Senin, 22 September 2014

Bajak Laut

Halo, Tuan Bajak Laut. Aku minta ijin menuliskan namamu dalam siratan pada gambaran kertas ini. Perkenalkan, aku adalah seseorang yang diam-diam memperhatikanmu, diam-diam salah tingkah ketika mataku tanpa sengaja bertemu matamu, juga diam-diam menyukaimu. Kamu boleh mengataiku pengecut tentang kediam-diamanku. Tapi buatku, mempertahankan segala sesuatunya yang berhubungan dengan hati ini dan kamu dalam kategori “diam-diam” adalah hal yang sulit namun harus dipertahankan. Aku hanya tak ingin kehilangan kesempatan kecilku.

Selalu ada alasan ketika seseorang memutuskan nama panggilan kesayangan. Begitu pula aku. Kuputuskan memanggilmu Tuan Bajak Laut, karena ada kebiasaan kecilmu yang tiba-tiba membuka ingatanku tentang Kapten Hook, bajak laut pada film Peterpan. Tapi tolong jangan salah sangka, kamu tidak sejahat yang digambarkan pada kartun itu. Dan aku tak memanggilmu Bajak Laut dengan mengatasnamakan sikapmu. Tidak. Kamu terlalu baik.

Panggilanmu kuambil dari dongeng, seperti kita, aku, kamu, dan rasa yang tak perlu kauketahui ini seakan hanya dongeng. Kemustahilan tingkat tinggi untuk bisa disinkronkan dengan realita. Kamu berdiri disana, dalam tahta bersama permaisurimu. Wanita yang begitu cantik, dan kamu, entah harus kugambarkan ketampananmu dengan cara apa.

Aku hanyalah satu dari sekian banyak manusia biasa yang menyisakan sepotong hati untukmu. Aku menyukaimu, mengagumimu. Namun tetap, kamu tak perlu tahu. Kupastikan keluarga kerajaanmu adalah manusia-manusia yang siap sedia dengan pedang dan belatinya. Mereka akan menarik pedang itu dan menghunusnya tanpa ampun untuk manusia biasa yang tak tahu diri. Hingga nekat mendekatimu. Berusaha merusak cintamu untuk Sang Permaisuri. Aku hanya tak ingin merasakan pedang itu. Bukan karena aku belum pernah merasakan sebelumnya, justru karena aku terlalu sering sampai begitu terbiasanya.

Aku pernah punya teman. Dan ia begitu bodoh sampai berani memberimu kode rasa. Hingga detik ini aku tak paham cara pikirnya. Bagaimana ia bisa melakukannya seakan dunia kalian sama. Sungguh kamu peka. Dan aku masih bisa mengingat kalimat kemuakan yang terpaksa kamu lontarkan. Dari situ aku sadar, kita lebih dari sekadar berbeda. Baiklah, kita mungkin diijinkan ada dalam sepotong kisah yang sama. Tapi dunia kita takkan menyatu. Dan hal yang paling menyakitkan adalah berada dalam kisah yang sama dengan dunia yang berbeda. Bersamamu, disana, jauh, dan tak mungkin.

Jangan pernah lihat, Tuan Bajak Laut. Cukuplah merasakan. Karena aku tenggelam dalam lusinan manusia dengan hati dan rasa yang sama akan kamu. Tetaplah peka, karena hati dan rasa ini masih tersisa.

Dari seseorang
yang kehilangan sejarah
dan akal sehatnya,
hingga menyukaimu.

Kamis, 28 Agustus 2014

Sedih adalah ketika...

