Jumat, 18 April 2014

Aku Sanggup

“Kamu itu tukang ngeluh!” nyaris, kamu menjerit. Berusaha mengeluarkan semua unek-unek dan melampiaskannya dalam satu kalimat. Sentakanmu mungkin terlampau kuat hingga aku merinding. Mulutku otomatis menganga, tak menyangka nada tegas dan keras seperti itu akan keluar dari mulutmu. Aku pun tak tahu harus membalasmu dengan reaksi macam apa. Atau perlukah kukatakan cukup?

Aku takkan pernah bisa dan tak punya hak untuk memaksamu bertahan terhadap semua ini. Kamu punya kebebasan untuk menentukan pilihanmu, jalanmu, dan langkahmu selanjutnya. Aku hanyalah satu dari sekian banyak manusia yang Tuhan beri kesempatan untuk menemuimu pada hari-hari yang telah tersusun dalam skenario hidup. Akan ada banyak orang yang mengisi otakmu, memperebutkan urutan pertama pada ingatanmu. Bukan hanya aku. Aku hanyalah salah satu, bukan satu-satunya. Itu semua tergantung kecocokan antara hatimu dan skenario Tuhan. Bisa apa aku?

Maaf, tapi aku mulai ragu. Akankah ‘kita’ bisa bertahan seperti angan yang terburu terucap kala bahagia? Aku berusaha untuk selalu menempatkanmu pada urutan teratas di daftar otak. Butuh proses, butuh banyak hal yang harus dikorbankan untuk sekadar bisa mengganti urutan. Aku susah payah membangun kepercayaan akan kamu. Tapi kamu semudah itu memporak-porandakannya. Adakah terpikirkan olehmu bagaimana perasaanku? Andai kamu mau memahami, takkan ada wanita yang mau sampai berdarah-darah memperjuangkanmu selain aku dan ibumu. Inikah balasanmu?

Bukan bermaksud pamrih, tapi aku juga manusia yang butuh dihargai. Aku masih cukup sadar diri. Siapalah aku bagimu? Tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya menginjak-injak hati orang lain sementara hatimu kau bentengi agar tak satupun pisau, pedang, atau belati menembusnya dan mengoyak hatimu, juga rasa di dalamnya.

Aku bahkan tak mengenal kamu yang sekarang. Berusaha aku berpikir positif. Kucoba mencuci otakku dengan anggapan bahwa kamu hanya mengalami kelelahan berat sesaat. Lagi, aku mati-matian mempertahankan anggapan itu dengan alasan aku sudah memilihmu dan aku ingin konsekuen menerima segala resiko akan pilihan itu. Namun tetap saja, sifat keras kepalamu, hatimu yang seperti batu dan sedingin es menolak untuk mencoba memahami. Lantas, siapakah yang egois?

Ada satu hari yang kuingat benar telah membawa hari-hari lain untuk menyerangku tanpa henti. Bukannya bermaksud melebih-lebihkan, karena kurasa tepat menggambarkannya seperti itu. Terlampau banyak urusan yang minta diselesaikan secepatnya. Terlampau banyak tenaga yang harus dikeluarkan dan waktu istirahat pun dipaksa mengalah.

Aku mulai paham aku membutuhkan semangat darimu lagi. Tak perlu dalam wujud rengkuhan. Tak selalu aku mengharapkan itu. Bagiku, cukuplah dapat berbagi denganmu. Cukuplah aku tahu telingamu benar kujejali dengan ceritaku. Soal bakal kau simpan atau tidak, itu takkan jadi masalah. Aku akan terbiasa dengan manusia yang menolak otaknya menyimpan kisahku. Itu hak mereka. Pertanyaannya, adakah kamu mau menyendengkan salah satu telingamu?

Kalau kamu bakal menjawab tidak, mestinya aku siap. Tapi tak semudah itu. Penolakanmu bisa berarti satu pukulan telak untukku. Sebuah tanda yang mengharuskan aku untuk mundur dan mencari sesuatu lain yang bisa kupakai sebagai pelampiasan.

