Sabtu, 30 Mei 2015

Kopi Sabtu Malam

Aku sibuk mereka-reka suasana macam apa yang bakal kuhadapi nanti. Terlalu banyak bayangan berkecamuk, berputar-putar, dan otak belum dapat bantuan dari hati untuk bisa menyatukan segalanya tepat di satu titik. Halte itu belum dapat terwujud. Dan yang lebih menyebalkan, Waktu berjalan malas-malasan seperti manusia kurang tidur yang baru saja bangun tidur. Lalu sibuk mengingat-ingat mimpi. Melamun. Topang dagu. Tolonglah, Sang Waktu. Apa perlu kusiram air agar jarummu bergerak normal?
Setelah kurasa telah lama menunggu, manusia kesayanganku akhirnya datang. Senja, angin, dan sisa cahaya surya membawa hati untuk siap bertemu kesimpulan. Maka timbullah sebuah tanya: akankah ekspektasi kali ini berbanding lurus dengan realita?
Aku harus puas dengan berharap: semoga.
Dan, disinilah aku.
Pintu terbuka, semerbak harum kopi datang ke hidung, diterjemahkan dengan baik oleh otak, dan menjalar memenuhi benak. Entah mengapa, aku merasa senyaman berselimut saat hujan. Mataku bergerak horizontal, menangkap apapun yang memungkinkan untuk direkam dan disimpan otak. Tempat ini demikian kecil untuk manusia yang banyak tingkah seperti aku. Tapi percayalah, hati yang mulai mencintai kopi bakal puas bisa singgah disini. Dan kalau saja aku tak mampu menguasai diri, kupastikan kakiku bakal tetap diam di tempat, dan entah berapa menit lewat disitu. Bagaimana mungkin lantai kayu biasa bisa memberi kesan yang begitu istimewa? Seperti memelukmu, kaki ini tak rasanya tak mau beranjak.
Sebagai pemula untuk urusan kopi, aku masih belum pandai memilih mana yang sekiranya bisa bersahabat baik dengan lidah dan lambungku. Lalu, setelah menimbang dan sedikit memeras otak, hatiku mengarah pada espresso. Dan itu saja yang sanggup kupilih. Tolong jangan tanya aku minta jenis kopi aku yang kumau, atau aku bakal diam melongo, sungguhan tak mengerti. Apa sajalah, kataku. Yang penting jangan terlalu berat karena lambungku bisa saja meronta sampai sekarat.
Mataku masih belum puas melihat apapun yang kelihatan di ruang ini. Dan meja di pojok belakang dengan kursi yang masuk golongan tinggi untukku bisa jadi perpaduan yang manis. Kini, waktu jadi terlampau cepat berlalu.
Segalanya ada disini. Aroma, tulisan, perabot-perabot dan apapun yang belum pernah menjamah otakku sudah antre minta tiket masuk. Bisakah sabar? Aku sedang sibuk menata bahagia hati ini.
Seketika otakku macet dan aku megap-megap mencari udara. Yang kuhadapi kini sulit dilukiskan dengan kata-kata. Aku cuma bisa mengemut pelan-pelan, padahal yang harus masuk sebanyak ini. Sekarang aku paham, adakalanya senyuman dibalik bekapan, teriakan tertahan dan mata yang berkaca-kaca mampu bercerita jauh lebih baik dari deretan kata.
Kopiku datang. Kopi sungguhan kali pertamaku. Oh Tuhan, kalau saja di tanganku ada mesin laminating, kalau saja ada kamera jatuh dari langit dan menembus langit-langit, kalau saja ada serbuk Tinkerbell dengan bahan utama sari bunga edelweiss, pasti bakal kuabadikan semua ini.
Pelan-pelan, aku menikmati aromanya. Arabika. Tajam dan menggoda. Entah mungkin aku terlalu berlebihan, tapi aku merasa perlu melakukan semua ini, seperti ritual. Ah, memang aku terlalu.
Bibirku mendekat, aroma dan panasnya mulai bersahabat. Sampai lidah mencecap. Gila! Aku jatuh cinta pada detik pertama. Rasa asam dan pahitnya terlampau kuat, pekat, namun memikat. Jalarannya menyebar cepat seperti bisa. Lagi, otakku macet semua terlalu indah dan aku belum pernah merasa sebahagia ini.