Sedih adalah ketika kamu harus melakukan sesuatu yang nggak kamu sukai, dan gaboleh melakukan sesuatu yg kamu sukai.
Sedih adalah ketika kamu melakukan segala sesuatu dg terpaksa. semua butuh hati mennnn
Sedih adalah ketika kamu suka sama orang, tapi orang itu udah punya pacar.
Sedih adalah ketika kamu suka sama orang, tapi keadaan nggak memungkinkan kamu untuk ungkapin perasaanmu.
Sedih adalah ketika kamu harus melepas orang yang kamu sayangi.
Sedih adalah ketika orang yang kamu harapkan adalah orang yg bahagia saat kamu dicampakkan.
Sedih adalah ketika orang yang kamu sayangi adalah orang yang tertawa saat kamu sakit hati.
Sedih adalah ketika orang datang hanya untuk menambah beban.
Sedih adalah ketika kamu lagi capek, dan masalah itu dateng terus.
Sedih adalah ketika kamu berusaha ada saat orang lain sedih, tapi mereka nggak pernah ada saat kamu sedih.
Sedih adalah ketika sahabatmu jadian sama orang yg kamu suka.
Sedih adalah ketika ada orang datang ke kamu, dan setelah dia berhasil bikin kamu jatuh cinta, dia pergi.
Sedih adalah ketika kamu dijanjiin macam-macam, tapi ternyata janji tinggal janji.
Sedih adalah ketika kamu berusaha peka sama orang, tapi orang itu nggak peka sama kamu.
Sedih adalah ketika kamu dibikin kagol.
Sedih adalah ketika kamu berusaha senyum meski sakit, tapi orang itu taunya kamu lagi seneng, terus kamu dikhianatin.
Sedih adalah ketika kamu udah janjian sama orang mau pergi, segalanya udah siap, dan di hari H, orang itu ngabarin kamu kalo ternyata dia gabisa.
Sedih adalah ketika kamu harus putus karena ga direstuin orangtua.

Sedih adalah ketika kamu berusaha menutupi kejelekan orang, tapi di belakangmu, orang itu ngomongin semua kejelekanmu.

Sabtu, 16 Agustus 2014

Kepada Kamu

Dengan rasa yang tak kukenal lagi,

Aku masih ingat
Gerimis malam itu
Aku melongokkan kepala dari pintu
Lalu kulihat kamu bersama teman-temanmu
Disana
Di tempat yang tak jauh dari ruangku berdiri
Sejenak aku memandangmu
Tapi tak kurasa apapun waktu itu

Aku masih ingat
Temanku pernah membawa secarik kertas bertuliskan nama dan nomor ponselmu
Lalu aku berteriak histeris
Dia pun lari, dan aku mengejarnya
Hanya demi mendapatkan kertas itu
Lalu menempelkannya pada alas ujianku
Agar aku selalu mengingat kamu
Tiap kali aku memakai alas itu

Aku masih ingat
Hari Paskah itu kamu mengucapkan selamat padaku
Sekalipun lewat sosial media yang begitu umum
Tapi kamu perlu tahu
Aku sempat ingin meledak ketika membuka dan membacanya

Aku masih ingat
Saat aku berulang tahun
Kamu jadi satu dari mereka yang rela menyempatkan diri mengucapiku
Dan dari situlah segalanya dimulai
Kamu mulai rajin datang
Mengucapkan selamat pagi
Dan berharap aku punya hari yang menyenangkan untuk dibagikan bersamamu
Lalu topik bahasan kita melebar dan mulai tak terbatas
Kita mulai bicara soal rasa dan hati
Dan bagaimana cara mengatasi kesendirian ini
Aku mulai nyaman bersamamu
Mulai kecanduan dengan segala ucapan manismu
Mulai percaya dengan kamu yang selalu menyempatkan waktu untuk menghubungiku
Kamu mulai jadi penting
Manusia yang mewarnai hariku

Aku masih ingat
Ketika kamu menjemputku
Dan kita pergi
Berdua
Melewati jalanan kota
Merasakan angin bersama
Diterpa hujan
Lalu mampir makan
Sampai kamu mengantar aku pulang

Aku masih ingat
Ketika kamu mulai berubah, entah mengapa
Kamu mulai sering hilang
Berjam-jam
Kamu membiarkan aku menunggu dengan harap-harap cemas
Mengenggap ponsel
Dengan kecamuk pikiran akan kamu
Lalu tiba-tiba kamu muncul
Kamu meminta maaf telah membuatku menunggu
Tapi ternyata, maaf tinggal maaf
Kamu ulangi kesalahan yang sama
Berkali-kali
Membuatku jenuh dan muak dengan segala maaf palsumu

Aku masih ingat
Ketika kita ditambah satu lagi manusia
Sudah berencana pergi bersama
Aku sudah mendapat ijin dari orang tuaku
Aku senang sekali
Tak sabar menunggu hari itu tiba
Dan ketika hari itu benar-benar datang
Tiba-tiba kamu bilang, kamu tidak bisa ikut
Aku tidak bisa mengungkapkan perasaanku
Entah, aku begitu marah
Tapi kamu tetap saja hilang

Akhirnya
Aku mencoba melepasmu
Pelan-pelan merelakan kamu terhapus
Tapi bukan berarti aku tak pernah mengharapmu datang lagi

Lalu selang beberapa hari, kamu benar-benar datang
Tapi aku sudah terlanjur kecewa
Kamu bukan kamu yang kukenal dulu
Entah aku sudah kehilangan kamu
Dan kamu pun memilih pergi.

