Saya tak akan menulis panjang-panjang kali ini. cukup sederet kalimat terimakasih untuk kalian, manusia-manusia istimewa. Tanpa kalian, mungkin saya takkan lagi menikmati krim pada kue ulang tahun milik saya sendiri. tanpa kalian, mungkin saya takkan menghargai injakan kaki pada angka enambelas dalam satuan tahun. Terimakasih, sungguh. Atas siratan kepedulian yang sedia kalian bagikan.
Rabu, 07 Mei 2014
Jumat, 18 April 2014
Aku Sanggup
“Kamu itu tukang ngeluh!” nyaris,
kamu menjerit. Berusaha mengeluarkan semua unek-unek dan melampiaskannya dalam
satu kalimat. Sentakanmu mungkin terlampau kuat hingga aku merinding. Mulutku
otomatis menganga, tak menyangka nada tegas dan keras seperti itu akan keluar
dari mulutmu. Aku pun tak tahu harus membalasmu dengan reaksi macam apa. Atau
perlukah kukatakan cukup?
Aku takkan pernah bisa dan tak
punya hak untuk memaksamu bertahan terhadap semua ini. Kamu punya kebebasan
untuk menentukan pilihanmu, jalanmu, dan langkahmu selanjutnya. Aku hanyalah
satu dari sekian banyak manusia yang Tuhan beri kesempatan untuk menemuimu pada
hari-hari yang telah tersusun dalam skenario hidup. Akan ada banyak orang yang
mengisi otakmu, memperebutkan urutan pertama pada ingatanmu. Bukan hanya aku.
Aku hanyalah salah satu, bukan satu-satunya. Itu semua tergantung kecocokan
antara hatimu dan skenario Tuhan. Bisa apa aku?
Maaf, tapi aku mulai ragu.
Akankah ‘kita’ bisa bertahan seperti angan yang terburu terucap kala bahagia?
Aku berusaha untuk selalu menempatkanmu pada urutan teratas di daftar otak.
Butuh proses, butuh banyak hal yang harus dikorbankan untuk sekadar bisa
mengganti urutan. Aku susah payah membangun kepercayaan akan kamu. Tapi kamu
semudah itu memporak-porandakannya. Adakah terpikirkan olehmu bagaimana
perasaanku? Andai kamu mau memahami, takkan ada wanita yang mau sampai berdarah-darah
memperjuangkanmu selain aku dan ibumu. Inikah balasanmu?
Bukan bermaksud pamrih, tapi aku
juga manusia yang butuh dihargai. Aku masih cukup sadar diri. Siapalah aku
bagimu? Tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya menginjak-injak hati orang lain
sementara hatimu kau bentengi agar tak satupun pisau, pedang, atau belati
menembusnya dan mengoyak hatimu, juga rasa di dalamnya.
Aku bahkan tak mengenal kamu yang
sekarang. Berusaha aku berpikir positif. Kucoba mencuci otakku dengan anggapan
bahwa kamu hanya mengalami kelelahan berat sesaat. Lagi, aku mati-matian
mempertahankan anggapan itu dengan alasan aku sudah memilihmu dan aku ingin
konsekuen menerima segala resiko akan pilihan itu. Namun tetap saja, sifat
keras kepalamu, hatimu yang seperti batu dan sedingin es menolak untuk mencoba
memahami. Lantas, siapakah yang egois?
Ada satu hari yang kuingat benar
telah membawa hari-hari lain untuk menyerangku tanpa henti. Bukannya bermaksud
melebih-lebihkan, karena kurasa tepat menggambarkannya seperti itu. Terlampau
banyak urusan yang minta diselesaikan secepatnya. Terlampau banyak tenaga yang
harus dikeluarkan dan waktu istirahat pun dipaksa mengalah.