Aku akan lepas kendali, sungguh. Masih sangat sulit buatku untuk menata bagaimana prosesi pelampiasan itu. Aku akan meledak-ledak. Aku akan meluncur cepat layaknya roket yang sebelum menembus atmosfer, misinya telah gagal. Lalu, kamu akan menyalahkanku. Selalu begitu.

Andai boleh menyerah, sudah kulakukan itu sedari dulu. Entah mengapa aku ingin bertahan. Selalu saja ada perasaan tak ikhlas ketika keputusan menyerah itu mulai membesar. Kurasa seperti ada yang ingin mencaci dan mengejek ketika akhirnya aku menyerah. Maka, kuputuskan untuk mencoba lagi dari awal. Mengambil puing-puing yang berserakan. Menatanya kembali, satu demi satu. Entahlah, mungkin kamu takkan tahu tentang itu.

Aku masih ingat ketika seseorang menguatkanku. Dia berkata supaya aku selalu ingat akan apa dan siapa yang kuperjuangkan. Akan apa dan siapa yang ingin kupersembahi hasil jerih payah ini. Agar aku bisa melewati segala sesuatu yang berawal manis namun pada tengah jalan bermutasi jadi jarum-jarum kecil. Agar aku, pada akhirnya, bisa benar-benar membuktikan kepada setiap manusia yang mau mendengarkanku. Bahwa aku telah berhasil melewati bagian yang pahit.

Dan hari ini suhunya naik, udara menghangat. Tapi, entah mengapa sedari tadi bulu kudukku meremang. Terus saja aku merinding, menggigil. Aku tak mau seperti orang kolot yang menghubung-hubungkan hal yang tak biasa ini dengan rasa yang disebut sakit hati. Namun, bisa kujabarkan dengan rumus apa tiap kejadian ini?

Aku mulai lelah dengan semua ini. Dan sesalku, mengapa kamu juga jadi salah satu penyebab lelahku?

Maka, pergilah jika itu akan membuatmu bahagia. Menjauhlah, jangan kembali, bila itu dapat menggores senyum juga tawamu lagi. Kejar apapun yang kamu mau. Jangan pikirkan aku. Aku hanya calon masalalumu yang baru. Lupakan semuanya, kubur dalam-dalam, buang jauh-jauh, tutup rapat-rapat. Aku akan sanggup. Bahagiamu adalah nomor satu. Soal aku, takkan penting untukmu.

Jumat, 21 Maret 2014

Puisi Hati

Tersenyumlah saat kau mengingatku,
Karena saat itu aku sangat merindukanmu
Dan menangislah saat kau merindukanku,
Karena saat itu aku tak berada di sampingmu
Tetapi pejamkanlah mata indahmu itu
Karena saat itu aku akan terasa ada di dekatmu
Karena aku telah berada di hatimu untuk selamanya

                                Tak ada yang tersisa lagi untukku
                                Selain kenangan-kenangan yang indah bersamamu
                                Mata indah yang dengannya aku biasa melihat keindahan cinta
                                Mata indah yang dahulu adalah milikku
                                Kini semua terasa jauh meninggalkanku
                                Kehidupan terasa kosong tanpa keindahanmu
                                Hati cinta dan rinduku adalah milikmu

Cintamu takkan pernah membebaskanku
Bagaimana mungkin aku terbang mencari cinta yang lain
Saat sayap-sayapku telah patah karenamu

                                Cintamu akan tetap tinggal bersamaku
                                Hingga akhir hayatku dan setelah kematian
                                Hingga tangan Tuhan telah menyatukan kita lagi

Betatapun hati telah terpikat pada sosok terang dalam kegelapan
Yang tengah menghidupkan sinar hidupku
Namun tak dapat menyinari dan menghangatkan perasaanku yang sesungguhnya
Aku tidak akan pernah bisa menemukan cinta yang lain selain cintamu
Karena mereka tak tertandingi oleh sosok dirimu dalam jiwaku

                                Kau takkan pernah terganti
                                Bagai pecahan logam mengekalkan
                                Kesunyian kesendirian dan kesedihanku
                                Kini aku telah kehilanganmu


Dari sebuah alunan lagu
yang dengannya
aku menghadirkan bayanganmu
kembali ke ingatanku.