Tak apa.
Aku rela,
Aku rela.

Rabu, 09 Juli 2014

I will miss my Bernadeta's Day

Hai.

Ini mungkin tulisan paling absurd, gajelas, bisa jadi juga konyol yang pernah gue buat dan akhirnya nampang pula di blog. Beneran nyimpang dari gaya-gaya tulisan gue yang (kata orang-orang sih) puitis gitu. Selalu berakhir dengan vokal yang sama. Kalimat panjang membingungkan. Dan selalu juga ngomongin rasa sakit. Entah sakit dikhianati, ato sakit nusuk diri sendiri. But, it’s okay, sometimes orang perlu jadi gila biar bisa disebut dan dianggap manusia. Haha. Ngomong apasih ya gue ini.

Gatau juga sih ini tulisan temanya apa. Yang jelas ga ada cinta-cintaan di sini. Karena gue baru putus cinta (so what) dan nggak minat nulis soal ati, sementara ini. Sedih sih, tapi apa pentingnya coba ya dibahas terus. Move on dong! Itu yang paling sering temen gue celetukin ke gue, sampe panas ni kuping kalo perlu. Nah, berdasar saran mereka yang singkat padat jelas tapi susah itu, gue mencoba move on. Asli nih, gapake paksaan sampe disumpah serapahin (apasih ya) hahaha. Okay, lupakan deh ya. Lagian tadi gue bilang kali ini tulisan sesuka gue, no ati, no cinta. Tanpa aturan, ga perlu puitis, yang penting gilanya keluar! Peduli amat orang bilang huehehe.

Oiya, gue naik kelas sebelas loh. Cepet banget ye, perasaan juga kemaren lagi akrab-akrabnya sama si biru-putih, belum lama juga kenalan sama si putih-abu-abu. Eee sekarang udah kelas sebelas aja. Gatau ini waktunya emang ngebut atau gue yang kebanyakan ngebo. Warna-warni kelas sepuluh gue sudah berakhir. Yakin deh, belum apa-apa udah kangen aja gue sama itu kelas. Kangen juga sama lantainya yang enam hari dalam seminggu gue injek-injek. Sama kursi yang jadi tempat parkir pantat gue selama pelajaran, sambil ngantuk-ngantuk dengerin gurunya entah nyerocos apaan hahaha. Kangen sama meja gue yang gue ciumin kalo tidur di kelas, gue orek-orek, gue kenain lem, gunting, penggaris, tip-ex, cutter juga. Kangen sama tembok yang gue pukulin, gue sandarin, gue tempelin pipi juga pernah loh hahaha. LOL. Sama semuanya deh, sampe AC, kipas angin, LCD proyektor, papan tulis, spidol sama penghapusnya juga boleh.

Selain barang-barang kecil, setengah kecil, setengah besar, sampe yang besar, yang ada di kelas, yang kadang dipandang sebelah mata dan sering dibacotin anak-anak emosi (padal mereka ga salah apa-apa) gue juga bakal kangen sama pelajaran yang ga bakal gue dapetin lagi di kelas sebelas ini. Iya, seriusan. Jadi ceritanya, menjelang UKK alias Ujian/Ulangan Kenaikan Kelas, sekolah ngasih kita-kita ini semacam angket gitu. Gatau sih ya namanya angket ato ada nama yang bener. Pokoknya itu, gue pastiin kalian tau maksut gue apaan. Nah, isinya soal suruh milih antara dua mapel. Pokoknya kelas gue suruh milih mau mapel Geografi ato Sastra Inggris. Asli dah, itu kertas selembar bikin gue galau seharian sampe nyaris gabisa tidur juga, tapi akhirnya gue ketidur juga sih hahaha. Pokoknya nyiksa lah! Entah, gue cembetuuuuut aja seharian. Bingung mau pilih yang mana. Dua-duanya asik buat gue. Gue nyambung, menikmati, enjoy lah. Pokoknya gue suka semua. Tapi gaboleh nyabet semua! Dih gue sebel sama temen-temen gue yang tanpa puyeng langsung milih. Gue minta saran ke siapa-siapa. Mulai dari bokap-nyokap, sampe semut juga gue tanyain. Kalo keluarga sih nyaraninnya Sastra Inggris karena Sastra Inggris jelas lebih universal, kalo temen-temen diluar sekolah nyaranin Geografi, dengan alasan anti mainstream! Si semut-semut entah nyaranin gue apaan, karena suara mereka terlampau keras jadinya gue malah ga denger. Alamakkkk…