Aku mulai paham aku membutuhkan
semangat darimu lagi. Tak perlu dalam wujud rengkuhan. Tak selalu aku
mengharapkan itu. Bagiku, cukuplah dapat berbagi denganmu. Cukuplah aku tahu
telingamu benar kujejali dengan ceritaku. Soal bakal kau simpan atau tidak, itu
takkan jadi masalah. Aku akan terbiasa dengan manusia yang menolak otaknya
menyimpan kisahku. Itu hak mereka. Pertanyaannya, adakah kamu mau menyendengkan
salah satu telingamu?
Kalau kamu bakal menjawab tidak,
mestinya aku siap. Tapi tak semudah itu. Penolakanmu bisa berarti satu pukulan
telak untukku. Sebuah tanda yang mengharuskan aku untuk mundur dan mencari
sesuatu lain yang bisa kupakai sebagai pelampiasan.
Aku akan lepas kendali, sungguh.
Masih sangat sulit buatku untuk menata bagaimana prosesi pelampiasan itu. Aku
akan meledak-ledak. Aku akan meluncur cepat layaknya roket yang sebelum
menembus atmosfer, misinya telah gagal. Lalu, kamu akan menyalahkanku. Selalu
begitu.
Andai boleh menyerah, sudah
kulakukan itu sedari dulu. Entah mengapa aku ingin bertahan. Selalu saja ada
perasaan tak ikhlas ketika keputusan menyerah itu mulai membesar. Kurasa
seperti ada yang ingin mencaci dan mengejek ketika akhirnya aku menyerah. Maka,
kuputuskan untuk mencoba lagi dari awal. Mengambil puing-puing yang berserakan.
Menatanya kembali, satu demi satu. Entahlah, mungkin kamu takkan tahu tentang
itu.
Aku masih ingat ketika seseorang
menguatkanku. Dia berkata supaya aku selalu ingat akan apa dan siapa yang
kuperjuangkan. Akan apa dan siapa yang ingin kupersembahi hasil jerih payah
ini. Agar aku bisa melewati segala sesuatu yang berawal manis namun pada tengah
jalan bermutasi jadi jarum-jarum kecil. Agar aku, pada akhirnya, bisa
benar-benar membuktikan kepada setiap manusia yang mau mendengarkanku. Bahwa
aku telah berhasil melewati bagian yang pahit.
Dan hari ini suhunya naik, udara
menghangat. Tapi, entah mengapa sedari tadi bulu kudukku meremang. Terus saja
aku merinding, menggigil. Aku tak mau seperti orang kolot yang
menghubung-hubungkan hal yang tak biasa ini dengan rasa yang disebut sakit
hati. Namun, bisa kujabarkan dengan rumus apa tiap kejadian ini?
Aku mulai lelah dengan semua ini.
Dan sesalku, mengapa kamu juga jadi salah satu penyebab lelahku?
Maka, pergilah jika itu akan
membuatmu bahagia. Menjauhlah, jangan kembali, bila itu dapat menggores senyum
juga tawamu lagi. Kejar apapun yang kamu mau. Jangan pikirkan aku. Aku hanya
calon masalalumu yang baru. Lupakan semuanya, kubur dalam-dalam, buang
jauh-jauh, tutup rapat-rapat. Aku akan sanggup. Bahagiamu adalah nomor satu.
Soal aku, takkan penting untukmu.