Selasa, 25 Februari 2014

Pilihan

Tak akan ada lelaki seperti dia, aku bersumpah.

Aku tak akan memohon-mohon lagi layaknya anak kecil yang merengek minta mainan. Tidak lagi. aku sudah kehabisan waktu dan tenaga untuk benar-benar melakukannya. Kesabaranku sudah habis mengatakannya. Aku lelah. Dan aku tak mengutamakan kelembutan agar isyarat pesan itu dapat tersampaikan. Sudah cukup halus kukirim tanda-tanda itu, dan kalian tetap tak mengerti. Akan ada saatnya garis dan hentakan yang lebih tegas itu berjalan di depan, supaya jelas. Supaya mereka yang melihatnya―termasuk kalian―bisa lebih peka. Aku berani mengatakannya terus terang karena kuyakin, peka bukanlah suatu sikap yang terlampau sulit untuk dimiliki. Jangan kaget kalau aku jadi begini. Aku bosan harus terus-menerus halus lembut seperti bulu boneka. Aku mulai malas harus membatasi sikap dengan ratusan aturan.

Sudah kubilang, hanya lelaki itu, satu-satunya manusia diluar keluarga yang mau benar-benar meluangkan waktu juga tenaga untukku. Tak perlu lagi kusampaikan secara kronologis hingga keputusan ini resmi tertera di hati.

Dia memang jauh dari sempurna. Semua manusia juga begitu. Entah bagaimana ia tercipta, entah bagaimana masa kecilnya, entah bagaimana hari-harinya, keluarganya , sekolahnya, lingkungan tempat tinggalnya. Seterjamin apapun, berkualitas setinggi apapun yang ia miliki juga alami, ia tetaplah manusia. Makhluk dunia yang (katanya) paling baik dan (katanya) berakhlak mulia namun tak akan bisa mencapai sempurna. Ia jelas punya setumpuk sisi baik dan buruk. Mungkin ketika Waktu mengijinkan pertemuan itu terjadi, sisi buruk adalah pemimpin barisan sikap. Tapi segalanya mulai berubah tatkala pertemuan itu berlanjut, melewati angka satu.

Tolong jangan hanya keburukannya yang ada di otak kalian. Ia bukan mesin perusak. Ia bukan robot penghancur.

Kuakui aku belum dewasa. Tapi bukan berarti segala keputusan yang berkaitan dengan diriku, dengan masa depanku, dengan bahagiaku, harus ditentukan oleh kalian. Maaf, bukannya tidak menghargai. Aku hanya ingin diperhitungkan. Hubungan ini aku yang menjalani. Aku yang merasakan suka duka, tangis tawa, pedih perih, juga bahagia. Jika menatap dan menilai dari kejauhan adalah dasar kalian tidak mengiyakan, aku tidak terima. Ini tidak adil.

Cinta itu hak setiap makhluk. Tumbuhan, hewan, juga manusia ada, atas nama cinta. Atas nama cinta Tuhan mencipta. Tidak peduli makhluk buas, ganas, beringas, atau sebaliknya, semua berhak dicinta dan mencinta. Adakah matahari hanya memberikan sinarnya untuk mereka yang baik? Adakah angin dan udara berhembus hanya untuk mereka yang beragama? Adakah air hanya boleh digunakan oleh makhluk dengan syarat tertentu?