Seketika pahamlah aku, kopi dan bahagia ternyata sudah lama berjalan pada satu jalur dengan arah yang sama. Seketika sadarlah aku, mengapa sekian banyak orang jatuh hati pada si biji istimewa. Seketika tahulah aku, senja, angin, dekapan, Sang Waktu, macam-macam aroma dan segala hipotesa yang tadi betulan memenuhi otak dan benak, berlari bersama menuju satu titik untuk akhirnya pecah, melebur, meluber, dan melebar bersama dengan datangnya satu simpul ini: kopi sabtu malam.
Terimakasih, Kopi Ketjil dan kamu!

Kamis, 14 Mei 2015

Rokok, kopi, dan cinta pahit

Aku cuma ingin bertanya; akankah semua jomblo semenyedihkan itu?

Dia masih terlihat baik-baik saja kala senja memberiku kesempatan bertemu dia lagi. Kaos polo merah, celana jeans coklat muda, tas selempang motif tentara, sepatu abu-abu, dan tentu saja, rambut lurus gondrong. Masih seperti yang kemarin, mungkin belum ada sebulan lalu. Tapi aku tahu, matanya tambah sayu. Rasanya ingin aku bertanya, masihkah karena wanita yang sama? Karena sedihnya tersirat jelas. Untung saja aku masih sadar diri, belum saatnya tanya itu merambat ke telinganya. Dukanya cukup menggambarkan, dan aku dibuat paham dengan kerlingannya.

                “Kalau dia ikut main, apa boleh?” tanya kekasihku. Aku mengangguk cepat, tentu saja. Dia baik, dan tak ada salahnya menemani orang galau. Ups, mungkin aku terlalu frontal.

Kami sampai di sebuah tempat makan, dan aku begitu bersemangat, kekasihku juga, tapi dia tidak. Pekikannya tertahan, lagu galau menyambut. Aku kaget mendengar suaranya jadi seberat itu. Sebegitunyakah rokok menenangkannya? Aku seperti ingin mencukupkan semua ini, tapi waktu masih membiarkan perasaannya berbalik menusuk hatinya sendiri. Ah, harusnya seperih itu?

Dia akhirnya duduk satu meja dengan kami, dan tangannya tak berhenti menari di atas layar sentuh besar itu. Aku tidak merasa perlu memperhatikan dia, dan mataku tak bertahan pada sosoknya, tapi entah mengapa hatiku bisa secepat ini menerjemahkan tiap ekspresinya. Lalu aku jadi sedih. Dia berulang kali menunjukkan obrolannya dengan wanita harapan itu, dan aku susah payah menahan kalimat nasehatku. Belum saatnya, belum saatnya. Waktu belum berkenan membuka mulutku.

Rokok pertamanya sudah habis. Rasa hatinya makin mengiris.

Jangan terlampau halus hati, dik. Atau kamu bakal cepat mati. Bisa juga sama saja bunuh diri. Adakah yang perlu kulakukan untuk membuatmu sadar bahwa sekarang tahun 2015? Kita sudah berjalan jauh, dan terlampau jauh dari jaman penciptaan. Wanita tak cuma satu. Cinta tak sepahit itu. Bagaimana mungkin hatimu cepat sembuh kala kamu terus memaksanya merasakan sakit? Semua orang paham segala sesuatu perlu diperjuangkan, apalagi cinta. Semua orang tahu cinta adalah bertahan dalam kesetiaan, dan cinta yang paling istimewa adalah cinta yang bertahan sekalipun tak ada hal yang bisa dipertahankan. Tapi bukan begitu caranya. Selalu ada kalanya hati perlu mundur dari semua perjuangan itu, menyendiri dan menata kembali puing-puing yang dihancurkan bom waktu. Kamu perlu diam sejenak, menarik napas, dan membuka mata. Ada banyak wanita baik diluar sana. Jangan memaksa, karena logika dalam cinta jelas perlu untuk ada bahagia.

Andai aku kenal dengan wanita harapanmu, kupastikan dia menangis kalau mendengar ceritaku soal kamu. Tak dapat lagi airmata terbendung kala retina menerima bayangmu malam ini. Adakah yang lebih menyedihkan dari melihat lelaki macam kamu menyimpan duka dibalik senyum paling lebar dan tawa paling lepas?

Baru ini aku lihat laki-laki galau. Dan itu benar-benar menguras rasa. Untung saja aku tidak bawa hati waktu memperhatikan tingkahmu. Kalau iya, entah bagaimana aku bisa menahan airmata. Ini terlalu sedih untuk dilihat, apalagi dinikmati.