Jumat, 21 Maret 2014
Puisi Hati
Tersenyumlah saat kau mengingatku,
Karena saat itu aku sangat merindukanmu
Dan menangislah saat kau merindukanku,
Karena saat itu aku tak berada di sampingmu
Tetapi pejamkanlah mata indahmu itu
Karena saat itu aku akan terasa ada di dekatmu
Karena aku telah berada di hatimu untuk selamanya
Tak
ada yang tersisa lagi untukku
Selain
kenangan-kenangan yang indah bersamamu
Mata
indah yang dengannya aku biasa melihat keindahan cinta
Mata
indah yang dahulu adalah milikku
Kini
semua terasa jauh meninggalkanku
Kehidupan
terasa kosong tanpa keindahanmu
Hati
cinta dan rinduku adalah milikmu
Cintamu takkan pernah membebaskanku
Bagaimana mungkin aku terbang mencari cinta yang lain
Saat sayap-sayapku telah patah karenamu
Cintamu
akan tetap tinggal bersamaku
Hingga
akhir hayatku dan setelah kematian
Hingga
tangan Tuhan telah menyatukan kita lagi
Betatapun hati telah terpikat pada sosok terang dalam
kegelapan
Yang tengah menghidupkan sinar hidupku
Namun tak dapat menyinari dan menghangatkan perasaanku yang
sesungguhnya
Aku tidak akan pernah bisa menemukan cinta yang lain selain
cintamu
Karena mereka tak tertandingi oleh sosok dirimu dalam jiwaku
Kau
takkan pernah terganti
Bagai
pecahan logam mengekalkan
Kesunyian
kesendirian dan kesedihanku
Kini
aku telah kehilanganmu
Dari sebuah alunan lagu
yang dengannya
aku menghadirkan bayanganmu
kembali ke ingatanku.
Selasa, 25 Februari 2014
Pilihan
Tak
akan ada lelaki seperti dia, aku bersumpah.
Aku
tak akan memohon-mohon lagi layaknya anak kecil yang merengek minta mainan.
Tidak lagi. aku sudah kehabisan waktu dan tenaga untuk benar-benar
melakukannya. Kesabaranku sudah habis mengatakannya. Aku lelah. Dan aku tak
mengutamakan kelembutan agar isyarat pesan itu dapat tersampaikan. Sudah cukup
halus kukirim tanda-tanda itu, dan kalian tetap tak mengerti. Akan ada saatnya
garis dan hentakan yang lebih tegas itu berjalan di depan, supaya jelas. Supaya
mereka yang melihatnya―termasuk kalian―bisa lebih peka. Aku berani
mengatakannya terus terang karena kuyakin, peka bukanlah suatu sikap yang
terlampau sulit untuk dimiliki. Jangan kaget kalau aku jadi begini. Aku bosan
harus terus-menerus halus lembut seperti bulu boneka. Aku mulai malas harus
membatasi sikap dengan ratusan aturan.
Sudah
kubilang, hanya lelaki itu, satu-satunya manusia diluar keluarga yang mau
benar-benar meluangkan waktu juga tenaga untukku. Tak perlu lagi kusampaikan
secara kronologis hingga keputusan ini resmi tertera di hati.
Dia
memang jauh dari sempurna. Semua manusia juga begitu. Entah bagaimana ia
tercipta, entah bagaimana masa kecilnya, entah bagaimana hari-harinya,
keluarganya , sekolahnya, lingkungan tempat tinggalnya. Seterjamin apapun,
berkualitas setinggi apapun yang ia miliki juga alami, ia tetaplah manusia.
Makhluk dunia yang (katanya) paling baik dan (katanya) berakhlak mulia namun
tak akan bisa mencapai sempurna. Ia jelas punya setumpuk sisi baik dan buruk.
Mungkin ketika Waktu mengijinkan pertemuan itu terjadi, sisi buruk adalah
pemimpin barisan sikap. Tapi segalanya mulai berubah tatkala pertemuan itu
berlanjut, melewati angka satu.
Tolong
jangan hanya keburukannya yang ada di otak kalian. Ia bukan mesin perusak. Ia bukan
robot penghancur.
Kuakui
aku belum dewasa. Tapi bukan berarti segala keputusan yang berkaitan dengan
diriku, dengan masa depanku, dengan bahagiaku, harus ditentukan oleh kalian.