Maka jangan mengatasnamakan sisi buruknya agar kalian bisa sesuka hati tidak merestui. Hidup itu pilihan, bukan?

Aku memilih dia.

Itu keputusanku.

Kamis, 23 Januari 2014

Dia tidak seburuk itu, Pa

Pa.
Sebenarnya aku tidak suka menuliskan semua ini. Merupakan hal yang terlalu privasi untuk dibaca ratusan pasang mata, diingat belasan otak, dan dipahami beberapa hati. Tapi, Pa, semakin lama aku semakin tidak tahan dengan semua ini. Aku bukan anak kecil lagi, Pa. Aku juga belum dewasa. Meski demikian, bagaimanapun keadaannya, aku masih jadi gadismu yang tetap bisa kau atur dengan penuh kebijaksanaan. Telingaku masih bisa kau jejali dengan deretan nasehat. Hatiku masih bisa kau perintah juga kau larang. Aku masih putrimu, Pa. Sampai kapanpun itu.
Pa.
Segalanya tak lagi sama ketika aku menginjakkan kaki pada angka belasan dalam satuan tahun. Segalanya tak lagi sama ketika aku mulai tertarik dengan lawan jenisku. Dan segalanya tak lagi sama, Pa, ketika aku benar-benar jatuh cinta. Ada banyak pria disana, Pa. Tak terhitung jumlahnya. Beberapa dari mereka memang menarik. Dan itu cukup mengusik ketenanganku, membuatku penasaran, membuatku tak bisa mengabaikan.
Aku tahu aku tak perlu menyebutkan kapan aku mulai bisa menyimpulkan kala aku sedang jatuh cinta. Aku juga tahu aku tak perlu memberi daftar nama para adam yang membuat rasa dalam hati berbeda. Rasa yang disebut cinta itu pada awalnya tak terlalu penting. Aku bisa dekat dengan teman lelaki di sekolahku tanpa perlu memberitahumu. Aku bisa mengalami ‘cinta monyet’ tanpa bercerita padamu. Aku masih terlalu labil dalam menyikapi semua hubungan yang sebenarnya hanya formalitas bila aku memandangnya dari sudut pandangku saat ini. Dan itu tak pernah kuakui dihadapanmu, karena saat itu masih sadar diri usiaku masih terlalu dini untuk berbicara soal cinta. Lagipula, aku masih satu sekolah dengan mereka. Masih bertemu setiap hari. Jadi kurasa belum perlu aku hangout dengan mereka, yang tentunya, wajib seijinmu.
Pa.
Kurasa sudah saatnya aku menceritakan satu hal penting yang selama ini kujaga, kusimpan rapat-rapat dalam hati. Jangan murka, Pa. Karena aku sendiri tak tahu mengapa bisa begini. Aku tidak minta perasaan yang tak biasa ini datang dan pergi. Aku tidak pernah mengundangnya, juga tak pernah mengusirnya. Ia selalu bisa datang dan pergi semaunya, sesukanya, sesenangnya. Terserah dia. Dan kali ini, rasa yang tak tahu diri itu kembali mengusik, Pa. Bahkan lebih hebat dari yang sebelum-sebelumnya.
Pa.
Lelaki itu mulai kukenal ketika aku kelas delapan. Aku mengenalnya lewat jejaring sosial, lalu pada sepotong sore, aku bertemu dia untuk pertama kali. Sungguh aku tak pernah berpikir perkenalan sederhana itu akan berlanjut hingga detik ini. Aku membiarkan semua itu mengalir layaknya air tanpa pernah berpikir bahwa segelintir rasa itu akan melebur, melebar, dan akhirnya meluber. Ini diluar dugaan, Pa. Sungguh.
Pa.