Cepat dapat penyembuh, dik. Kopi pahit pasti punya rasa unik yang orang artikan nyaris sama dengan bahagia. Dan, cinta takkan pernah sepahit itu.

Kamis, 30 April 2015

Foto

Hari ini aku pusing. Aku bingung mau ngapain. Besok libur, dan belajar tidak perlu didasarkan pada “besok sekolah”, “ada tugas”, dan “ada ulangan”. Tapi sungguh aku beneran malas.

Aku lalu ingat, aku masih punya setumpuk rekaman momen yang belum kupindah dari memori kamera ke pc. Jadi kulakukan itu. Memindahkan foto-foto amatiran dan sok menyeleksi, siapa tahu aku ketemu yang lumayan bagus, lalu aku terinspirasi.

Aku nggak tahu mau ngapain lagi setelah itu, jadi aku iseng buka-buka folder, terus aku lihat foto-foto jaman dulu. Dulu, belum bahulak.

Aku ketemu banyak foto mama.

Aku lihat mama diabadikan dengan banyak pose dan ekspresi. Aku jadi mengingat-ingat. Kapan ya terakhir aku jalan sama mama?

Aku benci bilang, tapi hati kadang menunggu untuk diakui, dan rasa setia berharap agar diungkapkan. Aku sering iri kalau aku lihat teman-teman bisa jalan bareng keluarga mereka, kayak teman satu geng yang bisa fullteam. Kayaknya asyik. Kayaknya juga sudah bukan kayaknya. Ah aku jadi engga ngerti aku ngomong apa. Pokoknya aku iri. Aku tahu kok, iri itu dosa. Tuhan engga suka. Tapi aku cuma berusaha jujur. Kejujuran adalah segalanya, bukan? Aku harap persepsiku tidak salah sekalipun jaman sudah berubah.

Aku kangen bisa jalan sama mama. Kemana aja deh. Kangen bisa ke gereja sama mama. Aku harap bisikanku sampai ke Tuhan, karena aku engga cukup berani buat bilang keras-keras.

Mama cepat sembuh, ya?

Maaf tulisan ini memang agak beda. 
Aku nggak bermaksud puitis, cuman ngomongin fakta.
Aku juga engga tahu barusan sudah ngomong apa saja.
Kalo engga suka ya enggapapa. Hak semua manusia.


Hidup kan penuh pro dan kontra.

Jumat, 24 April 2015

(judul masih di tangan Tuhan)

Aku benci akan rasa ini, dan benci pula ketika aku tak sanggup memendamnya.

Jadi semenyenangkan ini buat kalian, bukan? Baiklah. Aku paham. Aku mencoba paham ketika diantara kita akulah yang paling ingin bisa ada bersama kalian dalam momen macam itu. Aku yang paling heboh cari banyak informasi untuk kita bisa setidaknya belajar membuat momen itu. Segalanya butuh proses tentu. Tak mungkin ada manusia lahir dan langsung jadi yang paling ahli dan professional. Setiap manusia harus mengalami suatu kondisi amatir, dan perlahan belajar dari semua kesalahan dan kesempatan, hingga ia berada dalam posisi lebih tahu dari yang lain. Setujui saja kalau ada pernyataan bahwa tak ada orang yang lebih pintar. Yang ada hanya orang yang lebih tahu. Karena untuk itulah hidup hanya diisi oleh pembelajaran. Kita akan mengalami roda yang tiap sisinya memiliki bahagia dan kesedihan masing-masing. Tentu mau tak mau, setiap hari kita belajar dari apa yang kita ketahui. Tentang rasa sakit karena dimanfaatkan, diabaikan, kemudian dikhianati. Bicara adalah sesederhana itu bukan? Membuat kalimat adalah semudah itu. Tapi hidup adalah realita, dan hari-hari adalah nyata. Terasa. Dan bukan bualan semata.