Maaf, bukannya tidak menghargai. Aku hanya ingin diperhitungkan. Hubungan ini
aku yang menjalani. Aku yang merasakan suka duka, tangis tawa, pedih perih,
juga bahagia. Jika menatap dan menilai dari kejauhan adalah dasar kalian tidak
mengiyakan, aku tidak terima. Ini tidak adil.
Cinta
itu hak setiap makhluk. Tumbuhan, hewan, juga manusia ada, atas nama cinta.
Atas nama cinta Tuhan mencipta. Tidak peduli makhluk buas, ganas, beringas,
atau sebaliknya, semua berhak dicinta dan mencinta. Adakah matahari hanya
memberikan sinarnya untuk mereka yang baik? Adakah angin dan udara berhembus
hanya untuk mereka yang beragama? Adakah air hanya boleh digunakan oleh makhluk
dengan syarat tertentu?
Maka
jangan mengatasnamakan sisi buruknya agar kalian bisa sesuka hati tidak
merestui. Hidup itu pilihan, bukan?
Aku
memilih dia.
Itu
keputusanku.
Kamis, 23 Januari 2014
Dia tidak seburuk itu, Pa
Pa.
Sebenarnya aku tidak suka menuliskan semua ini. Merupakan hal yang terlalu privasi untuk dibaca ratusan pasang mata, diingat belasan otak, dan dipahami beberapa hati. Tapi, Pa, semakin lama aku semakin tidak tahan dengan semua ini. Aku bukan anak kecil lagi, Pa. Aku juga belum dewasa. Meski demikian, bagaimanapun keadaannya, aku masih jadi gadismu yang tetap bisa kau atur dengan penuh kebijaksanaan. Telingaku masih bisa kau jejali dengan deretan nasehat. Hatiku masih bisa kau perintah juga kau larang. Aku masih putrimu, Pa. Sampai kapanpun itu.
Sebenarnya aku tidak suka menuliskan semua ini. Merupakan hal yang terlalu privasi untuk dibaca ratusan pasang mata, diingat belasan otak, dan dipahami beberapa hati. Tapi, Pa, semakin lama aku semakin tidak tahan dengan semua ini. Aku bukan anak kecil lagi, Pa. Aku juga belum dewasa. Meski demikian, bagaimanapun keadaannya, aku masih jadi gadismu yang tetap bisa kau atur dengan penuh kebijaksanaan. Telingaku masih bisa kau jejali dengan deretan nasehat. Hatiku masih bisa kau perintah juga kau larang. Aku masih putrimu, Pa. Sampai kapanpun itu.
Pa.
Segalanya tak lagi sama ketika aku menginjakkan kaki pada angka belasan dalam satuan tahun. Segalanya tak lagi sama ketika aku mulai tertarik dengan lawan jenisku. Dan segalanya tak lagi sama, Pa, ketika aku benar-benar jatuh cinta. Ada banyak pria disana, Pa. Tak terhitung jumlahnya. Beberapa dari mereka memang menarik. Dan itu cukup mengusik ketenanganku, membuatku penasaran, membuatku tak bisa mengabaikan.
Segalanya tak lagi sama ketika aku menginjakkan kaki pada angka belasan dalam satuan tahun. Segalanya tak lagi sama ketika aku mulai tertarik dengan lawan jenisku. Dan segalanya tak lagi sama, Pa, ketika aku benar-benar jatuh cinta. Ada banyak pria disana, Pa. Tak terhitung jumlahnya. Beberapa dari mereka memang menarik. Dan itu cukup mengusik ketenanganku, membuatku penasaran, membuatku tak bisa mengabaikan.