Detik-detik menjelang pengumpulan itu kertas itu apa namanya, dengan amat sangat berat hati, gue memilih Sastra Inggris. Merelakan diri pisah sama Geografi. Dan plis, sakitnya tuh disiniii *nunjuk perut karena maag gue kambuh*. Okelah, itu kertas itu apa namanya dikumpulkan. Dan gue menyesaaaaaaal sejadi-jadinya, apalagi pas terima rapor, karena disono, nilai Geografi gue lebih tinggi dibanding Sastra Inggris! O iya, gue juga gabakal ngerasain gimana diajarin sama Pak Puji. The best teacher ever! Dia ngajar Geo kelas sebelas! Okesip.

Baiklah, pada akhirnya sampai juga gue di masa-masa liburan, istirahat sejenaklah, bikin tenteram si otak, kesian suruh mikir terus. Dan liburan ini gue kagak kemandos-mandos dengan alasan persiapan buat acara ulang tahun gereja yang ke-80. Dateng boleh lho, acaranya besok minggu tanggal 13 Juli 2014 jam 08.00 pagi yes. Cari tau sendiri dimandosnye hahaha. Terus liburan ini karena ngadem doang dirumah, melayang-layang juga pikiran gue. Terus gue keinget deh, kelas sepuluh ini saking dihapalinnya gue sama guru Geografi, Mr. Jon (tersayang huhahahaha) gue dikatain anaknye. Dan entah kok ya bisa-bisanya pelajaran Geografi selalu jatuh di hari Kamis. Mau pelajaran diacak kayak gimandos juga tetep di Kamis. Selalu Kamis. Sampe akhirnya, sekelas memutuskan bahwa Kamis bukan lagi Kamis, tapi Bernadeta’s Day. Karena ada pelajaran Geografi itu tadi. Jujur aja, pas mereka pada nyorakin gue dengan hal-hal yang berhubungan dengan Geo, entah pelajarannya, entah gurunya, gue sebel berat. Jadi males mau jawab pertanyaan, ato mau usul apa kek. Asli gue sebel. Panas kuping denger mereka sorak-sorak kayak lagi suporteran gitu. Rasanya pengin cepet-cepet naik kelas, terus entah gimana caranya pokoknya menghindar dari sorakan-sorakan itu. Ah ya, namanya juga manusia, masih bocah lagi, se gue, ketika harapan udah mulai tercapai, malah pengin balik lagi, terus sembunyi.

Bener kata orang, kita bakal ngerasa kalo (orang, hal, tempat) itu bakal berharga, bakal indah, ketika kita tau, kita gabakal lagi ketemu. Pas kesempatan kita untuk bersua dengan itu-itu masih banyak, kita justru sebel. Bisa jadi sampe ngumpat, nyumpah nyerapahin ato apalah. Tapiiiiiii ketika bakal berakhir, baru nyadar deh. Baru nyesel. Baru kangen. Dan itulah yang terjadi sama gue sekarang. Nggak ada lagi pelajaran Geografi. Nggak ada lagi acara bahas unsur-unsur tanah, ketinggian suatu daerah dan pengaruhnya terhadap suhu dan kelembaban udara, cara ngitung (lupa apanya) gempa pake Rumus Laska, mengelompokkan cuaca berdasar iklim matahari ato iklim fisis ato iklim Junghuhn, dan lain sebagainya. Asli, itu semua berharga banget, dan gue baru nyadar sekarang.

Gue juga bakalan kangen bisa sekelas sama manusia yang berharga juga buat gue. Padahal dulu kalo sekelas isinya ribuuuut melulu. Gue teriakinlah, gue abisin makanan di rumahnya, gue seret-seret, gue gandulin, semuanya, kisruh pokoknya ahaha. Dan mulai kelas sebelas ini, gue pisah sama merekaaaaa *lalu nangis* mereka menjatuhkan pilihan ke Geografi, dan dipindahlah di kelas nun jauh disono. Bukan selisih 1 kelas ato malah jejer, seperti bayangan gue. Ah.. nyesel pasti dateng telat ya, kalo di awal namanya pendaftaran! Hahahaha.