Lagi-lagi segalanya tak lagi sama ketika lelaki itu mulai jadi manusia penting yang membuat hitam dan putihku menjadi lebih berwarna. Segalanya tak lagi sama ketika aku merasa ada sesuatu yang kurang saat aku tidak menghubungi dia. Segalanya mulai berbeda ketika dia naik pangkat jadi mood booster yang wajib ada untuk menyemangatiku, untuk menguatkanku melewati hal-hal tak tertebak lainnya setiap hari. Dia mulai berarti, Pa. Dia mulai kutitipi hati. Jangan cemburu, Pa. Bukankah cepat atau lambat aku akan menemukan pria yang kusebut belahan jiwa, dan meninggalkanmu untuk hidup bersamanya, menyusun mimpi, serta mewujudkannya? Entah kapan masa itu tiba, aku akan melangkahkan kaki, keluar dari istanamu yang berdinding keamanan, berlantai kenyamanan, beratap kasih sayang lalu membuka pintu kehidupan baru dan memulai petualanganku dengan status baru pula.
Pa.
Aku tidak bisa begini terus. Aku tahu, laranganmu itu kau ucapkan atas nama kasih. Aku tahu kau tidak ingin sesuatu tak terduga akan terjadi pada anak semata wayangmu ini. Tapi, tolong, Pa. Harus berapa lama lagi aku menunggu untuk bisa mendapatkan ijinmu mengenai status yang lebih serius dengannya? Apakah cinta harus dibatasi umur dan perbedaan latar belakang? Apakah cinta harus disertai definisi yang begitu kaku?
Dia tidak seburuk itu, Pa. Aku sudah mengenalnya cukup lama. Aku tahu caranya menghargai wanita tidak terdapat pada kebanyakan pria. Kuakui dia tidak alim, tapi dia tahu sampai mana dia boleh bersikap seperti remaja laki-laki. Dia bisa mengendalikan diri, Pa. Aku bisa mengatakannya karena dari dia aku belajar banyak hal tentang hal-hal di dekatku yang selama ini tidak kuketahui dengan baik. Dia membuatku merasa aman, Pa. Dia seorang penjaga yang baik. Seorang penyemangat yang setia. Seorang pengendali mood yang (kadang) baik. Jadi, bila aku hanya ingin bisa menikmati suasana luar rumah dengannya, tidak salah kan, Pa? Mengapa Papa tidak mengijinkan?
Dia tidak seburuk itu, Pa. Dia tidak senakal kelihatannya. Tolong, Pa. Beri aku kesempatan satu kali saja untuk aku bisa menghabiskan malam minggu bersamanya seperti yang orang-orang lakukan. Aku hanya ingin berbincang-bincang mengenai banyak hal, seperti yang selama ini kulakukan saat dia berkunjung ke rumah. Mencoba tidak ada salahnya kan? Siapa tahu suatu saat nanti Papa juga bisa cocok dengannya. Aku percaya, laranganmu ada karena Papa belum kenal siapa dia. Papa belum terlibat pembicaraan panjang dengannya. Aku hanya ingin menikmati suasana luar bersamanya. Permintaan itu tidak muluk-muluk kan, Pa?
Coba ingatlah kembali, Pa. Siapa pria yang mau datang jauh-jauh ke rumah selain dia? Siapa pria yang rela memboroskan bensin hanya untuk menjemputku dari sekolah selain Papa dan dia? Padahal Papa tahu sendiri jarak sekolah ke rumah dengan jarak rumahnya ke sekolahku terpaut jauh. Tapi dia rela melakukannya, Pa. Coba ingatlah lagi. Bahkan kakak sepupuku yang secara DNA masih ada kesamaan denganku belum tentu mau melakukannya. Hanya dia satu-satunya pria yang berani terus terang pamit dan minta ijin padamu. Hanya dia, Pa. Hanya dia selama ini. Apa itu kurang?
Pa.
Sekali lagi kukatakan, dia tidak seburuk kelihatannya. Dia tidak senakal penampilannya. Dia tidak seliar dan seganas tatapan matanya. Aku juga mencintainya. Gadismu bukan anak kecil lagi, meski dia juga belum dewasa.
Pa.
Harus dengan apa aku meyakinkanmu? 