Aku tahu aku tak perlu menyebutkan kapan aku mulai bisa menyimpulkan kala
aku sedang jatuh cinta. Aku juga tahu aku tak perlu memberi daftar nama para
adam yang membuat rasa dalam hati berbeda. Rasa yang disebut cinta itu pada
awalnya tak terlalu penting. Aku bisa dekat dengan teman lelaki di sekolahku
tanpa perlu memberitahumu. Aku bisa mengalami ‘cinta monyet’ tanpa bercerita
padamu. Aku masih terlalu labil dalam menyikapi semua hubungan yang sebenarnya
hanya formalitas bila aku memandangnya dari sudut pandangku saat ini. Dan itu
tak pernah kuakui dihadapanmu, karena saat itu masih sadar diri usiaku masih
terlalu dini untuk berbicara soal cinta. Lagipula, aku masih satu sekolah
dengan mereka. Masih bertemu setiap hari. Jadi kurasa belum perlu aku hangout dengan mereka, yang tentunya,
wajib seijinmu.
Pa.
Kurasa sudah saatnya aku menceritakan satu hal penting yang selama ini kujaga, kusimpan rapat-rapat dalam hati. Jangan murka, Pa. Karena aku sendiri tak tahu mengapa bisa begini. Aku tidak minta perasaan yang tak biasa ini datang dan pergi. Aku tidak pernah mengundangnya, juga tak pernah mengusirnya. Ia selalu bisa datang dan pergi semaunya, sesukanya, sesenangnya. Terserah dia. Dan kali ini, rasa yang tak tahu diri itu kembali mengusik, Pa. Bahkan lebih hebat dari yang sebelum-sebelumnya.
Kurasa sudah saatnya aku menceritakan satu hal penting yang selama ini kujaga, kusimpan rapat-rapat dalam hati. Jangan murka, Pa. Karena aku sendiri tak tahu mengapa bisa begini. Aku tidak minta perasaan yang tak biasa ini datang dan pergi. Aku tidak pernah mengundangnya, juga tak pernah mengusirnya. Ia selalu bisa datang dan pergi semaunya, sesukanya, sesenangnya. Terserah dia. Dan kali ini, rasa yang tak tahu diri itu kembali mengusik, Pa. Bahkan lebih hebat dari yang sebelum-sebelumnya.
Pa.
Lelaki itu mulai kukenal ketika aku kelas delapan. Aku mengenalnya lewat jejaring sosial, lalu pada sepotong sore, aku bertemu dia untuk pertama kali. Sungguh aku tak pernah berpikir perkenalan sederhana itu akan berlanjut hingga detik ini. Aku membiarkan semua itu mengalir layaknya air tanpa pernah berpikir bahwa segelintir rasa itu akan melebur, melebar, dan akhirnya meluber. Ini diluar dugaan, Pa. Sungguh.
Lelaki itu mulai kukenal ketika aku kelas delapan. Aku mengenalnya lewat jejaring sosial, lalu pada sepotong sore, aku bertemu dia untuk pertama kali. Sungguh aku tak pernah berpikir perkenalan sederhana itu akan berlanjut hingga detik ini. Aku membiarkan semua itu mengalir layaknya air tanpa pernah berpikir bahwa segelintir rasa itu akan melebur, melebar, dan akhirnya meluber. Ini diluar dugaan, Pa. Sungguh.
Pa.
Lagi-lagi segalanya tak lagi sama ketika lelaki itu mulai jadi manusia penting yang membuat hitam dan putihku menjadi lebih berwarna. Segalanya tak lagi sama ketika aku merasa ada sesuatu yang kurang saat aku tidak menghubungi dia. Segalanya mulai berbeda ketika dia naik pangkat jadi mood booster yang wajib ada untuk menyemangatiku, untuk menguatkanku melewati hal-hal tak tertebak lainnya setiap hari. Dia mulai berarti, Pa. Dia mulai kutitipi hati. Jangan cemburu, Pa. Bukankah cepat atau lambat aku akan menemukan pria yang kusebut belahan jiwa, dan meninggalkanmu untuk hidup bersamanya, menyusun mimpi, serta mewujudkannya? Entah kapan masa itu tiba, aku akan melangkahkan kaki, keluar dari istanamu yang berdinding keamanan, berlantai kenyamanan, beratap kasih sayang lalu membuka pintu kehidupan baru dan memulai petualanganku dengan status baru pula.