Aku berusaha mengakui hari ini otakku kacau dan aku merasa telah banyak meracau. Lalu mataku jadi serapuh lilin yang mudah patah dan meleleh. Aku tahu benar siapa penyebab airmata ini. Kalian yang tiap harinya pernah membuatku merasa aku adalah manusia paling bahagia di dunia. Kalian yang tiap waktu mencuri banyak rasa dalam hati. Kalian yang….. ah, jadi sesulit ini membicarakannya. Tapi, entah mengapa aku merasa tak perlu menyalahkan siapa-siapa. Adakah yang perlu dipermasalahkan lagi? Sang Waktu telah memberi kode untuk kita agar siap, hanya saja mungkin tak satupun dari kita mengubrisnya. Dan kesadaran datang ketika hati pilih menjauh. Lantas, adakah yang perlu disesali? Mestinya tidak. Tapi, lagi. Airmata adalah satu-satunya teriakan paling jelas tanpa perlu membuat polusi bagi telinga. Dan diam adalah satu-satunya ratapan paling tepat. Tak ada lagi yang perlu dijelaskan. Tak ada yang perlu dipertanyakan. Kita semua sama-sama tahu bahwa menunggu adalah satu-satunya jalan paling baik untuk mencari kesembuhan.

Hidup adalah roda.

Kalimat itu lagi.

Dan orang yang pandai bersyukur adalah yang paling bahagia.

Lagi.

Senyum yang didominasi kepalsuan ini telah menguak. Tapi aku tahu, kalian mencoba tak peduli. Hahaha. Seindah ini rasa sakit hati karena manusia-manusia macam kalian pilih pergi—semoga sejenak. Pilih menjauh—semoga cepat pulang.

Maaf, semua huruf yang tersusun jadi kata, dan kata yang mau ambil bagian dalam kalimat ini mengalir begitu deras. Terlampau deras hingga jemari mulai kaku untuk mewujudkannya. Ah sudahlah, aku tak peduli. Aku hanya merasa perlu menghadap monitor dan membiarkan semua ini tercipta. Sungguh aku minta maaf karena aku sedang tak mampu menulis dengan baik. Aku benar-benar lelah.

Tapi,

Aku masih disini ketika kalian,

Butuh.

Jalan.

Kembali.

Pulang.



Semoga. Benar. Benar. Pulang.

Minggu, 19 April 2015

Waktu, mimpi, rasi

—Have you ever feel this before? Karena aku tahu, hatiku tak lagi sama.

Seingatku, bulan Februari itu kita masih biasa-biasa saja. Kamu mengirim pesan singkat, dan kita membahas banyak topik, layaknya teman lama yang akhirnya punya jembatan masing-masing untuk saling menghubungi. Sesederhana dan sebiasa itu. Aku berani saja jamin, tak satupun dari kita punya pikiran untuk bawa perasaan. Tapi, waktu selalu punya kejutan.

Seingatku, bulan Maret itu kita masih saling berbagi cerita soal calon pacar masing-masing. Kamu yang mulai tak nyaman dengan “wanita lima puluh ribu” itu, dan aku yang mulai tertekan karena masih saja ingin memiliki semua lelaki tampan dan borjuis. Sungguh, aku yang sebusuk itu, dan masalalumu yang sekelam itu. Siapa sangka hati justru saling mengikat kala misi utama jauh dari kata memikat?

Seingatku, awal April ini kita cuma saling ungkap rasa rindu. Wajar tentu, siapa tak rindu dengan manusia macam kamu setelah tiga puluh hari tak bertemu? Tapi aku merasa segalanya beranjak jadi aneh, bergeser perlahan seperti langit siang menjelang malam. Sadarkah kamu, sayang? Hati kita tak mau berhenti sampai sebatas nyaman sebagai teman, atau dalam kasus ini kakak-adik.

Kejanggalan ini tentu membuat bertanya-tanya. Aku nyaris saja berucap “Mengapa?” pada Sang Waktu kala kulihat ia mulai tak mampu menyembunyikan senyum jahilnya. Tapi, lidahku kelu, gigi menggertak dan rahang mengatup kuat. Tak lama, kudengar Sang Waktu berbisik, “Belum saatnya.”
Terpaksa, aku diam.

Seingatku, kita cuma berencana ibadah bersama, lalu menyempatkan diri untuk mampir, sebentar saja. Dan rasa-rasanya kita lupa, ‘sebentar’ adalah jalan utama menuju keberadaan yang ditolak dalam kategori masuk akal. Bahagia, singkatnya, dalam kasus ini. Semoga, dalam waktu yang lama.

Malam itu, asap rokokmu mengepul dan aroma kesayanganku bersatu dengan dinginnya udara. Aku benci mengakui ini, karena aku terlalu takut untuk kehilanganmu. Tapi aku tahu benar, hatiku mulai menemukan tempat tinggalnya. Adalah tak mungkin bukan kutarik ia untuk menjauh pergi?