Rabu, 22 Januari 2014

Terimakasih untuk hari ini

Hai. Selamat pagi.
Terimakasih sudah menyapa saya pagi ini dengan kabar yang menyakitkan.
Sesuatu yang... entah. Aku masih bingung harus bersyukur atas petir pagi hari ini atau malah memaki-maki. Tidak berlebihan bila aku menyebut pesanmu sebagai bencana yang memporak-porandakan semangat yang susah payah kususun sejak semalam. Aku masih normal. Masih bisa merasa ada sesuatu yang tidak beres denganmu. Balasan-balasanmu yang sedemikian singkat. Nada-nada datarmu yang tersirat. Merupakan petunjuk atas perasaanmu yang bayang-bayang negatifnya melekat kuat. Mestinya aku mempertanyakan semua itu. Harusnya, aku segera mencari tahu alasan yang mendasari perubahan bahasa tulismu.
Aku masih belum bisa memahami. Rasanya kemarin kita baik-baik saja. Tapi pagi ini segalanya berubah total. Hembusan angin pagi yang biasanya menyegarkan, mendadak bermutasi jadi jarum-jarum kecil sebelum menyapa kulit dan menyentak saraf. Senyum lebarku semalam ternyata juga tidak bertahan sampai hari ini menemui akhirnya. Haruskah bahagia berbalik jadi duka dalam tempo sesingkat itu?
Airmata sudah jelas jadi akibat pesanmu. Lagi, harus ada deraian dan senggukan yang mendampingi hari ini. Entah sudah yang keberapa kali. Sepertinya, rasa sakit, peluh, dan airmata perlu kumasukkan dalam daftar sehari-hari. Tak jemukah kamu, sayang? Kapan kamu berhenti memaksaku melewati hari-hari bersamamu dengan iringan pedih dan perih? Agaknya merupakan suatu kebanggaan tak terkira bagimu melihat wanita yang (katamu) berarti dalam hidup merasa bak tertusuk belati karena ia memperjuangkanmu sepenuh hati.
Kukira kamu sudah berubah. Kukira kamu sudah tak ingin menyandang gelar Tuan Egois. Satu-satunya pria yang kalemnya hanya bisa dinikmati ketika sedang menggores tawa. Kukira kamu dapat mengartikan kesempatan yang kuberikan dengan baik. Kukira, nasehat ayahku bisa kamu cerna dan laksanakan dengan rapi. Haruskah aku kecewa (lagi) karena pendapatku salah (lagi)?
Inikah balasanmu? Inikah cara kamu mengimbangi perjuangan seorang wanita yang rela segala sesuatunya dikorbankan demi sesosok lelaki, yang ternyata, pedulinya hanya berlaku saat ia bahagia? Mungkin perlu kuberikan tepuk tangan dan teriakan histeris paling keras dariku untuk kesaktianmu. Mungkin perlu kuberi penghargaan tertinggi untukmu, atas kelihaianmu mengendalikan hati manusia lain.
Kamu tahu? Napasku seakan tercekat dan aku harus merasakan ngilu luar biasa bahkan sebelum mataku selesai membaca pesanmu. Masih terlalu pagi buatku untuk siap menghadapi pedang itu.
Aku mempercayakan rasa ini untuk kamu. Aku percaya kamu bisa berubah. Aku percaya kamu sudah cukup dewasa untuk bertanggungjawab atas dirimu sendiri. Tapi, kepercayaan itu luruh dalam satu menit. Dan kamu yang menciptakan lelehan itu. Kamu yang membuat aku harus menatanya kembali. Meski tidak dari awal, tetap saja tak cukup satu hari untuk membereskan kepingan-kepingan hati. Kamu melecetinya lagi, sayang. Padahal luka lama itu belum benar-benar sembuh. Kini, kamu tusuk lagi pada tempat yang sama, kamu perdalam lagi goresannya.
Aku tahu, sayang. Aku tidak sempurna. Aku tidak  bisa menemanimu menghabiskan malam minggu bersama. Aku tidak bisa selalu hadir utuh bersama fisikku. Aku tak mampu membuat sosokku selalu nampak nyata di hadapanmu. Aku tidak mampu. Tapi mestinya balasanmu bukan begini, sayang. Ini terlalu menyakitkan. Hatiku tidak tercipta dari besi atau baja yang kebal terhadap tusukan. Hatiku tidak tercipta dari bongkahan es yang tahan disabet pedang.
Coba pikir, sayang. Wanita mana yang rela menunggu sekian lama demi kamu? Wanita mana yang rela jadi tempat sampah untuk semua amarahmu? Wanita mana yang mau mengubur emosimu satu persatu dalam hati dan menjaganya siang malam? Coba ingat-ingat lagi, sayang.
Aku tidak menuntut kamu untuk menjadi manusia dalam kriteriaku secara utuh dan penuh. Aku paham itu mustahil. Dan jujur, sesungguhnya aku benci ketika cemburu itu mulai menguasai hati. Aku hanya terlalu takut kamu akan meninggalkan segalaku ketika aku sedang terlalu cinta, dan di saat yang sama, aku jatuh.