Mmmm apalagi ya. Bingung gue mau ngomong apalagi. Ya pokoknya intinya itulah. Gue kangen sama semua hal yang udah pernah mampir ato tinggal sementara di hari-hari kelas sepuluh. Dan semua sudah selesai! Mari membuka lembaran baru di kelas sebelas. Kelas baru, lima teman baru, pelajaran baru, guru-guru beberapa juga ada yang baru pastinya. Dan gue mau berterimakasih buat semuanya yang Tuhan kasih ijin ada di hidup gue. Maaf buat yang lalu, buat overacting gue, kegilaan kita, dan satu tahun kurang ini. I will miss you all! *cipok basah*

Kamis, 26 Juni 2014

Penjara

Karena cinta adalah kebebasan, bukan kekangan.

Aku tak bisa seperti ini dalam waktu lebih dari satu bulan. Jujur saja, sesungguhnya satu minggu saja sudah merupakan siksa buat hatiku. Aku harus berhenti. Setiap hal, setiap organ dan susunannya yang membentuk tubuh punya titik lelah, bukan? Bahkan bintang pun akan sampai pada fase supernova untuk kemudian memulai hidup baru atau menjadi black hole. Pegas juga akan sampai pada batas elastisitasnya. Penghuni semesta punya batas mereka masing-masing, sayang. Dan aku sudah sampai pada pintu keluar itu.

Takkan ada lagi airmataku yang meremang atas nama rasa. Aku sudah berjanji, setidaknya pada Tuhan dan diriku sendiri, bahwa tangisanku yang lalu, airmata yang meleleh satu-satu dan membasahi leher dan bahu ayahku, adalah yang terakhir. Tak ada yang akan datang. Sekalipun rasa tercabik pedang, tertusuk belati, dan disiksa Sang Waktu, aku takkan kalah dalam tangisan, takkan remuk terhempas karang.

Telah kuhapus kenangan bersamamu, setidaknya pada kotak masuk. Sudah kubuang jauh-jauh ingatan akan kamu, kita, dan tiga tahun ini. Aku sudah menghadapi badai itu dengan segenap kekuatanku. Kini, ijinkan aku mundur pelan-pelan dan menjauh dari ruang siksa itu. Deraku sudah selesai, cambuk itu sudah mengenai hati, aku berhak pulang.

Meski demikian, bukan berarti kamu kuanggap tisu sekali pakai. Sesuatu yang berjuang bertahun-tahun, mengalami proses begitu panjang, dan hanya digunakan satu kali sebelum akhirnya terbuang sia-sia. Bercampur dengan macam-macam sampah, diremuk air, dikoyak bakteri. Mati. Secepat itu.

Kamu berarti. Sungguh. Aku mengucapkannya dengan segala kekalahan yang kini mengiringi langkahku pulang. Kamu benar, aku telah kalah dan aku menyerah. Tapi bukan menyerah seperti yang kamu sangka. Aku menyerah dalam kenyataan, itu lebih baik daripada terus hidup dalam mimpi, menolak masuk pada ruang hidup sesungguhnya, menolak bersikap realistis. Kuakui, sekalipun aku mencoba melupakanmu sedemikian keras, mencoba mengubur bayangmu dalam-dalam, menimbunnya dengan tanah dan batu, aku tetap dihantui rasa rindu. Selalu.

Bersamamu, aku merasakan perpisahan yang paling dahsyat. Rasa sakit kehilangan yang tak bisa kuungkap dalam deretan kata menggerogoti hati pada satu sisi, dan aku harus terlihat tegar pada sisi lain, berusaha punya tampang tak sudi ditenggelamkan kesedihan. Bersamamu, seribu malam telah lewat. Bersamamu, kurajut mimpi tentang masa depan, tentang kita. Kini, aku harus rela segalanya terkubur dan terlapisi masalalu.