Lagi-lagi segalanya tak lagi sama ketika lelaki itu mulai jadi manusia penting yang membuat hitam dan putihku menjadi lebih berwarna. Segalanya tak lagi sama ketika aku merasa ada sesuatu yang kurang saat aku tidak menghubungi dia. Segalanya mulai berbeda ketika dia naik pangkat jadi mood booster yang wajib ada untuk menyemangatiku, untuk menguatkanku melewati hal-hal tak tertebak lainnya setiap hari. Dia mulai berarti, Pa. Dia mulai kutitipi hati. Jangan cemburu, Pa. Bukankah cepat atau lambat aku akan menemukan pria yang kusebut belahan jiwa, dan meninggalkanmu untuk hidup bersamanya, menyusun mimpi, serta mewujudkannya? Entah kapan masa itu tiba, aku akan melangkahkan kaki, keluar dari istanamu yang berdinding keamanan, berlantai kenyamanan, beratap kasih sayang lalu membuka pintu kehidupan baru dan memulai petualanganku dengan status baru pula.
Pa.
Aku tidak bisa begini terus. Aku tahu, laranganmu itu kau ucapkan atas nama kasih. Aku tahu kau tidak ingin sesuatu tak terduga akan terjadi pada anak semata wayangmu ini. Tapi, tolong, Pa. Harus berapa lama lagi aku menunggu untuk bisa mendapatkan ijinmu mengenai status yang lebih serius dengannya? Apakah cinta harus dibatasi umur dan perbedaan latar belakang? Apakah cinta harus disertai definisi yang begitu kaku?
Aku tidak bisa begini terus. Aku tahu, laranganmu itu kau ucapkan atas nama kasih. Aku tahu kau tidak ingin sesuatu tak terduga akan terjadi pada anak semata wayangmu ini. Tapi, tolong, Pa. Harus berapa lama lagi aku menunggu untuk bisa mendapatkan ijinmu mengenai status yang lebih serius dengannya? Apakah cinta harus dibatasi umur dan perbedaan latar belakang? Apakah cinta harus disertai definisi yang begitu kaku?
Dia tidak seburuk itu, Pa. Aku sudah mengenalnya cukup lama. Aku tahu
caranya menghargai wanita tidak terdapat pada kebanyakan pria. Kuakui dia tidak
alim, tapi dia tahu sampai mana dia boleh bersikap seperti remaja laki-laki. Dia
bisa mengendalikan diri, Pa. Aku bisa mengatakannya karena dari dia aku belajar
banyak hal tentang hal-hal di dekatku yang selama ini tidak kuketahui dengan
baik. Dia membuatku merasa aman, Pa. Dia seorang penjaga yang baik. Seorang penyemangat
yang setia. Seorang pengendali mood
yang (kadang) baik. Jadi, bila aku hanya ingin bisa menikmati suasana luar
rumah dengannya, tidak salah kan, Pa? Mengapa Papa tidak mengijinkan?
Dia tidak seburuk itu, Pa. Dia tidak senakal kelihatannya. Tolong, Pa. Beri
aku kesempatan satu kali saja untuk aku bisa menghabiskan malam minggu
bersamanya seperti yang orang-orang lakukan. Aku hanya ingin berbincang-bincang
mengenai banyak hal, seperti yang selama ini kulakukan saat dia berkunjung ke
rumah. Mencoba tidak ada salahnya kan? Siapa tahu suatu saat nanti Papa juga bisa
cocok dengannya. Aku percaya, laranganmu ada karena Papa belum kenal siapa dia.
Papa belum terlibat pembicaraan panjang dengannya. Aku hanya ingin menikmati
suasana luar bersamanya. Permintaan itu tidak muluk-muluk kan, Pa?