Minggu, 15 Desember 2013

Dari Para Binatang

Dari elang, kita belajar keperkasaan
Dari rajawali, kita belajar keberanian
Dari harimau, kita belajar keuletan
Dari buaya, kita belajar kesetiaan
Dari merpati, kita belajar ketulusan
Dari kijang, kita belajar kepekaan
Dari cheetah, kita belajar kecepatan
Dari katak, kita belajar kekompakan
Dari tikus, kita belajar kecerdikan
Dari lalat, kita belajar kegesitan
Dari kupu-kupu, kita belajar keindahan
Dari lebah, kita belajar mengambil keputusan
Dari tarantula, kita belajar ketahanan
Dari belalang sembah, kita belajar kesabaran
Dari iguana, kita belajar ketenangan
Dari gajah, kita belajar kesetiakawanan
Dari semut, kita belajar kepatuhan
Dari kuda, kita belajar kekuatan
Dari nyamuk, kita belajar keheningan
Dari ikan angler, kita belajar diam

Dari TUHAN, kita belajar segalanya

Selasa, 05 November 2013

Ucapkan Selamat Tinggal

Menyedihkan, ya. Ternyata selama ini saya sudah membuang banyak waktu, pikiran, tenaga, hati, dan airmata untuk memperjuangkan manusia yang salah: kamu. Sungguh, saya tidak tahu apa yang harus saya katakan, saya tidak bisa memutuskan apa yang harus saya sampaikan untuk menanggapi pengakuanmu yang gila itu. Mungkin saya tidak punya cukup pengetahuan untuk memahami secara penuh dunia yang kamu akui menjadi duniamu selama ini. Tapi saya tidak dungu. Setidaknya saya bisa mengira-ira, dunia macam apa yang menjadi tempatmu hidup selama ini. Dan kamu tahu? Dunia yang kamu jabarkan tadi adalah salah satu dunia yang paling saya hindari.

Jujur, saya tidak menyangka, semua yang saya percayai akan berbalik menusuk saya dalam-dalam. Marah, sedih, kecewa, dan banyak rasa sakit menggunung hingga sulit bagi saya untuk mengungkapkannya pada orang lain. Rasa-rasanya saya ingin memaki-maki diri saya sendiri. Saya merasa bodoh. Saya merasa tolol luar biasa atas semua ini. Entahlah, sebuta apa saya hingga saya tidak bisa merasakan ada sesuatu berbeda dari kamu, dan itu buruk.