Seingatku, semalam kita cuma cari waktu di hari ini untuk bisa bertemu. Seingatku, aku cuma sekadar menebak-nebak, apa jadinya ketika saling tatap muka kita terjadi saat rasa tak lagi sama? Seingatku, aku dan kamu cuma saling goda, tapi ternyata, rasa ikut terbawa.

Kini impian, harapan, angan yang simpang siur bak bintang-bintang langit malam itu mulai membentuk rasi. Siapa sangka, sayang? Setiap partikel yang keberadaannya dalam kesendirian tak berarti apa-apa, menjelma membuat nyata mimpi-mimpi. Aku, kamu, dan semoga, kita.

Bersamamu aku belajar begitu banyak hal, sayang. Ini membuatku mulai pakai hati. Dan aku tak sanggup menyimpan semua lebih lama lagi.

Jujur saja, sayang.

Kamu minta status apa?

Minggu, 01 Maret 2015

Dalam dua-tiga

Kalau boleh jujur, aku sempat punya rencana untuk menyayangimu setelah kita dekat kembali sekitar dua puluh tiga hari yang lalu. Akuanmu yang polos, berusaha meyakinkan aku kalau kita memang sudah kenal sejak masa sekolah dasar benar menarik. Lucu saja buatku. Belum pernah kutemukan pria yang kemampuan mengingatnya sehebat kamu. Caramu menyapa dan menyiapkan beragam topik untuk kita nikmati bersama setiap harinya nyaris saja membuatku membawa rasa. Kamu menyenangkan, dan aku mulai suka.

Medan magnet yang keberadaannya samar namun memikat telah berkolaborasi denganmu, hingga aku mau tak mau bermutasi jadi manusia yang punya unsur besi lebih banyak. Dan kamu tentu tahu apa yang terjadi selanjutnya. Ya. Aku tertarik. Perlahan namun pasti, sederhana namun tak meninggalkan makna. Dekat. Dekat. Dan nyaris saja mengetuk pintumu seperti wanita tak tahu diri. Mestinya aku lebih ingat, lelaki sepertimu selalu punya banyak peluang untuk bisa disebut berengsek, bahkan lebih dari itu.

Lalu tibalah saatnya, sayang. Kesempatan terbesarmu sudah menggoda di depan mata. Mestinya aku memperbanyak doa agar kamu tetap ada di jalan yang lurus. Tapi bisa apa aku ketika waktu berkata lain?

Kebodohanku adalah percaya semudah itu. Kelemahanku adalah memberimu peluang sebesar itu. Kepintaran sekaligus kecerobohanmu adalah memanfaatkan segalanya semaksimal yang kamu bisa, seakan hari tinggal hitung jari. Hei, tanpa sadar, kolaborasi kita jadi sekece ini.

Sayang, maafkan kata-kata yang berantakan ini. Maafkan kalimat yang tak seperti biasanya ini. Entah mengapa aku cepat merasa lelah menatap layar. Cepat pula merasa bosan dengan segalanya; aku, kamu, kita, dan kebodohan demi kebodohan yang sulit benar dibasmi. Lagipula, aku tak punya cukup waktu untuk memperbaikinya.

Aku suka. Suka. Padamu. Iya, kamu. Namun semudah itu kamu memporak-porandakan semuanya. Semudah itu kamu angkat kaki. Semudah itu kamu bilang kalau kamu sedang asyik menonton dengan teman wanitamu. Wanita. Yang lain. Sedang aku disini duduk sendirian menunggu kamu menjelma nyata disampingku. Kita ada di dalam satu gedung, sayang. Tapi kamu pilih dia sekalipun janjimu adalah bersamaku. Sesulit itukah mengakui aku ada?

Andai saja kamu tetaplah kamu yang berusaha kupahami pelan-pelan akhir-akhir ini, mungkin segalanya akan tetap sama. Andai kamu tetap kamu yang kukenal sebagai pria yang begitu baik dan sabar bukan main terhadapku, mungkin segalanya tetap sama. Aku sama sekali tak tahu apa motivasimu berubah hati, padahal aku mulai sayang. Sedikit menyesal, tentunya. Tapi kalau itu sudah menjadi keputusanmu, aku bisa apa? Lagipula, aku sangat mudah melupakan kalau begini caramu menyakiti.

Lalu, hipotesaku berlari pada arah yang benar. Kamu kalangkabut. Panik begitu hebat hingga aku bisa ikut merasakan sedihmu yang meruncing pada satu titik dan pecah dalam ledakan. Gelisah tak berarah ketika akupun ambil keputusan untuk meninggalkanmu. Mungkin selamanya.