Hari itu aku membuat banyak perjanjian dengan Tuhan. Berjanji untuk tidak menangis lagi. Berjanji untuk tetap berjalan tegak dan tegar, sekalipun kamu telah pamit pergi. Aku harus sadar bahwa aku rindu terbang bebas, aku rindu berkelana dengan jiwaku sendiri. Sekarang kumiliki mimpiku. Namun entah mengapa, aku malah ingin kembali dan tak pernah lagi punya angan untuk keluar dari ruang siksa itu. Aku merasa ingin tinggal dalam kardus sempit itu. Aku merasa ingin ada dalam ruang penuh CCTV, pengawasan tingkat tinggi dari kamu. Tapi tidak. Segalanya telah usai. Pintu penjara telah terbuka. Dan aku harus keluar. Hati tak mungkin terpenjara selamanya. Ia berhak bebas. Sekalipun rasaku tidak. Sekalipun tubuhku menolak.

Mendadak, suasana mencekam, suhu turun, dan kurasa hatiku mulai beku.

Aku merindukanmu, juga merindukan diriku sendiri. 

Selasa, 24 Juni 2014

Sepi

Sejak kali pertama berjumpa, aku sudah tahu, hari ini akan tiba. Segalanya yang kumiliki tentang kamu, rasa yang kubiarkan mengalir pada pembuluh, satu paket cinta yang ada di setiap sel tubuh, semuanya akan mengalami proses bersua dan berpisah. Aku sudah tahu. Cepat atau lambat, kita akan kembali berjalan sendiri, berpisah satu sama lain, untuk misi yang tak lagi sama. Suatu skenario yang luar biasa, boleh mengenalmu selama lebih dari seribu malam.

Kebersamaan kita akan pudar pelan-pelan ditelan ganasnya Waktu. Cinta yang selama ini kita bangun dengan hati-hati, lambat laun akan menyurut. Hati yang sudah terbiasa akan kamu kini kalut. Kamu pergi, aku pergi. Dan ruang rindu itu sepi. Jantung kita kembali berdenyut dalam sendiri. Sungguh, waktu sudah berkata: cukup. Dan kita harus berhenti saling mengisi.

Aku tahu, sakit yang teramat itu pasti datang. Dan kini tibalah saatnya. Seperti pelatihan tentara, Waktu memaksa kita, aku dan kamu untuk siap. Tak akan ada lagi rengkuhanmu, yang membuatmu merasa nyaman bisa bernapas dalam pelukmu. Tak ada lagi genggaman erat jemarimu, yang membuatku merasa bahwa dunia akan indah bersamamu. Pelan tapi pasti, bahagia denganmu yang jadi persepsiku selama ini akan berakhir.

Sekalipun aku duduk di depanmu dalam jarak sedekat ini, aku tetap merasa perih. Kamu datang untuk pamit pergi, dan tak kembali. Kamu datang untuk mengucapkan selamat tinggal. Kamu datang untuk pulang. Entah berapa ratus kalimatmu mencakar kupingku. Membuatku merasa jenuh dan lelah. Aku benci terjebak dalam situasi ini. Berbincang denganmu, namun bicara soal pedih.
                “Jadi selama ini sia-sia? Semua yang aku relain demi kamu, sia-sia?” nadamu putus asa.
Aku tak bisa apa-apa selain diam dan menunduk. Menekuni ubin dibawah kakiku dan kakimu. Satu pertanyaan yang kedua pilihan jawabannya hanya terdiri masing-masing satu kata, namun merenggut semua kemampuanku berkata-kata.
                “Kita sudah tiga tahun!” suaramu tertahan, gemas.
Lagi, panah itu melesat dan menusuk tepat. Serangan itu datang, dan aku tak punya tameng apalagi pedang. Semua pertanyaanmu bermutasi jadi jarum dan belati. Menggores dan menyisakan luka dalam, membuatku seakan ingin mati.

Aku ingin sekali berkata sebanyak kamu hari ini. Tapi kalimat yang menumpuk dan berebut ingin keluar cuma bisa sampai pada angan. Aku tak mampu. Seluruhnya bersatu dengan udara dalam wujud karbondioksida. Kulihat matamu penuh harap. Tak sudi menukar semua perjuanganmu dengan kesendirian yang sepi sendiri dan kamu merasa sia-sia.

Seperti aku yang lelah duduk dalam ketidakberdayaan, kutahu, begitu juga kamu. Lelah menahan amarah, lelah berharap, lelah menunggu penjelasanku yang menjelaskan setiap arah.