Coba ingatlah kembali, Pa. Siapa pria yang mau datang jauh-jauh ke rumah
selain dia? Siapa pria yang rela memboroskan bensin hanya untuk menjemputku
dari sekolah selain Papa dan dia? Padahal Papa tahu sendiri jarak sekolah ke
rumah dengan jarak rumahnya ke sekolahku terpaut jauh. Tapi dia rela
melakukannya, Pa. Coba ingatlah lagi. Bahkan kakak sepupuku yang secara DNA
masih ada kesamaan denganku belum tentu mau melakukannya. Hanya dia
satu-satunya pria yang berani terus terang pamit dan minta ijin padamu. Hanya dia,
Pa. Hanya dia selama ini. Apa itu kurang?
Pa.
Sekali lagi kukatakan, dia tidak seburuk kelihatannya. Dia tidak senakal penampilannya. Dia tidak seliar dan seganas tatapan matanya. Aku juga mencintainya. Gadismu bukan anak kecil lagi, meski dia juga belum dewasa.
Sekali lagi kukatakan, dia tidak seburuk kelihatannya. Dia tidak senakal penampilannya. Dia tidak seliar dan seganas tatapan matanya. Aku juga mencintainya. Gadismu bukan anak kecil lagi, meski dia juga belum dewasa.
Pa.
Harus dengan apa aku meyakinkanmu?
Harus dengan apa aku meyakinkanmu?
Rabu, 22 Januari 2014
Terimakasih untuk hari ini
Hai. Selamat pagi.
Terimakasih sudah menyapa saya pagi ini dengan kabar yang menyakitkan.
Sesuatu yang... entah. Aku masih bingung harus bersyukur atas petir pagi
hari ini atau malah memaki-maki. Tidak berlebihan bila aku menyebut pesanmu
sebagai bencana yang memporak-porandakan semangat yang susah payah kususun
sejak semalam. Aku masih normal. Masih bisa merasa ada sesuatu yang tidak beres
denganmu. Balasan-balasanmu yang sedemikian singkat. Nada-nada datarmu yang
tersirat. Merupakan petunjuk atas perasaanmu yang bayang-bayang negatifnya
melekat kuat. Mestinya aku mempertanyakan semua itu. Harusnya, aku segera
mencari tahu alasan yang mendasari perubahan bahasa tulismu.
Aku masih belum bisa memahami. Rasanya kemarin kita baik-baik saja. Tapi
pagi ini segalanya berubah total. Hembusan angin pagi yang biasanya
menyegarkan, mendadak bermutasi jadi jarum-jarum kecil sebelum menyapa kulit
dan menyentak saraf. Senyum lebarku semalam ternyata juga tidak bertahan sampai
hari ini menemui akhirnya. Haruskah bahagia berbalik jadi duka dalam tempo
sesingkat itu?
Airmata sudah jelas jadi akibat pesanmu. Lagi, harus ada deraian dan
senggukan yang mendampingi hari ini. Entah sudah yang keberapa kali.
Sepertinya, rasa sakit, peluh, dan airmata perlu kumasukkan dalam daftar
sehari-hari. Tak jemukah kamu, sayang? Kapan kamu berhenti memaksaku melewati
hari-hari bersamamu dengan iringan pedih dan perih? Agaknya merupakan suatu
kebanggaan tak terkira bagimu melihat wanita yang (katamu) berarti dalam hidup merasa
bak tertusuk belati karena ia memperjuangkanmu sepenuh hati.
Kukira kamu sudah berubah. Kukira kamu sudah tak ingin menyandang gelar
Tuan Egois. Satu-satunya pria yang kalemnya hanya bisa dinikmati ketika sedang
menggores tawa. Kukira kamu dapat mengartikan kesempatan yang kuberikan dengan
baik. Kukira, nasehat ayahku bisa kamu cerna dan laksanakan dengan rapi.
Haruskah aku kecewa (lagi) karena pendapatku salah (lagi)?