Dan lihatlah, sayang. Cerminmu menyampaikan padaku berapa banyak rasa sakit yang mesti kamu terima akibat ulahmu sendiri. 

Senin, 16 Februari 2015

Satu Paket Hujan

Antara almond dan asia. Belum pernah kulihat rambutnya benar-benar pergi dari wajah, jadi aku tak tahu dia punya tipikal mata yang mana. Sekalipun kantor kami bersebelahan, bukan berarti aku punya cukup waktu untuk memperhatikan dia, matanya, garis wajahnya. Dan halte ini adalah satu-satunya pilihan terdekat untuk menunggu jemputan. Meski besi-besi penyangga sudah tua, cat mengelupas dan berkarat, ditambah gerimis tipis menemani detik-detik yang hening ini, aku akan bertahan. Tepat disini. Demi menunggu dia pulang.

Aku bisa saja langsung tancap gas, kembali ke rumah. Menemukan tempat tidurku dan berselimut ditemani secangkir cokelat panas. Alunan musik klasik dan rintik hujan adalah perpaduan yang dahsyat untuk menenangkan hati. Tapi kurelakan semua itu. Ada yang lebih penting buatku daripada langsung pulang. Sekalipun itu berarti menghemat waktu dan tenaga, aku perlu menemukan jawaban atas keingintahuanku.

Aku lupa sejak kapan aku mulai tertarik memperhatikan dia. Bukan mata yang pertama memikat, karena sudah kusebut tadi rambutnya terlalu lebat hingga menutup setengah dari masing-masing matanya. Aku tertarik dengan parfumnya, tubuhnya yang kecil dan tinggi itu. Entah mengapa bisa begitu. Orang bisa saja menyimpulkan aku tertarik dari fisik, bukan hati. Tapi perkara rasa ini, bukankah sudah ada yang mengatur? Tak peduli dari segi mana saja kita mulai penasaran.

Gerimis membuat banyak orang menjatuhkan pilihan mereka di halte ini. Aku jadi sibuk memperhatikan dan memberi tempat bagi penghuni dadakan yang datang dan pergi silih berganti. Aku lupa sudah menggeser duduk berapa kali hingga jarakku dan dia mendekat. Seketika aku senang dan sedih. Senang karena aku akan tahu tipikal matanya. Sedih bila nanti aku jadi terpikat. Karena kata orang cinta adalah rasa yang dari mata turun ke hati.
“Dre?”
Suara tak asing mengganggu irama hujan yang melintasi kuping, memanggil namaku, aku pun mendongak. Lelaki berperawakan tinggi besar dengan kulit sawo matang dan kacamata tebal tengah menunjukku dalam jarak kurang dari satu meter. Teman dekatku dari SMP tiba-tiba muncul di depanku tanpa perlu bim salabim. Aku spontan berteriak. Dan suasana hangat memenuhi benak. Senang betul ia mengenaliku sekalipun kacamatanya dipenuhi butiran air hujan. Aku tenggelam dalam cerita bersama sahabatku. Bagaimana masa SMA nya di luar kota, kuliahnya demi mendapat gelar magister, dan kisah cintanya.

Entah sudah berapa menit berlalu dan sahabatku tiba-tiba saja mendapat telepon untuk segera pulang. Jadi dia pamit. Kini aku ingat lagi untuk memperhatikan sekelilingku.

Hujan telah reda.

Dan wanita itu sudah pergi.

***

Pagi ini aku bangun dan hal yang kuingat pertama adalah hujan. Manusia yang kuingat pertama adalah wanita dengan mata misterius itu. Rasa yang kuingat pertama adalah kecewa. Dan inti dari semuanya adalah: ada rasa sakit yang mulai mengusik kala waktuku mulai habis demi penantian yang sia-sia bersamaan dengan datang perginya hujan yang seakan satu paket dengan wanita itu.

Aku bahkan merasa lelah.