Aku ingin kamu tahu, aku sakit dalam keputusanku sendiri. Aku menderita untuk jalan yang kupilih. Aku menyesal memaksamu pergi. Namun harus kulakukan ini, atau kita bakal cepat mati. Cinta yang kata orang indah, buat kita beberapa waktu terakhir ini malah menyimpan rasa sakit yang luar biasa, menuntut kita bertahan sekaligus berjuang dalam ketidaksanggupan. Aku sadar diri. Aku pun ingin kamu mengerti. Kita takkan sanggup begini.
                “Oke,” kamu menghela napas, berusaha tetap berdiri tegak, tegar.
Kamu perlu tahu, aku susah payah menahan airmata.
          “Makasih ya buat tiga tahun ini, makasih buat semuanya..” kepalamu mengangguk, mencoba mengerti. Tapi aku tak tahan lagi.

Cepat, tanganku merentang, memelukmu. Aku tahu kamu kaget, karena aku pun juga. Aku tahu, awalnya kamu ingin melepas tanganku hati-hati. Mencoba tahu diri, kita telah terlarang untuk saling peluk, menenangkan hati. Aku tak peduli. Kupererat rengkuhanku. Aku hanya ingin kamu tahu, sekalipun aku tak punya lagi kemampuan untuk mengungkapkan segalanya dalam deretan kata, satu perbuatanku sudah cukup untuk membuatmu mengerti apa yang kurasa. Kutumpahkan segalanya. Hingga satu detik, pertahananmu untuk tak balik memelukku, kalah. Perlahan kurasakan badanmu tak lagi tegang. Perlahan tanganmu merentang. Kita resmi berpelukan.

Airmata meleleh satu-satu, aku sesenggukan. Ingin menjerit, tapi rasa sakit ini membuat suaraku terjepit. Ingin rasanya aku menahan Sang Waktu. Bersujud dan berusaha membuatnya mengerti, aku perlu kamu. Aku butuh manusia macam kamu menjadi penghias hari. Tapi, ia kadung berdiri, menoleh sejenak pada kita dan mengatakan cukup. Tak ada toleransi. Tak ada kesempatan lagi.

Aku sadar, menolaknya hanya membuat kita makan hati. Aku tak mau.

Baiklah, bila memang ini yang terbaik. Terimakasih untuk selama ini, sungguh. Aku benar bersyukur kamu diijinkan ada, menjelma nyata selama tiga tahun. Terimakasih. Suatu bahagia bisa berada dalam harimu, begitu sebaliknya.

Baik-baik, sayang. Karena aku akan tetap menyayangimu, sekalipun kita telah dipisahkan ruang dan waktu.

Senin, 16 Juni 2014

Pengunci

Hai, selamat malam, Tuan baik hati.

Aku sedang menebak-nebak sedang apa kamu ketika jemariku asyik menari diatas keyboard, berusaha menyelesaikan tulisan, demi kamu. Kamu, yang entah dengan bahasa seperti apa aku harus menyebut. Ingin kubilang sebuah keberuntungan dan skenario paling indah bila kuingat masalalu, saat kamu masih bertahan untuk tetap berdiri diam disana, memandangku dari kejauhan, tak tahu kalimat apa yang kamu simpan dalam hati sebagai tanggapan atas kelakuanku. Haha. Mengingatnya, aku bingung benar bagaimana cara untuk bisa berhenti tertawa. Lalu, wajahku akan merah seperti tomat. Kamu jelas sudah tahu seperti apa aku. Sikap dan kelakuan yang cukup untuk bisa menyabet gelar preman alim di kelas, setidaknya. Tapi kamu memandang sisi yang kebanyakan orang menolak untuk menatap, apalagi memikirkan. Ah, Tuan. Aku terpesona lagi.

Suhu badanku benar-benar tinggi, sekelilingku terasa berputar dan aku tidak bisa melepas maskerku kecuali saat minum atau makan. Virus influenza adalah yang pertama menyambutku hari ini. Tapi aku sudah berjanji untuk menyelesaikan tulisan ini setelah aku ujian. Maka, aku berusaha keras membawanya pada kalimat terakhir, tak peduli seperti apa rasanya badanku saat ini. Ini sungguh demi kamu, Tuan. Aku hanya ingin menepati janjiku.

Baiklah, aku paham benar kata ‘first’ yang kamu ketik untuk membalas pesan singkatku adalah kode keras. Aku paham, Tuan. Tapi sungguh aku sengaja untuk tidak mengambil nomor urut satu dalam mengucapkan kalimat istimewa untukmu. Tolong, jangan marah dulu. Jangan memberiku tatapan sinis untuk keputusanku ini. Aku punya dasar yang kuharap, bisa membuatmu mengerti.