Inikah balasanmu? Inikah cara kamu mengimbangi perjuangan seorang wanita
yang rela segala sesuatunya dikorbankan demi sesosok lelaki, yang ternyata,
pedulinya hanya berlaku saat ia bahagia? Mungkin perlu kuberikan tepuk tangan
dan teriakan histeris paling keras dariku untuk kesaktianmu. Mungkin perlu
kuberi penghargaan tertinggi untukmu, atas kelihaianmu mengendalikan hati
manusia lain.
Kamu tahu? Napasku seakan tercekat dan aku harus merasakan ngilu luar
biasa bahkan sebelum mataku selesai membaca pesanmu. Masih terlalu pagi buatku
untuk siap menghadapi pedang itu.
Aku mempercayakan rasa ini untuk kamu. Aku percaya kamu bisa berubah. Aku
percaya kamu sudah cukup dewasa untuk bertanggungjawab atas dirimu sendiri.
Tapi, kepercayaan itu luruh dalam satu menit. Dan kamu yang menciptakan lelehan
itu. Kamu yang membuat aku harus menatanya kembali. Meski tidak dari awal,
tetap saja tak cukup satu hari untuk membereskan kepingan-kepingan hati. Kamu
melecetinya lagi, sayang. Padahal luka lama itu belum benar-benar sembuh. Kini,
kamu tusuk lagi pada tempat yang sama, kamu perdalam lagi goresannya.
Aku tahu, sayang. Aku tidak sempurna. Aku tidak bisa menemanimu menghabiskan malam minggu
bersama. Aku tidak bisa selalu hadir utuh bersama fisikku. Aku tak mampu
membuat sosokku selalu nampak nyata di hadapanmu. Aku tidak mampu. Tapi
mestinya balasanmu bukan begini, sayang. Ini terlalu menyakitkan. Hatiku tidak
tercipta dari besi atau baja yang kebal terhadap tusukan. Hatiku tidak tercipta
dari bongkahan es yang tahan disabet pedang.
Coba pikir, sayang. Wanita mana yang rela menunggu sekian lama demi kamu?
Wanita mana yang rela jadi tempat sampah untuk semua amarahmu? Wanita mana yang
mau mengubur emosimu satu persatu dalam hati dan menjaganya siang malam? Coba
ingat-ingat lagi, sayang.
Aku tidak menuntut kamu untuk menjadi manusia dalam kriteriaku secara
utuh dan penuh. Aku paham itu mustahil. Dan jujur, sesungguhnya aku benci
ketika cemburu itu mulai menguasai hati. Aku hanya terlalu takut kamu akan
meninggalkan segalaku ketika aku sedang terlalu cinta, dan di saat yang sama,
aku jatuh.
Minggu, 15 Desember 2013
Dari Para Binatang
Dari elang, kita
belajar keperkasaan
Dari rajawali, kita
belajar keberanian
Dari harimau, kita
belajar keuletan
Dari buaya, kita
belajar kesetiaan
Dari merpati, kita
belajar ketulusan
Dari kijang, kita
belajar kepekaan
Dari cheetah, kita
belajar kecepatan
Dari katak, kita
belajar kekompakan
Dari tikus, kita
belajar kecerdikan
Dari lalat, kita
belajar kegesitan
Dari kupu-kupu, kita
belajar keindahan
Dari lebah, kita
belajar mengambil keputusan
Dari tarantula, kita
belajar ketahanan
Dari belalang sembah,
kita belajar kesabaran
Dari iguana, kita
belajar ketenangan
Dari gajah, kita
belajar kesetiakawanan
Dari semut, kita
belajar kepatuhan
Dari kuda, kita
belajar kekuatan
Dari nyamuk, kita
belajar keheningan
Dari ikan angler,
kita belajar diam
Dari TUHAN, kita
belajar segalanya
Langganan:
Postingan (Atom)