Kalau saja semua benda di sekelilingku bisa kutiupi serbuk ajaib Tinkerbell atau salah satu peri dalam serial Barbie, mungkin aku takkan serapuh ini. Sayang, aku hidup dalam dunia yang terlalu nyata. Dan mungkin satu-satunya hal yang paling tidak masuk akal adalah yang berbau mistis. Seperti hantu yang menyamar jadi manusia, atau manusia yang berharap jadi hantu untuk misi tertentu. Sering aku berharap punya hari yang menyenangkan, dan dalam kamusku, berarti gabungan antara dunia nyata dan imajinasi, tanpa perlu hal yang mistis. Tapi itu sungguh mustahil. Dan aku tak pernah lagi menceritakan khayalanku itu. Aku hanya tidak ingin lagi dianggap bukan lelaki sejati. Apa yang salah dari khayalan tentang peri dari seorang laki-laki?

Lalu hal kedua yang kuingat adalah aku mulai meracau.

Sedangkan hal yang paling tak bisa kupercayai adalah ketika aku merasa gelisah karena seorang wanita yang bahkan, melihat wajahnya secara utuh pun aku belum pernah. Tapi rambutnya yang selalu tergerai kadang tertiup angin, badannya yang kurus tinggi, mungil namun panjang yang terlihat begitu rapuh itu dan aroma parfum yang tak bisa kulupakan telah menghangatkan hatiku. Membuat es yang beku bertahun-tahun ini pelan-pelan mencair. Adakah hal yang lebih tak bisa kupercayai selain perasaanku sendiri? Adakah rasa yang lebih tak bisa kupercayai selain kekaguman dan ketertarikan macam ini? Bagaimana mungkin hati yang telah dipatahkan dan dibiarkan beku sekian lama bisa menghangat sesedehana ini? Bahkan wanita lain yang sudah lebih dulu kukenal sebelum keanehan ini tak bisa menghangatkan hatiku. Padahal aku paham benar kemana hatinya berlabuh. Mendadak aku tahu, aku terjebak dalam cinta sebatas siluet. Dan rasa ini sulit hilang seperti serangan permen karet.

Aku membuang napas dan mengelus selimut tebalku dengan punggung tangan.

Dan hal yang selanjutnya kusadari: aku belum turun dari tempat tidur; waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan; jam kerjaku adalah pukul delapan, tepat.

***

“Hari ini saya lihat kamu sedikit kacau. Ada apa?”
Aku sontak melongo. Tak menyangka akan ditanya seperti itu. Maka segera kujelaskan bahwa aku baik-baik saja setelah kukuasai diriku lagi. Dan berusaha kuyakinkan atasanku itu bahwa tak ada hal buruk yang terjadi. Mungkin aku hanya kelelahan.

“Saya harap itu tidak menganggu pekerjaanmu. Ingat, deadline tidak bisa toleransi dengan alasan kelelahan.”
Cepat kuanggungkan kepala dan cepat pula ia melangkah pergi.

Kendati kujalani hari ini dengan banyak kekacauan: datang terlambat, bersikap kurang ramah kepada klien sampai dimaki olehnya, menumpahkan kopi di kantin, nyaris menabrak karyawan lainnya, dan berbagai macam hal bodoh, aku masih sadar, kejadian tolol di hari ini tak pernah membicarakan kesepakatan denganku dan aku pun merasa tak pernah tanda tangan pada surat kontraknya, tapi kutahu, ia sudah datang dan semoga cepat pulang sebelum aku kalap. Aku juga masih tetap sadar bahwa hatiku sedang berlayar, dan dimana ia akan berhenti.

Dengan sedikit perjuangan dan kesabaran, aku berhasil membuat waktu bertoleransi atas hari sialku ini. Terburu-buru kuturuni tangga, dan keluar lewat pintu depan.

Gerimis tipis dan aroma petrichor menyambut. Hatiku nyaman seperti sedang berselimut.

Kulihat kelebatannya di halte. Semangatku terpacu dan jarak harus mau menyempit atau rasa ini bakal pilu. Namun keinginanku menyusulnya gagal tatakala kudengar seseorang memanggil namaku. Seperti hari yang telah berlalu, aku terpaksa menengok. Seorang dengan ciri sama persis atasanku tengah berdiri sekita tiga atau empat meter di belakangku, dan berkas-berkas di tangan kanannya membuat hatiku tak enak. Sungguh aku berharap mataku telah salah lihat.

Aku berbalik dan mendekatinya. Semoga urusan ini tak menyita waktu terlalu banyak.
“Ada apa, pak?”
Senyumnya melebar, tangan kirinya merangkulku, memaksa tubuh ini berbalik. Ia mulai berbicara panjang lebar, entah tentang apa. Karena pikiranku masih bertahan bersama wanita itu. Dan sebelum gerimis tipis ini pergi, hatiku terhempas dan aku tahu, aku belum bisa menggapai wanitaku.