Maaf, tapi saya harus mengatakan ini. Saya (sedikit) menyesal telah mengenal dan memperjuangkan kamu. Saya (sedikit) menyesal telah mempercayai kamu, dan menganggap kamu adalah manusia terbaik yang pantas ada di pikiran dan hati saya setiap hari. Saya (sedikit) menyesal, mengingat selama ini sudah terlalu banyak hal yang saya lengserkan demi bertahannya jabatanmu di benak saya. Saya jijik. Saya malu. Selama ini saya selalu memberi tanggapin pedas untuk manusia-manusia yang hidupnya berantakan. Tapi ternyata, justru orang yang dekat dengan saya punya dunia seperti itu, dan itu diluar sepengetahuan saya!

Kamu munafik! Jahat! Penghianat! Pembohong! Pembunuh perasaan!

Saya benci berkata demikian, tapi itulah kenyataan yang ada. Itulah kenyataan yang tiba-tiba datang lalu tanpa basa-basi mencabik-cabik perasaan saya. Saya masih ingat, kamu pernah bilang kalau kamu ingin mengubah salah satu penggermarmu agar dia bisa menjadi lebih baik. Tadinya saya percaya. Saya kagum, merasa beruntung bisa mengenal lelaki sebaik kamu. Tapi tahukah kamu? Anggapan saya porak-poranda dalam waktu kurang dari lima menit. Pengakuan yang mengejutkan itu bermutasi jadi tornado berkekuatan tinggi yang meluluhlantakkan segala rasa sayang, cinta, juga percaya yang ada dalam hati saya. Kamu tahu? Butuh banyak hal untuk membuat perasaan itu bertahan sekian lama! Dan kamu menghancurkan semuanya. Semuanya. Rasa yang saya perjuangkan juga saya jaga selama ini.

Kalau saya boleh memilih, saya merasa lebih baik saya tidak pernah mengenal, jatuh cinta, dan pada akhirnya memperjuangkan kamu. Atau, kalau saya harus tetap mengenal dan jatuh cinta padamu, saya pilih kita berpisah di tengah jalan. Agar saya tidak perlu merasakan sakit yang teramat seperti ini.

Maka, pergilah. Pergi jauh-jauh dan tolong jangan kembali. Carilah saja wanita yang cocok bersanding denganmu. Lupakan kalau kita pernah saling mengenal dan pernah saling percaya. Lupakan segala mimpi yang pernah kita susun bersama. Lupakan setiap waktu, saat kita bisa saling berbagi satu sama lain. Lupakan! Buang jauh-jauh! Dan jangan pernah mengharapnya kembali. Saya sudah terlalu sabar dan kini jangan pernah punya pikiran, kalau saya akan percaya sepenuhnya lagi pada kamu. Jangan harap saya akan sebaik dulu. Saya lelah! Dan kali ini saya memaksa kamu untuk memahami.

Maaf kali ini diksi saya benar-benar berantakan. Pikiran saya terlalu berkecamuk. Terlalu banyak hal yang minta bisa keluar cepat. Yang saya pikirkan hanya bagaimana semua hal yang memenuhi otak saya bisa tersampaikan secara tertulis. Itu saja.


Terimakasih karena pada akhirnya kamu memilih mengakui segala khilafmu.
Terimakasih karena pada akhirnya kamu bisa mengatakan duniamu yang sebenarnya.
Terimakasih untuk sekian banyak rasa sakit yang kamu berikan.
Terimakasih sudah membuat saya menyayangimu dengan segenap yang saya punya.
Terimakasih sudah menjadi pembohong dan penghianat yang handal.
Terimakasih sudah mengecewakan saya dengan begitu baik.
Terimakasih,
andai tanpa kamu, mungkin saya tidak akan percaya,
ada manusia yang tega menyimpan kebohongan besar selama lebih dari dua tahun.


Ucapkan selamat tinggal, tuan.
Karena mungkin, saya tidak akan memilih untuk kembali.