa saja meronta sampai sekarat.
Mataku masih belum puas melihat apapun yang kelihatan di ruang ini. Dan meja di pojok belakang dengan kursi yang masuk golongan tinggi untukku bisa jadi perpaduan yang manis. Kini, waktu jadi terlampau cepat berlalu.
Segalanya ada disini. Aroma, tulisan, perabot-perabot dan apapun yang belum pernah menjamah otakku sudah antre minta tiket masuk. Bisakah sabar? Aku sedang sibuk menata bahagia hati ini.
Seketika otakku macet dan aku megap-megap mencari udara. Yang kuhadapi kini sulit dilukiskan dengan kata-kata. Aku cuma bisa mengemut pelan-pelan, padahal yang harus masuk sebanyak ini. Sekarang aku paham, adakalanya senyuman dibalik bekapan, teriakan tertahan dan mata yang berkaca-kaca mampu bercerita jauh lebih baik dari deretan kata.
Kopiku datang. Kopi sungguhan kali pertamaku. Oh Tuhan, kalau saja di tanganku ada mesin laminating, kalau saja ada kamera jatuh dari langit dan menembus langit-langit, kalau saja ada serbuk Tinkerbell dengan bahan utama sari bunga edelweiss, pasti bakal kuabadikan semua ini.
Pelan-pelan, aku menikmati aromanya. Arabika. Tajam dan menggoda. Entah mungkin aku terlalu berlebihan, tapi aku merasa perlu melakukan semua ini, seperti ritual. Ah, memang aku terlalu.
Bibirku mendekat, aroma dan panasnya mulai bersahabat. Sampai lidah mencecap. Gila! Aku jatuh cinta pada detik pertama. Rasa asam dan pahitnya terlampau kuat, pekat, namun memikat. Jalarannya menyebar cepat seperti bisa. Lagi, otakku macet semua terlalu indah dan aku belum pernah merasa sebahagia ini.

Seketika pahamlah aku, kopi dan bahagia ternyata sudah lama berjalan pada satu jalur dengan arah yang sama. Seketika sadarlah aku, mengapa sekian banyak orang jatuh hati pada si biji istimewa. Seketika tahulah aku, senja, angin, dekapan, Sang Waktu, macam-macam aroma dan segala hipotesa yang tadi betulan memenuhi otak dan benak, berlari bersama menuju satu titik untuk akhirnya pecah, melebur, meluber, dan melebar bersama dengan datangnya satu simpul ini: kopi sabtu malam.
Terimakasih, Kopi Ketjil dan kamu!

Kamis, 14 Mei 2015

Rokok, kopi, dan cinta pahit

Aku cuma ingin bertanya; akankah semua jomblo semenyedihkan itu?

Dia masih terlihat baik-baik saja kala senja memberiku kesempatan bertemu dia lagi. Kaos polo merah, celana jeans coklat muda, tas selempang motif tentara, sepatu abu-abu, dan tentu saja, rambut lurus gondrong. Masih seperti yang kemarin, mungkin belum ada sebulan lalu. Tapi aku tahu, matanya tambah sayu. Rasanya ingin aku bertanya, masihkah karena wanita yang sama? Karena sedihnya tersirat jelas. Untung saja aku masih sadar diri, belum saatnya tanya itu merambat ke telinganya. Dukanya cukup menggambarkan, dan aku dibuat paham dengan kerlingannya.

                “Kalau dia ikut main, apa boleh?” tanya kekasihku. Aku mengangguk cepat, tentu saja. Dia baik, dan tak ada salahnya menemani orang galau. Ups, mungkin aku terlalu frontal.

Kami sampai di sebuah tempat makan, dan aku begitu bersemangat, kekasihku juga, tapi dia tidak. Pekikannya tertahan, lagu galau menyambut. Aku kaget mendengar suaranya jadi seberat itu. Sebegitunyakah rokok menenangkannya? Aku seperti ingin mencukupkan semua ini, tapi waktu masih membiarkan perasaannya berbalik menusuk hatinya sendiri. Ah, harusnya seperih itu?

Dia akhirnya duduk satu meja dengan kami, dan tangannya tak berhenti menari di atas layar sentuh besar itu. Aku tidak merasa perlu memperhatikan dia, dan mataku tak bertahan pada sosoknya, tapi entah mengapa hatiku bisa secepat ini menerjemahkan tiap ekspresinya. Lalu aku jadi sedih. Dia berulang kali menunjukkan obrolannya dengan wanita harapan itu, dan aku susah payah menahan kalimat nasehatku. Belum saatnya, belum saatnya. Waktu belum berkenan membuka mulutku.

Rokok pertamanya sudah habis. Rasa hatinya makin mengiris.

Jangan terlampau halus hati, dik. Atau kamu bakal cepat mati. Bisa juga sama saja bunuh diri. Adakah yang perlu kulakukan untuk membuatmu sadar bahwa sekarang tahun 2015? Kita sudah berjalan jauh, dan terlampau jauh dari jaman penciptaan. Wanita tak cuma satu. Cinta tak sepahit itu. Bagaimana mungkin hatimu cepat sembuh kala kamu terus memaksanya merasakan sakit? Semua orang paham segala sesuatu perlu diperjuangkan, apalagi cinta. Semua orang tahu cinta adalah bertahan dalam kesetiaan, dan cinta yang paling istimewa adalah cinta yang bertahan sekalipun tak ada hal yang bisa dipertahankan. Tapi bukan begitu caranya. Selalu ada kalanya hati perlu mundur dari semua perjuangan itu, menyendiri dan menata kembali puing-puing yang dihancurkan bom waktu. Kamu perlu diam sejenak, menarik napas, dan membuka mata. Ada banyak wanita baik diluar sana. Jangan memaksa, karena logika dalam cinta jelas perlu untuk ada bahagia.

Andai aku kenal dengan wanita harapanmu, kupastikan dia menangis kalau mendengar ceritaku soal kamu. Tak dapat lagi airmata terbendung kala retina menerima bayangmu malam ini. Adakah yang lebih menyedihkan dari melihat lelaki macam kamu menyimpan duka dibalik senyum paling lebar dan tawa paling lepas?

Baru ini aku lihat laki-laki galau. Dan itu benar-benar menguras rasa. Untung saja aku tidak bawa hati waktu memperhatikan tingkahmu. Kalau iya, entah bagaimana aku bisa menahan airmata. Ini terlalu sedih untuk dilihat, apalagi dinikmati.

Cepat dapat penyembuh, dik. Kopi pahit pasti punya rasa unik yang orang artikan nyaris sama dengan bahagia. Dan, cinta takkan pernah sepahit itu.