***

Hari ini aku mati-matian berkonsentrasi pada pekerjaan. Menyibukkan diri dengan bidang-bidang yang selama ini kukuasai. Berusaha tak bersikap sebodoh kemarin. Bayangan wanita itu sempat berkelebat, namun segera kutepis sebelum fokusku menipis.

Jam kantor berdentang empat kali. Pukul empat sore. Tak kusangka waktu sedemikian baik padaku hari ini. Segera kubereskan berkas yang telah kukerjakan. Dengan semangat membara, kuturuni tangga, menuju pintu depan, mengulang kejadian yang sama. Semoga, kesempatanku masih tersisa.
“Dre? Bisa tunggu sebentar?”
Langkahku terhenti. Rasa dongkol segera menyelimuti. Haruskah kutunggu esok hari?
“Saya mau mengucapkan selamat, hari ini kerjamu baik sekali.” Ia mengulurkan tangan, menyalamiku. Aku tersenyum kecut. Berusaha telepati, bicara lewat mata atau hati. Tolong, waktuku tidaklah banyak.
“Mau langsung pulang?” tanyanya. Aku menggeleng.
“Saya mau menunggu hujan sebentar.”
“Oke,” ia sedikit tertawa. “Saya duluan ya, sekali lagi terimakasih.”
“Bukan apa-apa pak,” kulambaikan tanganku seadanya. Dan cepat-cepat menuju halte itu.

Dia ada disana.

Andai bisa, hatiku mungkin sudah keluar dan menari-nari di aspal yang basah. Bahagia ini tak bisa disembunyikan. Dan ternyata, bahagia adalah sesederhana ini. Ketika mata bertemu dengannya, ketika tubuh bisa mendekat, ketika jiwa seakan mulai rapat.
Halte punya langganan baru sekarang, dan aku tak habis pikir mengapa tempat duduk yang tersisa adalah di samping kanannya. Sungguh, aku ingin waktu sejenak menjelma jadi manusia, dan akan kukatakan padanya bahwa tak perlu ia melakukan ini. Hidup mengharuskan kita mengantisipasi kemungkinan terburuk, bukan? Dan aku perlu mengantisipasi hatiku agar tak terbakar hingga hangus dilalap api cinta.

“Nunggu jemputan, ya?” tanyaku basa-basi setelah jarak ini membuat lengan kami bersinggungan.
Wanita itu mengangguk, senyumnya mengembang, “Iya. Mas?”
“Eh, saya cuma nunggu hujannya reda.” Kikuk aku menjawab, entah mengapa aku kaget saja dia memanggilku ‘mas’. Sejujurnya aku lebih berharap wanita itu memilih kata ‘kamu’. Bukankah itu kelihatan lebih nyaman diucapkan juga didengar?

Ia mengangguk lagi lalu menunduk serius seperti menekuni aspal, dan gerimis yang mulai deras ini merenggut semua kemampuanku berkata-kata. Aku ingin bersuara layaknya dialog apa adanya, namun aku sadar kami dipisahkan oleh lapisan tanya. Atau mungkin hanya aku. Karena aku ragu hatinya juga ingin tahu.

Aku menjetik-jentikkan jari, dan sudah melakukan apapun demi memunculkan ide tentang apa yang bisa kubicarakan dengannya. Tapi tak kutemukan apapun. Waktu terus saja berlalu. Aku seperti ingin meneriakkan permohonanku. Tolong, berikan sedikit kesempatan untuk bisa menatap matanya lebih lama.

Mendadak aku punya topik. Mendadak aku ingat apa yang harusnya kutanyakan.
Mulutku baru saja membuka, seperangkat kalimat lengkap ini siap meluncur dan bersatu dengan udara kala kulihat sebuah sedan hitam metalik berhenti tepat di seberang jalan.

“Maaf,” ia menatapku, kata maafnya seakan mengandung makna ingin mengobati kecewa ini. Tapi kecewaku tak perlu diobati. Karena yang berlalu takkan kembali lagi.
“Yang menjemput udah datang, saya duluan ya.”

Ia berdiri, berlari, dan terhenti pada sebuah kecupan yang mendarat di pipi. Menunggu untuk melesat, pergi. Dan hujan pun berhenti.

Hatinya sudah ada yang punya. Tapi kini kutahu, matanya mata asia. Itu sudah lebih dari cukup.