Bukannya aku tak peduli akan hari istimewamu. Tapi aku berusaha sadar diri. Aku bukan siapamu. Maka aku mempersilakan orang lain, mereka yang lebih pantas jadi First Expresser. Mereka yang menyandang status keluarga, sahabat, mungkin juga teman dekat. Oh, iya, satu lagi, masalalumu. Ah aku nyaris melupakan dia. Maaf, aku menyelipkannya disini. Bukan apa-apa, aku hanya merasa ada sesuatu yang menohokku kala mata bertemu ceritanya. Ah, Tuan. Bila kembali ingat tentang wanita satu itu, aku justru merasa teriris. Tapi, sudahlah. Lebih baik aku menulis tentangmu lagi.

Tadinya aku juga ingin menjadi pengucap pertama buatmu. Lalu sebuah ingatan muncul dan mengubah rencanaku. Atas dasar aku bukan siapamu dan kamu terkenal—berarti akan ada banyak manusia yang bisa menjadi pengucap pertamamu, aku memilih menunggu malam selanjutnya tiba, dan kalimat itu akan sampai kepadamu. Sungguh, maaf telah membuatmu kembali menunggu.

Kulakukan ini demi sebuah harapan tentang kamu. Aku sadar sudah tidak mungkin menjadi yang pertama buatmu, karena tentu itu butuh mesin pemutar waktu. Lagipula, aku takut bila menjadi yang pertama, aku justru tidak bisa mempertanggungjawabkannya sampai selesai.

Lihatlah pintu hari itu, Tuan. Kupastikan ada banyak orang yang mau membukanya untukmu. Tapi seringkali mereka tak peduli keadaanmu kala itu. Mungkin kamu masih ingin terlelap dalam tidurmu. Masih ingin menikmati terpejamnya mata bersama barang-barang kesayanganmu, bersama mimpimu, bersama bahagia yang hanya bisa dinikmati kala terlelap. Mungkin kamu masih enggan bersua dengan sinar Sang Surya. Tapi mereka keburu membuka pintumu, menyibakkan tiraimu sampai seberkas cahaya itu nampak, dan kamu terpaksa membuka mata. Ah, sayang.. oh, maksudku, Tuan, aku hanya tidak ingin menjadi perusak bahagiamu.

Maka, ijinkan aku yang mengucapkan kalimat istimewa itu terakhir kali. Biarkan aku memastikan bahwa kamu baik-baik saja. Biarkan aku memastikan bahwa tempat tidurmu sudah tertata rapi sebelum badanmu merebah di atasnya. Ijinkan aku benar tahu, bahwa pengharum ruanganmu telah diatur untuk menyemburkan aroma dalam jarak waktu yang tak terlalu dekat atau terlalu jauh. Biarkan aku memastikan pengatur suhu pada ruanganmu tak terlampau sejuk atau terlampau panas, agar kamu bisa terlelap senyaman mungkin. Ijinkan aku menutup jendela kamarmu, melepas pengikat tiraimu, dan memastikan bahwa takkan ada gangguan dari luar yang merayap masuk lalu mengganggumu. Ijinkan aku mengecupmu satu detik setelah kamu memejamkan mata, dan biarkan aku melihat senyum penutup harimu, agar aku tahu, kamu siap beralih ke alam mimpi dengan bahagia. Lalu, biarkan aku menyalakan lampu tidurmu. Dan terakhir, ijinkan aku yang menutup pintu. Memastikan kamu baik-baik saja, sekali lagi.

Sekalipun paragraf di atas hanya analogi, aku percaya rengkuhanku akan sampai kepadamu, entah dengan cara apa. Aku pun percaya, kecupanku akan sampai pula kepadamu, sekalipun aku tak tahu bagaimana. Aku tetap percaya. Seperti kamu yang tetap percaya bahwa mimpi akan berubah menjadi kenyataan dalam proses Sang Waktu. Seperti kamu yang percaya dan sabar, bahwa penantianmu selama ini takkan sia-sia, begitu juga aku. Terimakasih sudah mengajariku banyak hal.

Selamat ulang tahun.


Pada suatu malam.
Dalam waktu yang tidak berkesudahan
Antara aku, kamu, dan mungkin kita.

Satu hari nanti.